Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Penetapan ini lahir melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, sebagai bentuk penghargaan negara atas peran besar santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.
Sejak saat itu, setiap tahun, pesantren dan masyarakat luas merayakannya dengan berbagai kegiatan: apel akbar, kirab budaya, hingga lomba-lomba bernuansa keislaman.
Tahun ini berarti memasuki peringatan satu dekade Hari Santri. Tentu ini bukan sekadar momen simbolik, melainkan momentum strategis bagi bangsa ini untuk menegaskan peran santri dan pesantren dalam pembangunan nasional secara nyata, bukan retorika.
Namun, setelah satu dekade berjalan, muncul pertanyaan penting: sejauh mana peringatan Hari Santri benar-benar memberi dampak bagi penguatan kualitas santri dan pesantren?
Harus diakui, sebagian besar perayaan masih cenderung berhenti pada tataran seremoni. Semarak memang terasa, tetapi kontribusi nyata terhadap peningkatan kapasitas santri di era digital, disruptif, dan 5.0 masih belum optimal. Padahal, biaya, energi, dan perhatian yang dikerahkan untuk peringatan Hari Santri tidaklah kecil.
Di titik inilah evaluasi menjadi penting. Hari Santri seharusnya tidak sekadar menjadi panggung seremonial, melainkan momentum strategis untuk mendorong santri menjadi garda depan yang riil dalam pembangunan bangsa.
Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma: “dari seremoni tahunan menuju gerakan transformasi yang berkelanjutan”.
Hari Santri Sebagai Gerakan Nasional
Bayangkan jika setiap peringatan Hari Santri bukan hanya tentang apel akbar, melainkan juga menjadi titik awal gerakan strategis dengan meluncurkan program-program besar, misalnya:
- Santri Digital Academy yang membekali santri dengan keterampilan coding, desain, dan literasi media;
- Santripreneur Hub yang menghubungkan ide bisnis santri dengan investor;
- Santri Research Forum yang mendorong lahirnya karya tulis dan penelitian dari rahim pesantren;
- Santri Overseas Study yang membuka jalan bagi santri untuk sebanyak-banyaknya studi ke luar negeri melalui jalur beasiswa, kerjasama atau prestasi.
Dengan begitu, Hari Santri bisa menjelma sebagai motor penggerak lahirnya santri yang unggul, mandiri, dan siap bersaing di tingkat global. Pesantren bukan lagi hanya menjadi pusat pengkaderan ulama, tetapi juga laboratorium kepemimpinan, wirausaha, dan inovasi sosial.
Menjawab Tantangan Era 5.0
Kita sedang hidup di era teknologi yang bergerak begitu cepat. Dunia digital, kecerdasan buatan atau AI, dan disrupsi ekonomi menuntut siapa saja, termasuk santri, untuk beradaptasi. Jika tidak adaptif, maka santri hanya akan menjadi penonton dalam percaturan global.
Hari Santri dapat menjadi jawaban. Momentum ini bisa juga diarahkan untuk memperkuat literasi digital santri, membuka ruang kolaborasi dengan kampus, industri, dan komunitas kreatif.
Pesantren bisa menjadi pusat gerakan lingkungan, pusat produksi konten dakwah kreatif, hingga pusat pengembangan ekonomi berbasis teknologi.
Semua itu bisa dimulai atau diwujudkan dari keberanian untuk menjadikan Hari Santri sebagai agenda strategis, bukan sekadar seremoni tahunan.
Dari Simbol ke Aksi Nyata
Tentu saja, perubahan ini memerlukan kemauan kuat dan langkah konkret:
- Pertama, harus ada desain program tahunan yang jelas, dengan indikator keberhasilan yang terukur.
- Kedua, kolaborasi harus diperluas, tidak hanya melibatkan pesantren dan ormas Islam, tetapi juga pemerintah, industri, dan masyarakat luas.
- Ketiga, semangat kebersamaan harus dijaga: Hari Santri bukan milik sekelompok orang, melainkan milik bangsa.
Dengan cara itu, setiap rupiah yang dikeluarkan, setiap energi yang dicurahkan, dan setiap doa yang dipanjatkan pada Hari Santri benar-benar bermakna.
Santri tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan, tetapi juga diakui sebagai agen perubahan masa depan.
Hari Santri adalah anugerah sejarah. Tetapi lebih dari itu, ia adalah panggilan untuk bergerak. Kita tidak boleh puas dengan euforia seremonial yang berulang setiap tahun tanpa meninggalkan bekas.
Yang kita butuhkan adalah terobosan nyata: santri yang literat, kreatif, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai Qur’an dan tradisi pesantren.
Jika kita mampu menjadikan Hari Santri menjadi momentum transformasi, maka dari pesantren akan lahir generasi pemimpin bangsa yang bukan hanya alim dalam agama, tetapi juga cakap dalam teknologi, tangguh dalam wirausaha, dan bijak dalam memimpin masyarakat. Dari santri untuk negeri, dari pesantren untuk peradaban dunia. (*)
Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.
