Editor's PicksInfo PesantrenKail (Kajian Ilmu)Pendidikan

Mengapa Ada Pesantren Sepi Peminat, Sementara yang Lain Diserbu Pendaftar?

Pesantren Hari ini Memasuki Era Kompetisi Mutu

Musim Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun ini menyisakan sebuah ironi sekaligus pelajaran penting bagi dunia pesantren. Di berbagai daerah, terdapat pondok pesantren yang kesulitan memperoleh santri baru. Bahkan, ada yang hingga masa pendaftaran berakhir tidak mendapatkan santri sama sekali.

Pada saat yang sama, tidak sedikit pesantren yang justru kebanjiran peminat. Kuotanya habis dalam waktu singkat. Orang tua rela mengantre sejak dini hari, bahkan bersedia menunggu berbulan-bulan dalam daftar waiting list.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah minat masyarakat terhadap pesantren sedang menurun?

Jawabannya justru sebaliknya. Minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren tetap tinggi, bahkan terus meningkat. Yang berubah bukanlah minatnya, melainkan standar masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan.

Hari ini, pesantren telah memasuki era baru, yakni era kompetisi mutu.

Pergeseran Cara Pandang Orang Tua

Dua atau tiga dekade lalu, pilihan orang tua terhadap pesantren lebih banyak dipengaruhi faktor emosional. Mereka memondokkan anak karena menjadi alumni pesantren tersebut, karena menghormati seorang kiai, karena mengikuti tradisi keluarga, atau sekadar karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal.

Kini pola pikir itu berubah secara fundamental.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku masyarakat dalam mengambil keputusan. Sebelum mendaftarkan anak, orang tua mencari informasi dari berbagai sumber. Mereka membuka situs web pesantren, mengikuti akun media sosialnya, menonton video kegiatan santri, membaca testimoni alumni, hingga berdiskusi di berbagai komunitas daring.

Mereka tidak lagi mudah percaya pada slogan. Mereka ingin melihat bukti.

Orang tua ingin mengetahui kualitas guru, sistem pembelajaran, budaya disiplin, prestasi santri, kualitas lulusan, kemampuan bahasa asing, penguasaan teknologi, hingga rekam jejak alumni setelah meninggalkan pesantren.

Pertanyaan mereka sederhana, tetapi sangat menentukan:

Apakah pesantren ini benar-benar mampu menyiapkan masa depan anak saya?

Pendidikan Adalah Investasi Masa Depan

Kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan semakin tinggi. Mereka memahami bahwa dunia yang akan dihadapi anak-anak mereka jauh lebih kompleks dibandingkan dunia yang mereka alami dahulu.

Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), otomatisasi, ekonomi berbasis pengetahuan, dan persaingan global telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan.

Banyak jenis pekerjaan akan hilang. Banyak profesi baru akan lahir. Kompetensi yang dibutuhkan sepuluh tahun mendatang pun berbeda dengan hari ini.

Karena itu, orang tua tidak ingin masa belajar anaknya terbuang sia-sia. Mereka tidak ingin anak mengalami learning loss, yakni kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan terbaik karena berada di lembaga yang gagal mengikuti perkembangan zaman.

Bagi mereka, enam tahun belajar di pesantren merupakan investasi yang sangat mahal. Investasi itu harus menghasilkan lulusan yang memiliki bekal lengkap untuk menghadapi masa depan.

Pesantren Tidak Cukup Mengajarkan Agama Saja

Harus diakui bahwa kekuatan utama pesantren tetap terletak pada pendidikan agama, pembentukan akhlak, penguatan akidah, dan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Namun, dunia hari ini menuntut lebih dari itu.

Masyarakat menginginkan pesantren yang mampu melahirkan santri yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai sains.

Mampu membaca kitab kuning sekaligus fasih berbahasa Arab dan Inggris.

Memiliki akhlak mulia sekaligus menguasai teknologi digital.

Mampu berdakwah di mimbar sekaligus berdakwah melalui media sosial.

Mampu menjadi imam di masjid sekaligus menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan.

Inilah wajah santri yang dibutuhkan Indonesia pada abad ke-21.

Nama Besar Tidak Lagi Menjadi Jaminan

Perubahan perilaku masyarakat juga membawa konsekuensi lain.

Nama besar pesantren, sejarah panjang, ataupun kharisma seorang pengasuh tetap memiliki nilai. Namun, semuanya tidak lagi menjadi jaminan utama.

Kepercayaan masyarakat kini dibangun oleh kualitas yang dapat dibuktikan.

  • Prestasi akademik.
  • Prestasi nonakademik.
  • Budaya disiplin.
  • Profesionalisme pengelolaan.
  • Kualitas pelayanan.
  • Kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

Semuanya menjadi bagian dari ukuran mutu yang dinilai masyarakat.

Di era digital, reputasi dibangun setiap hari. Apa yang dilakukan pesantren akan cepat diketahui publik. Pesantren yang mampu menunjukkan kualitas akan semakin dipercaya. Sebaliknya, pesantren yang stagnan perlahan akan kehilangan daya tarik.

Saatnya Membangun Budaya Mutu

Fenomena sepinya sebagian pesantren tidak boleh hanya disikapi dengan memperbanyak promosi atau memasang spanduk penerimaan santri baru.

Persoalannya jauh lebih mendasar.

Yang harus dibangun adalah budaya mutu. Budaya mutu berarti seluruh unsur pesantren memiliki komitmen untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan. Guru terus belajar. Kurikulum terus diperbarui. Manajemen semakin profesional. Pelayanan semakin baik. Teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Budaya mutu juga berarti tidak pernah merasa puas dengan pencapaian hari ini.

Pesantren harus selalu bertanya, apa yang harus diperbaiki agar tahun depan lebih baik daripada tahun ini?

Lima Pilar Pesantren Masa Depan

Pesantren yang akan memenangkan kepercayaan masyarakat adalah pesantren yang mampu memadukan lima keunggulan sekaligus.

Pertama, keunggulan diniyah sebagai fondasi utama.

Kedua, keunggulan akademik agar santri mampu bersaing di perguruan tinggi maupun dunia kerja.

Ketiga, keunggulan global melalui penguasaan bahasa asing dan wawasan internasional.

Keempat, keunggulan karakter berupa integritas, kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Kelima, keunggulan teknologi sehingga santri tidak menjadi penonton di era digital, melainkan menjadi pelaku dan inovator.

Kelima unsur tersebut bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Momentum Berbenah

Fenomena musim penerimaan santri tahun ini sesungguhnya merupakan cermin bagi seluruh pengelola pesantren.

Masyarakat tidak sedang meninggalkan pesantren. Masyarakat justru semakin percaya bahwa pesantren mampu menjadi tempat terbaik untuk membentuk karakter generasi muda.

Namun, kepercayaan itu hanya akan diberikan kepada pesantren yang mampu membuktikan kualitasnya.

Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, organisasi ini sangat ditunggu perannya dalam memajukan pesantren. Pesantren hari ini dituntut tidak hanya menjaga warisan ulama, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang siap memimpin masa depan. Generasi yang kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, unggul teknologinya, kuat daya saingnya, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Pada akhirnya, masyarakat tidak lagi bertanya siapa pendiri pesantren, seberapa tua usianya, atau seberapa luas lahannya. Yang mereka tanyakan adalah satu hal: apakah pesantren ini mampu mengantarkan anak-anak kami menjadi pribadi yang saleh, cerdas, adaptif, dan siap menghadapi masa depan?

Pesantren yang mampu menjawab pertanyaan itulah yang akan terus dipenuhi santri. Sebaliknya, pesantren yang gagal membaca perubahan zaman akan semakin kehilangan kepercayaan masyarakat. Bukan karena pesantren telah kehilangan relevansinya, melainkan karena masyarakat kini menempatkan mutu sebagai pertimbangan utama dalam memilih pendidikan terbaik bagi putra-putri mereka. (SN)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts