Aspirasi SantriEditor's PicksInfo PesantrenKaderisasiMasyayikh

Tantangan PCNU OKU Timur: Potensi Besar Jangan Hanya Menjadi Cerita

Konferensi Cabang (Konfercab) V Nahdlatul Ulama Kabupaten OKU Timur telah selesai. Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah untuk masa khidmat 2026–2031 telah terpilih. Proses demokrasi organisasi telah melahirkan kepemimpinan baru.

Kini, yang ditunggu bukan lagi siapa yang memimpin, melainkan apa yang akan dikerjakan.

Bagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, pergantian kepengurusan tidak boleh dimaknai sekadar pergantian nama dalam struktur organisasi. Kepemimpinan baru harus menjadi titik awal perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara melayani umat. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kepengurusan bukanlah seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

PCNU OKU Timur sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Tidak banyak kabupaten di Sumatera Selatan yang memiliki kekuatan sosial, pendidikan, ekonomi, dan keagamaan selengkap OKU Timur. Daerah ini berkembang cukup pesat dari sisi infrastruktur, memiliki sektor pertanian, perikanan dan perkebunan yang kuat, serta dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Sumatera Selatan.

Bahkan, OKU Timur telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, khususnya dalam produksi beras. Ribuan hektar sawah produktif menjadi penyangga ketahanan pangan, bukan hanya bagi Sumatera Selatan, tetapi juga bagi Indonesia.

Di sisi lain, OKU Timur juga merupakan salah satu daerah dengan potensi perikanan air tawar terbesar di Sumatera Selatan. Budidaya ikan air tawar berkembang di banyak kecamatan dan menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga.

Dua sektor tersebut merupakan kekuatan ekonomi rakyat yang sangat strategis dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Keberadaan sekitar 150 pondok pesantren adalah kekuatan lain yang luar biasa, jumlah ini juga merupakan jumlah terbanyak di provinsi ini. Di dalamnya terdapat ribuan santri, ratusan kiai, ustadz, dan tenaga pendidik yang setiap hari membangun karakter generasi muda.

Di wilayah ini, tumbuh pula berbagai perguruan tinggi, mulai dari Universitas Nurul Huda (UNUHA), STIT NU, Universitas Muhammadiyah, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, STIT Mambaul Ulum, STIT Darul Huda, STIS Subulussalam, hingga lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang terus melahirkan sumber daya manusia terdidik.

Semua itu merupakan modal yang tidak dimiliki banyak daerah.

Namun sejarah mengajarkan satu hal yang sederhana: potensi tidak pernah bisa bekerja sendirian.

Banyak organisasi memiliki anggota yang besar, tetapi tidak memiliki pengaruh. Banyak daerah memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi tetap tertinggal. Banyak lembaga dipenuhi orang-orang cerdas, tetapi gagal melahirkan karya besar. Penyebabnya bukan karena kekurangan potensi, melainkan karena tidak adanya kepemimpinan yang mampu mengelola potensi tersebut menjadi gerakan yang terarah.

Di sinilah tantangan utama PCNU OKU Timur. Apalagi jika dikaitkan dengan tekad atau visi Ketua PCNU yang baru saja terpilih, ia ingin NU OKU Timur menjadi organisasi yang profesional, bukan yang pintar membuat proposal.

Kepengurusan baru tidak boleh terjebak dalam rutinitas organisasi. Terlalu banyak organisasi yang menghabiskan energi untuk rapat, pelantikan, kunjungan, seremoni, dan dokumentasi kegiatan, tetapi minim dampak terhadap masyarakat. Aktivitas memang berjalan, tetapi perubahan tidak terjadi.

NU tidak didirikan untuk menjadi organisasi yang sekadar sibuk. NU lahir sebagai gerakan ulama yang mengabdikan diri untuk membangun umat, mencerdaskan masyarakat, memperkuat ekonomi rakyat, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, seluruh program organisasi harus kembali kepada tujuan tersebut.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah keinginan mengerjakan terlalu banyak program sekaligus. Semua bidang ingin disentuh. Semua kegiatan dianggap prioritas. Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi unggulan. Energi organisasi terpecah, sumber daya terkuras, sementara hasilnya sulit diukur.

PCNU OKU Timur perlu menghindari pola seperti itu. Kepemimpinan yang baik bukanlah kepemimpinan yang memiliki program paling banyak, melainkan kepemimpinan yang mampu menentukan program paling penting. Menyusun skala prioritas bukan berarti mengabaikan bidang lain, tetapi memastikan bahwa organisasi memiliki fokus yang jelas sehingga setiap langkah dapat diukur keberhasilannya.

Sebagai contoh, prioritas pertama yang dapat segera dikerjakan adalah membangun Program Kemandirian Ekonomi Warga NU Berbasis Pertanian dan Perikanan.

NU tidak harus menjadi pelaku usaha, tetapi menjadi penghubung (connecting hub) antara petani, kelompok pembudidaya ikan, pesantren, perguruan tinggi, pemerintah daerah, perbankan, dan dunia usaha. PCNU dapat memfasilitasi pelatihan, pendampingan, akses pembiayaan, hilirisasi produk, hingga pemasaran.

Jika hal itu dilakukan secara serius, NU tidak hanya hadir dalam ceramah keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari peningkatan kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan yang merupakan mayoritas warga OKU Timur.

Prioritas kedua adalah membangun Pusat Data dan Pemetaan Potensi Warga NU OKU Timur. Organisasi sebesar NU tidak boleh bekerja berdasarkan perkiraan. Harus diketahui secara akurat berapa jumlah pesantren, guru, dosen, dokter, pengusaha, petani, nelayan air tawar, pelaku UMKM, profesional, serta potensi ekonomi yang dimiliki warga Nahdliyin di setiap kecamatan.

Data itulah yang kemudian menjadi dasar penyusunan seluruh program organisasi. Dengan data yang kuat, setiap kebijakan akan lebih tepat sasaran, lebih mudah dievaluasi, dan memiliki dampak yang nyata.

Setiap program harus memiliki target yang spesifik, indikator yang terukur, waktu pelaksanaan yang jelas, penanggung jawab, serta mekanisme evaluasi yang objektif. Dengan demikian, organisasi tidak bekerja berdasarkan rutinitas, tetapi berdasarkan capaian. Tidak bergerak karena kebiasaan, melainkan karena tujuan.

Pengurus baru tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk beradaptasi. Lima tahun masa khidmat bukanlah waktu yang panjang. Pengalaman banyak organisasi menunjukkan bahwa tahun pertama sering habis untuk konsolidasi, tahun kedua masih menyusun program, tahun ketiga baru mulai berjalan optimal, sedangkan dua tahun terakhir sudah diwarnai berbagai dinamika baru. Akibatnya, masa kepengurusan berakhir tanpa menghasilkan lompatan yang berarti.

Karena itu, pekerjaan pertama yang harus dilakukan bukan memperbanyak agenda seremonial, melainkan memetakan seluruh potensi yang dimiliki NU di OKU Timur. Organisasi yang besar harus bekerja berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Di era sekarang, NU juga dituntut berani keluar dari pola lama, harus berani out of the box. Tantangan umat tidak lagi hanya berkisar pada persoalan ibadah dan pendidikan agama. Ada persoalan kemiskinan, pengangguran, kualitas sumber daya manusia, digitalisasi, ketahanan pangan, ekonomi kreatif, hingga kecerdasan buatan yang mulai mengubah wajah kehidupan. NU harus hadir sebagai bagian dari solusi, bukan hanya sebagai penonton perubahan.

Potensi 150 an pesantren, jaringan majelis taklim, badan otonom, perguruan tinggi, dan jutaan jejaring sosial Nahdliyin di OKU Timur harus mampu diintegrasikan menjadi kekuatan pemberdayaan umat. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi. Perguruan tinggi tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menghasilkan riset yang menjawab persoalan daerah. Pemuda NU tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi menjadi motor inovasi dan transformasi digital organisasi.

Semua itu hanya mungkin terjadi apabila kepemimpinan berani berpikir lebih jauh daripada rutinitas lima tahunan, berfikir out of the box.

Pada akhirnya, masyarakat tidak akan menilai PCNU dari banyaknya rapat yang diselenggarakan atau padatnya kalender kegiatan. Masyarakat akan menilai dari perubahan yang mereka rasakan.

Apakah petani memperoleh pendampingan? Apakah pembudidaya ikan semakin berkembang? Apakah santri memiliki kesempatan yang lebih luas? Apakah UMKM tumbuh lebih kuat? Apakah kualitas pendidikan meningkat? Apakah warga NU semakin mandiri secara ekonomi? Apakah organisasi benar-benar hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan?

Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Kepengurusan PCNU OKU Timur periode 2026–2031 mengelola organisasi besar di daerah yang memiliki hampir seluruh modal untuk maju. Modal pendidikan ada. Modal keagamaan ada. Modal sosial ada. Modal ekonomi ada. Modal sumber daya manusia juga ada.

Yang kini dibutuhkan adalah keberanian menetapkan arah, kedisiplinan menjalankan prioritas, dan keteguhan mengawal setiap program hingga menghasilkan dampak nyata.

Potensi besar adalah amanah, bukan kebanggaan. Ia baru memiliki makna ketika mampu diubah menjadi prestasi, kemajuan, dan kesejahteraan bagi umat. Jika tidak, maka seluruh potensi itu hanya akan menjadi cerita yang terus diulang pada setiap pergantian kepengurusan, tanpa pernah benar-benar mengubah wajah Nahdlatul Ulama maupun masyarakat yang dilayaninya. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts