Di kalangan warga nahdliyin, ada kegelisahan yang semakin sering terdengar: mengapa elit-elit NU lebih sibuk mempertontonkan konflik rebutan jabatan dan pengaruh daripada mengurusi persoalan umat di bawah?
Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada satu orang saja. Pertanyaan ini layak diajukan kepada seluruh tokoh besar NU, baik yang masih aktif maupun yang pernah memimpin organisasi.
Nama-nama seperti KH. Yahya Cholil Staquf, Saifullah Yusuf, KH. Miftachul Akhyar, KH. Ma’ruf Amin, maupun KH. Said Aqil Siradj, dan yang lainnya; semuanya perlu bercermin pada pernyataan mendasar berikut:
NU tidak butuh mereka, tetapi justru merekalah yang butuh NU!
Pernyataan ini mungkin terasa keras, tetapi penting untuk diajukan sebagai bentuk cinta kepada jam’iyah.
Faktanya, NU telah ada jauh sebelum mereka memegang jabatan. NU sudah hidup sebelum mereka dikenal publik. NU akan tetap ada meski mereka tidak lagi menjabat.
Sebaliknya, harus diakui bahwa sebagian besar ketokohan nasional para elite NU tersebut tidak bisa dilepaskan dari NU itu sendiri. Masyarakat mengenal mereka karena NU. Media mengundang mereka karena posisi mereka di NU. Mereka dihormati karena berdiri di atas sejarah, tradisi, jaringan pesantren, jutaan jamaah, dan keberkahan para ulama NU.
Tanpa semua itu, mereka hanyalah individu biasa seperti yang lain.
Karena itu, jabatan di NU seharusnya melahirkan rasa syukur dan kerendahan hati, bukan perasaan memiliki organisasi.
Kekecewaan warga NU bukan muncul karena perbedaan pilihan atau dinamika organisasi. Perbedaan adalah hal biasa. Yang membuat prihatin adalah ketika NU terkesan lebih sibuk dengan konflik elite daripada penguatan pemberdayaan umat.
Ketika warga di ranting dan cabang bergotong royong membangun madrasah, mengurus masjid, menghidupkan majelis taklim, dan membiayai kegiatan dengan uang pribadi, mereka berharap para pemimpin di atas memberikan keteladanan.
Namun yang terjadi justru polemik, saling sindir, persaingan pengaruh, dan pertarungan kelompok. Jika kondisi seperti ini terus berulang, maka yang terluka bukan para elite. Yang terluka adalah kepercayaan jamaah.
Jabatan Bukan Warisan
Para tokoh NU perlu mengingat bahwa jabatan bukan warisan keluarga, bukan milik kelompok, dan bukan hak istimewa yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Jabatan adalah amanah.
Hari ini seseorang menjadi ketua.
Besok ia menjadi mantan ketua.
Hari ini seseorang menjadi rais.
Besok ia hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Yang akan dikenang bukan lamanya menjabat.
Yang akan dikenang adalah apa yang diperjuangkan selama menjabat.
Belajar dari Para Pendiri
Jika para elite NU benar-benar ingin bermuhasabah, maka mereka perlu bertanya:
Apa yang akan dikatakan oleh Mbah Hasyim Asy’ari jika melihat NU hari ini?
Apa yang akan dikatakan oleh Mbah Kholil Bangkalan jika melihat energi organisasi habis untuk urusan elite?
Apakah para pendiri mendirikan NU untuk alat perebutan posisi?
Ataukah mereka mendirikannya sebagai sarana khidmat kepada umat?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ditujukan untuk menghakimi siapa pun. Pertanyaan ini adalah cermin bagi semua pihak. Karena sebesar apa pun nama seseorang di NU, pada akhirnya sejarah akan mencatat satu hal:
Siapa yang mengabdi kepada NU, dan siapa yang memanfaatkan NU.
NU tidak dibangun oleh satu ketua umum.
NU tidak dibangun oleh satu rais aam.
NU dibangun oleh ribuan kiai kampung yang namanya tidak pernah masuk televisi, oleh para guru ngaji yang tidak pernah diwawancarai media, oleh pengurus ranting yang mengurus organisasi tanpa gaji, dan oleh jutaan jamaah yang setia menjaga tradisi ahlussunnah wal jamaah dari generasi ke generasi.
Mereka itulah fondasi sesungguhnya NU.
Karena itu, siapa pun yang memimpin NU hari ini seharusnya datang untuk berkhidmat, bukan untuk merasa memiliki. Sebab ketika seorang pemimpin mulai merasa bahwa NU adalah miliknya, saat itulah ia sedang menjauh dari ruh perjuangan para pendiri NU. (Gus Damas Alhasy/SN)
