Workshop Nasional Dorong Transformasi Pesantren Menuju Pendidikan Kelas Dunia
Cirebon – Fenomena menurunnya jumlah santri baru di sejumlah pondok pesantren dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian berbagai kalangan. Namun, kondisi tersebut bukan berarti minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren menurun.
Yang terjadi adalah pergeseran pilihan masyarakat dari pesantren yang berjalan secara konvensional menuju pesantren yang mampu menawarkan kualitas pendidikan yang unggul, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan memiliki jaminan masa depan bagi para alumninya.
Pesantren yang mampu mengintegrasikan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, dan keterampilan hidup justru mengalami peningkatan jumlah santri secara signifikan. Sebaliknya, pesantren yang enggan bertransformasi mulai ditinggalkan oleh masyarakat.
Realitas tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Workshop Nasional Strategi Pesantren Meningkatkan Kuantitas Santri melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan yang diikuti para kiai dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Indonesia.
Workshop ini tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi berupaya membangun paradigma baru dalam pengelolaan pesantren. Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa untuk melakukan perubahan besar tidak cukup hanya memiliki pengetahuan atau wawasan. Yang jauh lebih penting adalah power, yaitu kemampuan untuk mewujudkan perubahan menjadi kenyataan.
Karena itu, sasaran utama workshop adalah para kiai dan pengasuh pesantren sebagai pemegang kebijakan tertinggi di lembaga pendidikan. Mereka diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan pesantren yang profesional, unggul, inovatif, dan kompetitif hingga mampu bersaing pada level nasional maupun internasional.
Harapan besarnya, lahir para kiai yang memiliki visi kepemimpinan modern sehingga mampu mencetak santri-santri berkualitas yang kelak mengisi berbagai posisi strategis di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, teknologi, maupun berbagai sektor pembangunan bangsa.
Setiap Perubahan Zaman Membutuhkan SDM yang Berbeda
Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani, dalam arahannya saat sesi pembukaan menegaskan bahwa setiap perubahan zaman selalu membutuhkan sumber daya manusia dengan kualitas, kompetensi, dan integritas yang berbeda.
Menurutnya, workshop ini bertujuan memberikan insight kepada para pengasuh pesantren agar mampu membaca arah perubahan dunia sehingga pesantren tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Dulu masyarakat bertanya hampir semua persoalan kepada kiai kampung. Hari ini dunia telah berubah. Muncul sekolah tanpa kelas, belajar tanpa guru, sementara telepon genggam telah menjadi sumber informasi, pendidikan, bisnis, bahkan keilmuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi digital saat ini didominasi oleh sektor kuliner, fashion, serta travel dan pariwisata. Oleh karena itu, pesantren harus mulai memikirkan posisi dan perannya agar dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Menurut Ahmad Muzani, santri masa depan tidak cukup hanya menjadi ahli agama. Mereka harus mampu hadir sebagai solusi konkret bagi berbagai persoalan masyarakat, menguasai berbagai disiplin ilmu, mampu beradaptasi dengan teknologi, serta memiliki kapasitas memimpin di berbagai bidang kehidupan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pesantren tetap memiliki fungsi utama sebagai penjaga kesinambungan ilmu, akhlak, dan nilai-nilai keislaman di tengah derasnya arus disrupsi digital.
Berubah atau Tertinggal
Penggagas sekaligus pemateri workshop, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., menjelaskan bahwa program workshop transformasi pesantren ini telah dimulai sejak Juni 2025 dengan target menjangkau 5.000 pondok pesantren di seluruh Indonesia.
Menariknya, seluruh materi workshop disampaikan langsung oleh KH Imam Jazuli sebagai pemateri tunggal selama lebih dari lima belas jam, mulai pukul 08.00 hingga 23.30. Dengan energi yang tetap prima, beliau memaparkan berbagai strategi praktis mengenai transformasi pesantren agar mampu memenangkan persaingan di era disrupsi.
Menurutnya, perubahan bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
“Era ini adalah era disrupsi. Siapa yang tidak siap akan terhempas. Siapa yang menolak perubahan, pasti akan tertinggal.”
Ia kemudian memberikan contoh nyata bagaimana perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Nokia, BlackBerry, Kodak, dan Fuji akhirnya kehilangan kejayaannya karena terlambat beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
“Kalau perusahaan sebesar itu saja bisa tumbang, maka dunia pendidikan pun bisa mengalami hal yang sama apabila tidak melakukan inovasi.”
KH Imam Jazuli kemudian mengingatkan pentingnya mengamalkan kaidah pendidikan Islam yang sangat populer:
Al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.
Menurutnya, banyak lembaga pendidikan hanya menjalankan bagian pertama, yaitu mempertahankan tradisi lama yang baik, tetapi melupakan bagian kedua, yaitu mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
“Inilah saatnya pesantren menjaga tradisi, tetapi pada saat yang sama berani melakukan inovasi.”
Ia juga menyoroti semakin menurunnya loyalitas masyarakat terhadap satu lembaga pendidikan. Orang tua kini memilih pesantren berdasarkan kualitas layanan, sistem pendidikan, prestasi alumni, serta peluang masa depan yang ditawarkan kepada anak-anak mereka.
Karena itu, para pengasuh pesantren diminta berani mengubah pola pikir serta merevolusi sistem, metode, dan pendekatan pendidikan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Orientasi Baru: Alumni Pesantren Harus Mendunia
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian besar dalam workshop ini adalah dorongan agar pesantren mulai memiliki orientasi global dalam membina para santrinya.
KH Imam Jazuli menegaskan bahwa keberhasilan pesantren tidak boleh hanya diukur dari banyaknya alumni yang menjadi kiai atau guru agama. Pesantren juga harus mampu mengantarkan alumninya melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia.
“Pesantren harus mulai bercita-cita mengirimkan alumninya kuliah ke luar negeri. Kita ingin lahir ulama yang menguasai ilmu agama sekaligus ilmuwan, akademisi, diplomat, pengusaha, teknokrat, dan pemimpin bangsa yang memiliki wawasan internasional namun tetap berakhlak pesantren,” ujarnya.
Dalam workshop tersebut, KH Imam Jazuli memaparkan secara detail dan praktis strategi yang selama ini diterapkan di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia dalam mempersiapkan santri menembus berbagai perguruan tinggi dunia.
Materi yang disampaikan meliputi pembinaan bahasa asing, penguatan akademik, pemetaan potensi santri, persiapan administrasi, strategi memperoleh beasiswa, hingga membangun jejaring internasional dengan berbagai lembaga pendidikan.
Ia menjelaskan peluang studi ke berbagai negara seperti Mesir, Turki, Maroko, Tunisia, China, Jepang, Jerman, Australia, serta sejumlah negara lainnya yang membuka kesempatan luas bagi lulusan pesantren Indonesia.
Menurutnya, peluang tersebut sangat terbuka selama pesantren memiliki sistem pembinaan yang tepat sejak dini.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Pondok Pesantren Bina Insan Mulia juga siap mendampingi pesantren-pesantren lain yang ingin mengembangkan program serupa. Pendampingan tersebut meliputi konsultasi, penyusunan sistem pembinaan, strategi persiapan beasiswa, hingga pembangunan jejaring dengan perguruan tinggi luar negeri.
Revolusi Pendidikan Pesantren
Workshop ini pada dasarnya mengajak seluruh pengasuh pesantren melakukan revolusi pendidikan, bukan dengan meninggalkan tradisi pesantren, tetapi dengan memperkuatnya melalui inovasi.
Transformasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan sehingga pesantren semakin dipercaya masyarakat dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan.
Tujuan akhirnya bukan sekadar meningkatkan jumlah santri, melainkan melahirkan generasi pemimpin masa depan yang memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, sosial, teknologi, kepemimpinan, dan wawasan global sehingga mampu mengisi berbagai jabatan strategis di negeri ini.
Setelah menyelesaikan target pembinaan terhadap 5.000 pengasuh pesantren, panitia juga berencana menyelenggarakan workshop lanjutan bagi para calon pendiri pesantren agar sejak awal memiliki paradigma pendidikan yang unggul, profesional, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Ditutup dengan Ijazah Dalailul Khairat dan Ziarah
Workshop berlangsung penuh selama satu hari, dimulai pukul 07.30 hingga 24.00, dengan berbagai sesi materi, diskusi, simulasi, dan penyusunan strategi transformasi pesantren.
Sebagai penutup, KH Imam Jazuli mengijazahkan amalan Dalailul Khairat kepada seluruh peserta sebagai bekal spiritual dalam memimpin dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam.
Memasuki pukul 01.00 dini hari, seluruh peserta melanjutkan rangkaian kegiatan dengan berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Para peserta memperoleh kesempatan memasuki area makam sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu Wali Songo yang memiliki jasa besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Workshop ini menjadi penegasan bahwa masa depan pesantren tidak ditentukan oleh usia lembaga atau megahnya bangunan, melainkan oleh keberanian para kiai untuk terus belajar, berinovasi, dan memimpin perubahan.
Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren yang luhur, sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pesantren diyakini akan kembali menjadi pusat lahirnya generasi pemimpin bangsa yang berilmu, berakhlak, berdaya saing global, serta mampu mengisi berbagai posisi penting dan strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (SN)
Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.
