Editor's PicksKaderisasiKronikaSantri Keren

Cinta NU, Arif Hidayat “Ngontel” Sejauh 1.500 Kilometer Sumsel – Tambakberas Jombang

JOMBANG — Di tengah riuhnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, ada sebuah kisah perjuangan yang barangkali jauh dari panggung sidang dan hiruk-pikuk organisasi.

Kisah itu datang dari seorang kader Banser asal Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, bernama Arif Hidayat.

Menjelang usia 57 tahun, Arif memilih merayakan karunia usia dan kesehatan dengan cara yang tidak biasa, yakni mengayuh sepeda dari Sumatera Selatan menuju Tambakberas, Jombang, lokasi bersejarah untuk perhelatan Muktamar ke-35 NU tahun 2026.

Bukan perjalanan singkat. Bukan pula dengan kendaraan nyaman.

Arif menempuh perjalanan sekitar 1.500 kilometer selama 14 hari, menyusuri rute tradisional Palembang–Jombang. Ia mengayuh sepeda seorang diri, melintasi kabupaten demi kabupaten, hingga akhirnya tiba di Tambakberas.

Yang membuat perjalanan itu semakin bermakna, di setiap kabupaten yang dilewatinya, Arif mendapatkan sambutan dari jajaran Satkorcab maupun Satkorkam Banser. Perjalanan seorang kader dari Sumatera Selatan itu berubah menjadi perjalanan silaturahmi antar-kader NU lintas daerah.

Keberangkatan Arif dari Sumatera Selatan sebelumnya dilepas langsung oleh Ketua PWNU Sumatera Selatan, KH Hendra Zainuddin.

Sepeda Bekas, Tekad yang Tak Bekas

Ada hal sederhana namun sarat makna di balik perjalanan panjang tersebut.

Sepeda yang digunakan Arif bukan sepeda mahal dengan spesifikasi khusus untuk perjalanan jarak jauh. Ia menggunakan sepeda Polygon bekas yang sebelumnya sudah sekitar satu tahun tidak terpakai.

Sepeda itu diperbaiki. Dipersiapkan kembali. Lalu digunakan sebagai kendaraan untuk mewujudkan sebuah niat.

Dari sesuatu yang nyaris tak terpakai, lahir sebuah perjalanan luar biasa.

Bagi Arif, yang menggerakkan sepeda itu bukan sekadar kekuatan kaki. Ada rasa syukur, kecintaan dan penghormatan yang jauh lebih besar.

Ia ingin mensyukuri karunia Allah berupa usia yang terus bertambah dan tubuh yang masih diberi kekuatan. Menjelang usia 57 tahun, ia memilih menunjukkan rasa syukurnya dengan sesuatu yang nyata.

Namun ada alasan lain yang lebih dalam yaitu rasa cinta yang dalam kepada para muassis NU.

Tambakberas bukan sekadar titik tujuan di peta. Di tempat itulah jejak perjuangan para ulama dan pendiri NU begitu kuat. Bagi seorang kader Banser seperti Arif, mengayuh ribuan kilometer menuju tempat tersebut adalah bentuk penghormatan sekaligus napak tilas kecintaan kepada para ulama yang telah meletakkan fondasi perjuangan Nahdlatul Ulama.

Kader Banser Sejak Era “Ninja”

Kecintaan Arif kepada NU bukan sesuatu yang baru tumbuh menjelang Muktamar.

Ia telah menjadi anggota Banser sejak 1997, ketika situasi sosial-politik di sejumlah daerah diwarnai peristiwa yang dikenal sebagai “ninja”. Pada masa itu, Arif mengikuti Diklatsar Banser di Jakarta di bawah pelatihan Gus Nuril.

Puluhan tahun kemudian, semangat itu masih menyala.

Banser bagi Arif bukan sekadar atribut yang dikenakan dalam sebuah kegiatan. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada NU.

Menariknya, semangat tersebut juga tumbuh di keluarganya.

Istri Arif, Supiati, merupakan anggota Denwatser. Sementara tiga putranya, Maskuri Suriantono, Muhammad Ali Machrus, dan Muhammad Satrio Adji Purnomo, juga merupakan kader atau anggota Banser.

Dengan demikian, perjalanan Arif menuju Tambakberas sesungguhnya bukan hanya perjalanan seorang lelaki dengan sepeda. Ia adalah perjalanan sebuah keluarga yang menanamkan kecintaan terhadap NU dari generasi ke generasi.

Seorang Tukang Bangunan

Di luar aktivitasnya sebagai kader Banser, kehidupan Arif sangat sederhana.

Sehari-hari ia bekerja sebagai pekerja serabutan dan tukang bangunan.

Tidak ada kemewahan yang menjadi latar belakang perjalanan tersebut. Tidak ada fasilitas khusus. Tidak ada kendaraan pendamping yang mewah.

Yang ada hanyalah sepeda, tenaga, tekad dan niat. Tapi justru di situlah letak kekuatan kisah Arif.

Ia menunjukkan bahwa kecintaan kepada NU tidak selalu harus diwujudkan dengan pidato panjang, jabatan tinggi atau tampil di panggung besar. Seorang pekerja serabutan pun dapat memberikan pengabdian dengan caranya sendiri.

Kecintaan itu cukup dibuktikan dengan terus mengayuh ketika kaki mulai lelah.

Hanya Mengalami Sekali Kram

Perjalanan sejauh sekitar 1.500 kilometer tentu bukan perkara mudah.

Namun selama 14 hari perjalanan, Arif relatif tidak mengalami kendala berarti. Hanya satu kali ia mengalami kram ketika memasuki wilayah Ogan Komering Ilir (OKI).

Kondisi tersebut kemudian mendapat pertolongan dari pengasuh Darul Falah 99.

Selebihnya, perjalanan dapat dilalui hingga akhirnya Arif mencapai Tambakberas.

Dan ketika tiba di lokasi Muktamar ke-35 NU, perjuangannya mendapat sambutan hangat dari keluarga besar Tambakberas.

Arif disambut oleh dzurriyah KH Abdul Wahab Chasbullah, yakni Gus Adi, Gus Kiki dan Gus Aam.

Sambutan tersebut menjadi semacam titik puncak dari perjalanan panjang yang dimulai dari Sumatera Selatan.

Dari Muratara untuk NU

Ada banyak cara untuk mencintai NU. Ada yang mengabdi melalui pendidikan. Ada yang berjuang melalui dakwah. Ada yang membangun pesantren. Ada yang menjaga tradisi. Ada pula yang mengawal kegiatan-kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Arif Hidayat memilih jalannya sendiri: mengayuh sepeda sejauh 1.500 kilometer dari Sumatera Selatan menuju Tambakberas.

Perjalanan itu mungkin tidak mengubah dunia. Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang sering kali terlupakan: bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan fasilitas besar. Kadang ia hanya membutuhkan niat yang tulus dan keberanian untuk memulai.

Sepeda Polygon bekas yang setahun teronggok itu akhirnya kembali bergerak. Bukan sekadar membawa seorang tukang bangunan dari Muratara ke Jombang, tetapi membawa pesan sederhana tentang syukur, keteguhan dan cinta kepada ulama serta NU.

Pada usia menjelang 57 tahun, Arif seperti ingin mengatakan bahwa selama tubuh masih diberi kekuatan, pengabdian belum selesai.

Dan mungkin, itulah makna paling sederhana dari menjadi kader, tidak banyak bicara tentang cinta, tetapi bersedia menempuh jalan panjang untuk membuktikannya.

(Hasil wawancara Gus Damas dengan Arif Hidayat di area makam KH. Wahab Chasbullah di komplek PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, Ahad/19.10/30 Agustus 2026).

Related posts