Editor's PicksKail (Kajian Ilmu)MaklumatPolitik

Muktamar ke-35 NU Tetapkan Peta Jalan NU 25 Tahun, Menuju Visi “Digdaya 2050”

JOMBANG — Salah satu agenda penting yang dibahas dalam sidang-sidang pleno Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) adalah program strategis organisasi untuk 25 tahun ke depan.

Pembahasan tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan arah perjalanan NU menuju organisasi yang semakin kuat, mandiri, adaptif, sekaligus tetap berpijak pada jati diri Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dalam sidang pleno terkait program NU yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026), Alisa Wahid mempresentasikan peta jalan NU untuk seperempat abad mendatang di hadapan para muktamirin.

Peta jalan tersebut membawa visi besar “NU Digdaya 2050”. Visi ini tidak sekadar berbicara tentang besarnya organisasi secara kelembagaan, tetapi tentang bagaimana NU mampu menjadi kekuatan sosial-keagamaan yang kokoh, mandiri, berdaya saing, dan memberikan kemaslahatan bagi jamaah, bangsa, bahkan peradaban dunia.

Menurut paparan tersebut, perjalanan menuju NU Digdaya 2050 dibangun melalui tiga lapis pekerjaan utama, yakni landasan, pilar, dan khidmat peradaban.

Landasan menjadi fondasi utama yang memastikan transformasi NU tidak kehilangan arah. Di atas landasan tersebut dibangun berbagai pilar penguatan organisasi dan kehidupan jamaah.

Sementara lapisan tertinggi adalah khidmat peradaban, yakni bagaimana seluruh kekuatan NU pada akhirnya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas.

Tegaknya Islam Aswaja Menjadi Visi Besar
Visi besar yang hendak diwujudkan adalah tegaknya Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam kerangka ini, NU tidak hanya diposisikan sebagai organisasi yang mengelola persoalan internal jam’iyah, tetapi sebagai kekuatan yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

Untuk mencapai visi tersebut, terdapat tiga misi utama yang menjadi arah perjalanan NU.

Pertama, kembali kepada jati diri NU. Penguatan organisasi harus berangkat dari identitas dan karakter dasar NU yang telah terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang. Modernisasi dan transformasi tidak boleh membuat NU kehilangan akar tradisi, nilai, serta prinsip-prinsip Aswaja yang menjadi pijakannya.

Kedua, memastikan landasan transformasi. NU dihadapkan pada perubahan sosial, teknologi, ekonomi, pendidikan, lingkungan, serta dinamika kehidupan global yang berlangsung semakin cepat. Karena itu, transformasi jam’iyah membutuhkan fondasi yang kuat agar perubahan yang dilakukan tidak bersifat reaktif, melainkan terarah dan berkelanjutan.

Ketiga, memperkuat berbagai aspek yang menjadi sumber kemaslahatan jamaah NU, terutama dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia (SDM), dan lingkungan.
Ketiga bidang tersebut dipandang sangat menentukan masa depan jamaah.

Pendidikan menjadi instrumen peningkatan kualitas generasi, SDM menjadi kekuatan penggerak organisasi dan masyarakat, sementara lingkungan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan berkelanjutan.

Kembali Memperkuat Fikrah, Harakah dan Amaliyah

Salah satu poin penting dalam pembentukan kembali jati diri NU adalah penguatan tiga aspek utama: fikrah, harakah, dan amaliyah.

Fikrah berkaitan dengan cara berpikir dan kerangka pemikiran NU. Penguatan fikrah diperlukan agar warga NU memiliki orientasi yang jelas dalam menghadapi perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta berbagai persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.

Sementara harakah menyangkut gerakan. NU tidak cukup hanya memiliki gagasan dan nilai, tetapi harus mampu menerjemahkannya menjadi gerakan nyata yang memberikan dampak bagi jamaah dan masyarakat.

Adapun amaliyah merupakan pengejawantahan nilai-nilai NU dalam praktik kehidupan sehari-hari. Tradisi keagamaan, pengamalan Aswaja, serta berbagai bentuk khidmah sosial menjadi bagian dari identitas yang harus terus dijaga.

Ketiga aspek tersebut menjadi penting karena NU Digdaya bukan sekadar NU yang besar secara jumlah atau kuat secara struktur. NU Digdaya adalah NU yang kuat jati dirinya, kuat gerakannya, dan nyata amal kemaslahatannya.

Lima Tahap Perjalanan Menuju 2050

Peta jalan yang dipresentasikan dalam sidang pleno tersebut membagi perjalanan menuju NU Digdaya 2050 ke dalam lima tahapan besar, masing-masing memiliki fokus strategis yang berbeda.

2026–2030: Transformasi Jam’iyah

Tahap pertama adalah transformasi jam’iyah. Periode ini menjadi fase membangun fondasi perubahan organisasi.
Transformasi diperlukan agar struktur, tata kelola, sumber daya manusia, sistem kerja, serta berbagai instrumen organisasi mampu menjawab tantangan zaman.

Transformasi jam’iyah juga menjadi momentum untuk memperkuat organisasi dari dalam. NU perlu memastikan bahwa struktur organisasi dari tingkat pusat hingga daerah mampu bekerja secara efektif, terintegrasi, dan berorientasi pada pelayanan kepada jamaah.

2030–2035: Akselerasi Transformasi

Setelah fondasi transformasi dibangun, periode 2030–2035 diarahkan pada akselerasi transformasi.

Pada fase ini, berbagai perubahan yang telah dirintis sebelumnya diharapkan tidak berhenti sebagai program atau pembenahan internal, tetapi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Akselerasi berarti mempercepat peningkatan kualitas organisasi, SDM, pendidikan, ekonomi, pesantren, serta berbagai sektor strategis lainnya sehingga NU mampu bergerak lebih cepat dalam menghadapi perubahan sosial.

2035–2040: Kemandirian Jam’iyah

Tahap ketiga, 2036–2040, diarahkan pada kemandirian jam’iyah. Kemandirian menjadi salah satu persoalan strategis bagi organisasi besar seperti NU. Organisasi yang memiliki basis jamaah sangat besar membutuhkan sumber daya yang kuat agar mampu menjalankan berbagai agenda secara berkelanjutan.

Kemandirian tidak hanya dapat dimaknai dalam aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kemandirian kelembagaan, pengembangan SDM, penguasaan pengetahuan, teknologi, pendidikan, serta kemampuan mengelola aset dan potensi jamaah.

2040–2045: Kepemimpinan Etik

Tahap berikutnya, 2041–2045, diarahkan pada kepemimpinan etik. Pada fase ini, kekuatan NU diharapkan tidak hanya terlihat dari kapasitas organisasi, tetapi juga dari kualitas kepemimpinan yang mampu menjadi rujukan moral di tengah masyarakat.

Kepemimpinan etik berarti menghadirkan kepemimpinan yang berlandaskan nilai, integritas, tanggung jawab, keadilan, dan orientasi pada kemaslahatan.

Dengan demikian, semakin kuat posisi NU, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijalankan.

2045–2050: Ekosistem Peradaban

Tahap terakhir adalah 2045–2050, dengan sasaran membangun ekosistem peradaban.
Ini merupakan tahap ketika berbagai kekuatan yang telah dibangun sejak 2026 diharapkan saling terhubung dan menghasilkan dampak yang lebih luas.
NU tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana organisasi bertahan dan berkembang, tetapi bagaimana seluruh ekosistem pendidikan, pesantren, ekonomi, SDM, sosial, lingkungan, dan keagamaan dapat berkontribusi terhadap pembangunan peradaban.

Dengan demikian, tahun 2050 diproyeksikan bukan sebagai titik akhir perjalanan, melainkan sebagai momentum ketika NU telah memiliki ekosistem yang kuat untuk menjalankan khidmah peradaban.

Tujuh Strategi Besar NU Digdaya

Untuk mewujudkan tahapan tersebut, peta jalan NU juga menempatkan sejumlah strategi utama yang menjadi bidang garapan organisasi.

Pertama adalah konsolidasi jam’iyah. Konsolidasi menjadi kebutuhan mendasar agar seluruh struktur dan perangkat organisasi bergerak dalam arah yang sama.

Kedua, kesejahteraan sosial ekonomi. NU perlu memperkuat kapasitas ekonomi jamaah sehingga keberadaan organisasi dapat berkontribusi langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, keunggulan SDM NU. Besarnya jumlah warga NU harus diikuti peningkatan kualitas manusianya. Pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan menjadi investasi penting untuk masa depan.

Keempat, penguatan pesantren dan Aswaja. Pesantren merupakan salah satu pusat penting tradisi keilmuan dan kaderisasi NU. Karena itu, penguatan pesantren berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Aswaja.

Kelima, lingkungan berkelanjutan. Agenda lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab NU terhadap masa depan. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan persoalan keberlanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.

Keenam, kemaslahatan bangsa. Sebagai organisasi dengan basis jamaah yang luas, NU memiliki tanggung jawab untuk ikut memperkuat kehidupan kebangsaan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

Ketujuh, peradaban dunia. Pada tingkat yang lebih luas, khidmah NU diarahkan agar tidak berhenti pada kepentingan internal jamaah maupun nasional, tetapi mampu memberikan sumbangan pemikiran dan praktik Islam Aswaja bagi kehidupan dunia.
Dari Organisasi Besar Menjadi Kekuatan Peradaban

Pembahasan peta jalan 25 tahun dalam Muktamar ke-35 menunjukkan bahwa tantangan NU ke depan bukan lagi sekadar bagaimana mempertahankan eksistensi organisasi. Tantangannya adalah bagaimana mengubah besarnya potensi jamaah menjadi kekuatan yang terorganisasi dan menghasilkan kemaslahatan nyata.

NU memiliki modal sosial yang besar. Namun modal tersebut membutuhkan pengelolaan yang terarah melalui tata kelola organisasi, pendidikan berkualitas, penguatan SDM, kemandirian ekonomi, pesantren yang maju, serta kepemimpinan yang berintegritas.

Di titik inilah gagasan NU Digdaya 2050 menemukan relevansinya. Digdaya tidak dimaksudkan sebagai kekuatan yang berorientasi pada dominasi, melainkan kekuatan yang mampu berdiri kokoh, mandiri, memberikan manfaat, dan menjalankan khidmah secara luas.

Peta jalan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan NU menuju 2050 dirancang sebagai proses bertahap: memperkuat fondasi, melakukan transformasi, mempercepat perubahan, membangun kemandirian, melahirkan kepemimpinan etik, hingga membentuk ekosistem peradaban.

Sidang pleno program NU di GSG Bahrul Ulum Tambakberas pun menjadi salah satu ruang penting bagi para muktamirin untuk melihat masa depan organisasi dalam perspektif jangka panjang.

Jika peta jalan tersebut mampu diterjemahkan menjadi program yang konsisten di seluruh tingkatan organisasi, maka visi NU Digdaya 2050 bukan sekadar slogan, melainkan sebuah agenda transformasi untuk membawa NU semakin kuat dalam menjaga jati diri Aswaja sekaligus semakin luas dalam menghadirkan khidmat dan kemaslahatan bagi jamaah (GD/DN)

Related posts