Indonesia saat ini memiliki pemimpin yang tegas dan berwibawa. Yaitu Presiden Prabowo Subianto. Presiden Prabowo saat ini berdiri di garis depan menegakkan kedaulatan negara, memberantas korupsi, dan menolak segala bentuk pengkhianatan terhadap bangsa. Ia bekerja dengan semangat patriot sejati untuk rakyat dan demi rakyat, bukan untuk kelompok atau kepentingan tertentu.
Namun, di balik semangat beliau, beliau harus juga diingatkan bahwa ada bahaya besar yang sedang terjadi dan mengancam bangsa ini, yaitu penjajahan ideologis dan pembelokan sejarah bangsa.
Penjajahan Tak Lagi Berbentuk Senjata
Hari ini, bangsa ini tidak lagi dijajah oleh bangsa asing dengan senjata dan kapal perang. Kini penjajahan datang dalam bentuk yang lebih halus: penguasaan makna, simbol, doktrin dan sejarah bangsa.
Di negeri ini, saat ini, ada kelompok tertentu yang berusaha menanamkan doktrin bahwa kemerdekaan Indonesia, simbol negara, bahkan sejarah perjuangan ulama dan organisasi keagamaan lahir atas jasa mereka, atas restu mereka dan atas petunjuk mereka.
Mereka kini sedang menulis ulang sejarah bangsa ini, mengklaim peran yang tak pernah tercatat dalam sejarah, dan menanamkan persepsi kepada publik bahwa tanpa mereka bangsa Indonesia tidak akan pernah bangkit, tidak akan merdeka, tidak akan berilmu.
Klaim bahwa bangsa ini milik Tarim, bahwa penyebaran Islam di negeri ini dilakukan oleh para habaib atau NU tidak aka nada tanpa restu habaib bukan klaim sembunyi-sembunyi, tetapi terang-terangan dan terekspos luas di media massa dan soial media.
Mereka menyelenggarakan acara haul di suatu wilayah, seperti Haul Solo, Haul Gresik, Haul Malang, dan lain-lain; bisa saja nanti ada Haul Indonesia; padahal tokoh yang dihauli tidak ada kontribusinya sama sekali terhadap wilayah tersebut.
Inilah bentuk penjajahan baru yang sesungguhnya: menguasai bangsa lewat narasi dan kesadaran kolektif masyarakat dan ini sedang terjadi di negeri ini. Bila fakta dibiarkan atau dianggap sesuatu yang sepele, maka bangsa ini akan tercerabut dari akar sejarahnya sendiri, kehilangan jati diri dan dikuasai bangsa lain.
Pembelokan Sejarah Adalah Bentuk Penghancuran Bangsa
Bangsa yang besar berdiri di atas sejarah yang benar. Bila sejarahnya dibelokkan, maka arah masa depan pun akan menyimpang dan bahkan hilang.
Kita menyaksikan bagaimana kaum habaib mengklaim bahwa proklamasi kemerdekaan, bendera merah putih, bahkan lambang garuda adalah hasil perjuangan mereka. Padahal sejarah mencatat dengan jelas simbol-simbol kebangsaan itu lahir dari kerja keras para pendiri bangsa, para pejuang dan ulama Nusantara, bukan kerja keras mereka.
Lebih dari itu, ada pula upaya membelokkan sejarah Nahdlatul Ulama (NU) dimana mereka mengklaim NU berdiri karena habaib, padahal NU lahir dari semangat para ulama pesantren Nusantara yang ingin menyatukan Islam, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Jika upaya pembelokan sejarah ini terus dibiarkan, maka cepat atau lambat bangsa Indonesia akan kehilangan identitasnya, dan generasi muda akan tumbuh dengan sejarah yang sudah dibelokkan.
Presiden Prabowo Harus Menangkap Sinyal Ini
Presiden Prabowo dikenal sebagai pemimpin yang mencintai kebenaran dan berani melawan kebohongan dalam bentuk apa pun.
Karena itu, penting bagi beliau dan seluruh lembaga negara untuk memperhatikan isu pemalsuan sejarah, penyesatan ideologi, dan dominasi simbolik yang mengancam integritas dan kedaulatan bangsa ini.
Pemerintah harus memperkuat literasi sejarah dan keagamaan di sekolah, pesantren, dan media publik agar rakyat tidak mudah tertipu oleh narasi yang dibuat untuk menyesatkan, memecah belah. Dan menguasai bangsa ini
Bangsa yang Lupa Sejarah Akan Dijajah Kembali
Kita sedang menghadapi babak baru penjajahan: bukan penjajahan fisik, melainkan penjajahan persepsi dan makna.
Penjajahan semacam ini jauh lebih berbahaya karena membuat kita bertepuk tangan kepada penjajah, berangkulan dengan penjajah, bahkan tanpa sadar menjadi pengikut penjajah karena kita kehilangan jati diri.
Bangsa ini tidak boleh dikuasai oleh siapapun yang menganggap dirinya lebih mulia dari rakyat Indonesia hanya karena garis keturunan, simbol, atau klaim spiritual. Islam dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa derajat dan kemuliaan seseorang ditentukan oleh ilmu dan taqwanya, bukan oleh nasab atau garis keturunan.
Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan bangsa ini lahir dari darah dan perjuangan para pejuang dari seluruh penjuru negeri, dari Aceh hingga Papua, dari perjuangan para santri, petani, ulama, dan rakyat. Tidak ada satu golongan pun yang berhak mengklaim Indonesia sebagai miliknya.
Presiden Prabowo yang sedang berjuang membersihkan bangsa ini dari korupsi dan pengkhianatan, juga harus diingatkan untuk membersihkan bangsa ini dari penjajahan ideologi dan pembelokan sejarah.
Bangsa besar tidak boleh menjadi bangsa yang minder oleh klaim kelompok tertentu hanya karena mereka berjubah dan bersorban. Bangsa ini harus segera sadar bahwa ancaman besar sedang berlangsung yang pada akhirnya menjadikan bangs aini jongos di negeri sendiri.
Maka mari kita Bersatu, melanjutkan kembali semangat para pahlawan yang dulu mengusir penjajah dengan harta, jiwa dan raga, untuk menegakkan kebenaran sejarah, mencintai ulama dan kyai pribumi, serta berdiri tegak di atas kedaulatan sejati: kedaulatan pikiran, jati diri, dan harga diri bangsa Indonesia. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.
