Jujur saja, saya tertegun melihat angka itu: 100 tahun NU. Satu abad bukan waktu yang pendek untuk sebuah organisasi. NU sudah lulus dari ujian zaman yang paling brutal sekalipun. Mulai dari zaman penjajahan, pergolakan kemerdekaan, turbulensi politik 1965, hingga era reformasi. NU selalu selamat. Mengapa? Karena akarnya menghunjam dalam ke bumi. Akarnya adalah pesantren.
Tapi itu abad pertama. Sekarang, kita sudah menapak di abad kedua. Tantangannya tidak lagi sama. “Musuh NU” hari ini bukan lagi kolonialisme berbaju tentara, melainkan ketertinggalan SDM, ekonomi, ledakan teknologi digital, dan tuntutan profesionalisme tata kelola organisasi. Abad kedua ini bukan lagi waktunya NU sekadar bertahan atau “merunduk” dalam laku defensif. NU harus mendefinisikan ulang dirinya: dari penjaga tradisi lokal, menjadi motor penggerak peradaban nasional-global.
Visi abad kedua NU sudah jelas dan tegas: menjadi penggerak peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan damai di tingkat global. Sekaligus, mewujudkan kemandirian umat dengan peningkatan kualitas SDM di dalam negeri. Ini visi yang luar biasa besar. Tapi, bagaimana cara mewujudkannya agar tidak berakhir menjadi sekadar jargon di atas kertas dan spanduk muktamar?
Dunia hari ini sedang lelah. Barat sedang mengalami krisis spiritualitas akut. Timur Tengah lelah dengan konflik yang tidak kunjung usai. Ekstremisme berbaju agama merebak di mana-mana. Di titik inilah, NU memiliki produk terbaik yang sangat dibutuhkan dunia: Islam Nusantara. Islam yang ramah, toleran, dan bisa mengawinkan iman dengan kebudayaan lokal tanpa harus saling menghancurkan.
Solusinya konkret. Nilai perdamaian global ini harus ditawarkan sebagai alternatif solusi peradaban. NU harus mulai mengirimkan “Duta Perdamaian” ke panggung-panggung dunia. Bukan sekadar delegasi khotbah, melainkan pemikir-pemikir yang mampu berdialog dengan bahasa universal.
Untuk menopang visi raksasa itu, struktur NU tidak bisa lagi dikelola dengan manajemen “pokoke berjalan”. Harus ada empat pilar misi strategis yang berdiri tegak, kokoh, dan presisi:
Pertama; Perdamaian Global (Fikrah Nahdliyah): Mengemas orisinalitas Islam Nusantara menjadi kurikulum universal yang bisa diadopsi oleh dunia internasional untuk meredam konflik.
Kedua; Kemandirian Ekonomi Umat: Menghentikan kebiasaan “meminta” dan mulai “mengelola”. Fokusnya harus beralih secara radikal ke pemberdayaan UMKM, optimalisasi wakaf produktif, dan pendirian koperasi jamaah yang berbasis digital. Kemandirian politik hanya akan terjadi jika kemandirian ekonomi sudah beres.
Ketiga; Transformasi Pendidikan & Sains: NU adalah rumah besar pesantren. Di abad kedua, pesantren tidak boleh hanya mencetak ahli fikih kelas wahid, tetapi juga harus mencetak pakar kecerdasan buatan (AI), ahli genetika, dan ekonom digital. Hebatnya, mereka menguasai IPTEK tanpa sedikit pun tercerabut dari adab dan tradisi pesantren.
Keeempat; Meritokrasi Organisasi: Manajemen tata kelola NU harus diperbarui total. Regenerasi kepemimpinan wajib berbasis kapasitas intelektual dan integritas moral yang profesional. Sistem “urut kacang” atau kedekatan politik praktis harus diganti dengan sistem rekam jejak yang terukur.
Pertanyaannya: Siapa yang akan mengeksekusi ini semua? Struktur organisasi yang gemuk membutuhkan dinamo-dinamo penggerak yang lincah, adaptif, dan—ini yang paling penting—selesai dengan dirinya sendiri.
Realitas zaman baru melahirkan kebutuhan akan figur baru. Kita butuh apa yang disebut sebagai “Ulama Progresif”. Tokoh yang fasih membaca kitab kuning, sekaligus fasih membaca algoritma dan tren ekonomi global.
Salah satu figur yang menarik perhatian saya dalam konteks transformasi ini adalah KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz). Mengapa beliau? Karena latar belakangnya komplit. Dia adalah pengasuh pesantren (Bina Insan Mulia), tetapi juga berpendidikan luar negeri di bidang filsafat, politik, pertahanan dan strategi. Dia seorang kiai, sekaligus punya jejak interpreunership yang sukses.
Lokomotif Baru yang Dibutuhkan NU
Saya melihat NU hari ini seperti sebuah kapal tanker raksasa. Badannya besar, penumpangnya jutaan, tapi jalannya lambat. Mengapa? Karena mesinnya terlalu sering dipakai untuk memanaskan konflik internal, bukan untuk melaju ke depan.
Di titik inilah, figur seperti Kiai Imjaz bukan lagi sekadar alternatif. Beliau adalah kebutuhan mutlak. Jika NU ingin berlari mengejar zaman, lokomotifnya haruslah orang yang selesai dengan dirinya sendiri dan punya isi kepala yang melompat jauh ke depan. Ada enam alasan kuat mengapa Kiai Imjaz adalah figur yang paling pas untuk memimpin NU ke depan.
Pertama, beliau adalah arsitek pesantren transformatif. Kurikulum kuno yang bikin santri gagap ilmu pengetahuan dan teknologi harus dirombak total. Kiai Imjaz tidak cuma berteori. Beliau sudah mempraktikan lebih dahulu, bahkan saat ini Kiai Imjaz sedang melakukan gerakkan nasional “transformasi pesantren” dengan mengumpulkan 5000 (lima ribu) Kiai Pengasuh Pesantren dalam sebuah workshop besar dan estafet, tujuannya satu: menyamakan frekuensi untuk menghadirkan pesantren yang adaptif dengan perkembangan zaman dan membangun SDM unggul dan handal di berbagai bidang yang siap tempur di era digital. Hebatnya kegiatan ini dibiayai sendiri melalui Imam Jazuli Foundation (IJF) tanpa melibatkan pihak manapun.
Ribuan santri-santri Kiai Imjaz sudah menembus perguruan tinggi favorit nasional dan internasional di berbagai bidang dengan jalur beasiswa, kurang lebih ada di enam belas negara. Beliau tahu persis, benteng pertahanan NU untuk dunia global ada di pesantren. Jika pesantrennya transformatif, maka masa depan NU otomatis akan selamat.
Kedua, beliau adalah magnet pemersatu yang hebat. Selama ini, NU sering kali melempem karena sibuk mengurusi faksi pro dan kontra di dalam rumah sendiri. Energi habis untuk urusan internal. Kiai Imjaz punya kelebihan yang jarang dimiliki tokoh lain: beliau bisa membuat semua figur sentral NU duduk mesra semeja. Tanpa sekat, tanpa ego.
Kehadiran beliau menjadi penepis faksi-faksi tersebut. Beliau mampu membelokkan energi konflik menjadi energi khidmah untuk umat. Tokoh seperti inilah yang bisa menjadi perekat. Ke depan, struktur NU harus akur. Energinya tidak boleh habis untuk dinamika internal, faksionalisme, atau konflik politik praktis. Fokusnya harus tunggal: pelayanan umat.
Ketiga, ini yang paling mahal: kemandirian ekonomi. Secara ekonomi, Kiai Imam Jazuli ini sudah “selesai”. Ini poin krusial. Pemimpin yang sudah selesai dengan urusan perutnya akan jauh lebih fokus berkhidmah (melayani) ketimbang mencari penghidupan di dalam organisasi.
Banyak tokoh terjebak dalam kepentingan politik atau donor karena masalah isi dompet. Kiai Imjaz berbeda. Beliau sudah selesai dengan urusan dunianya. Jangankan meminta, beliau justru menolak infak, sedekah, dan wakaf untuk dirinya. Yang terjadi justru sebaliknya: beliau terus berbagi kemaslahatan dan mengalirkan dana segar untuk menghidupkan pesantren-pesantren. Pemimpin yang mandiri secara ekonomi seperti ini tidak akan mempan disetir oleh kepentingan luar.
Keempat, isi kepalanya itu out of the box. Gagasan-gagasannya brilian, progresif, dan futuristik. Di saat orang lain masih memikirkan masalah hari ini, pikiran Kiai Imjaz sudah melompat mengurusi tantangan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.
Cara berpikirnya inklusif dan progresif—dua karakter utama yang sangat dibutuhkan oleh jiwa besar NU abad kedua. Beliau adalah tipe eksekutor yang berani mendobrak standar umum yang kaku demi sebuah kemajuan.
Karena itu, NU tidak boleh terus-menerus berjalan di tempat. Kapal tanker ini butuh nakhoda yang kaya gagasan, mandiri, dihormati semua faksi, dan punya cetak biru konkret untuk masa depan santri.
Kelima; Kiai Imjaz kuat dengan jaringan global dan internasional, terutama di bidang pendidikan. Ini membuktikan bahwa beliau seorang diplomat ulung. Kedepan jika posisinya Ketum PBNU mungkin akan ada ribuan beasiswa untuk kader terbaik NU.
Mereka akan menjadi duta Islam nusantara di berbagai belahan dunia. Semua kualitas itu ada pada Kiai Imjaz. Bersama beliau, NU tidak hanya akan menjadi organisasi yang besar secara jumlah, tapi juga raksasa secara kualitas.
Keenam; Kiai Imjaz adalah seorang manajer yang handal. Beliau membuktikan bahwa pesantren bukan sekadar tempat mengaji, melainkan lokomotif peradaban modern jika dikelola layaknya korporasi.
Berdiri sejak 2013, Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) meledak dengan lima ribu santri dan lahan seluas lebih dari 92 hektar. Alumni BIMA kini tersebar di seluruh dunia. Inilah tipe manajer handal yang sangat dibutuhkan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan.
Rahasia suksesnya terletak pada dua hal: manajerial yang tangguh dan keberanian mendobrak pakem. Ia mengelola pesantren dengan memadukan standar spiritualitas korporasi berjiwa santri, yang mencipta arus, bukan sekadar ikut arus. Keahlian ini adalah model transformasi masa depan.
Abad kedua NU telah tiba. Pilihannya hanya dua: menjadi raksasa tua yang lamban dan hanya bangga pada romantika sejarah, atau menjelma menjadi kekuatan peradaban modern yang lincah, mandiri, dan memimpin dunia. Saya meyakini, dengan modal spiritualitas yang kuat dan transformasi manajemen yang tepat, NU akan memilih jalan yang kedua. Semoga Allahumma amin. (SN)
Penulis: KH.Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Pengasuh Pesantren Ora Aji
