Transformasi pesantren tidak boleh berhenti pada slogan, jargon, atau sekadar lip service.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, kemajuan teknologi yang masif, serta gelombang disrupsi yang mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, pesantren dituntut melakukan lompatan besar agar tetap relevan dan mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Pesan itulah yang menjadi ruh Workshop Transformasi Pesantren yang diselenggarakan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., bersama Imam Jazuli Foundation.
Kegiatan ini ditargetkan dapat diikuti oleh sekitar 5.000 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Indonesia untuk memperoleh pencerahan, wawasan, serta strategi praktis dalam melakukan transformasi kelembagaan pesantren.
Menurut KH Imam Jazuli, pesantren tidak cukup hanya mempertahankan tradisi dan warisan keilmuan para ulama. Tradisi adalah fondasi yang harus dijaga, tetapi fondasi itu harus menjadi pijakan untuk melompat lebih jauh.
Santri yang belajar hari ini akan hidup di masa yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka akan menghadapi tantangan global, revolusi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, serta kompetisi internasional yang menuntut kompetensi baru.
“Karena itu, pesantren harus mampu membaca arah zaman. Kita tetap menjaga nilai, akhlak, dan tradisi keilmuan pesantren, tetapi dalam saat yang sama kita juga harus menyiapkan santri agar mampu menjadi pemain utama dalam peradaban modern,” ujar KH Imam Jazuli.
Ia menegaskan bahwa hambatan terbesar transformasi sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam diri pengelola pesantren sendiri. Regulasi, kurikulum, metode pembelajaran, maupun keterbatasan fasilitas memang menjadi tantangan, tetapi yang paling menentukan adalah keberanian mengubah pola pikir.
Dalam workshop tersebut, Kyai Imjaz—sapaan akrab KH Imam Jazuli—membongkar berbagai mental block yang selama ini menghambat kemajuan pesantren.
Dengan pendekatan yang komunikatif dan inspiratif, ia mengajak para peserta meninggalkan rasa takut terhadap perubahan serta berani membangun paradigma baru tentang pendidikan pesantren.
Tak hanya menyampaikan gagasan, ia juga membekali peserta dengan langkah-langkah praktis dan strategi implementasi agar transformasi dapat diwujudkan secara nyata di pesantren masing-masing.
“Modal utama transformasi hanya satu, yaitu kemauan untuk berubah. Kalau ada kemauan, selalu ada jalan. Tetapi kalau tidak mau berubah, sebesar apa pun potensi pesantren akan sulit berkembang,” tegasnya.
Salah satu gagasan besar yang mendapat perhatian peserta adalah pentingnya membangun orientasi global bagi para santri. Menurut KH Imam Jazuli, pesantren harus mulai menyiapkan lulusan yang mampu menembus universitas-universitas terbaik dunia.
Ia mendorong agar para pengasuh tidak lagi merasa cukup apabila santri hanya melanjutkan pendidikan di dalam negeri. Pesantren harus memiliki visi yang lebih luas dengan membimbing para santri agar mampu mendapatkan beasiswa dan diterima di berbagai perguruan tinggi bergengsi di luar negeri, seperti di Mesir, Turki, Maroko, Tunisia, Arab Saudi, Jepang, Tiongkok, Jerman, Australia, Inggris, Amerika Serikat, maupun negara-negara lain yang memiliki pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan.
“Bukan untuk menjadikan mereka tinggal di luar negeri, tetapi agar mereka kembali ke Indonesia membawa ilmu, pengalaman, jaringan internasional, dan cara berpikir maju untuk membangun bangsa ini,” jelasnya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak ulama yang menguasai ilmu agama sekaligus memahami teknologi, ekonomi, sains, diplomasi, pendidikan, kesehatan, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Pesantren memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi seperti itu apabila sejak dini para santri dibimbing memiliki cita-cita global.
KH Imam Jazuli juga mengingatkan bahwa pesantren tidak boleh terus-menerus terjebak dalam inferiority complex, yaitu perasaan rendah diri yang menganggap ruang geraknya hanya sebatas pendidikan agama.
Pesantren adalah laboratorium peradaban yang sejak dahulu telah melahirkan ulama, pemimpin bangsa, pejuang kemerdekaan, pendidik, pengusaha, birokrat, akademisi, dan tokoh masyarakat yang berkontribusi besar bagi Indonesia.
Karena itu, menurutnya, pesantren harus menjadi pusat pengembangan talenta. Santri perlu dibekali kemampuan bahasa asing, literasi digital, kepemimpinan, kewirausahaan, riset, komunikasi global, serta berbagai keterampilan sesuai minat dan bakatnya, tanpa meninggalkan kedalaman ilmu-ilmu keislaman dan kemuliaan akhlak.
Dengan bekal tersebut, lulusan pesantren diharapkan mampu mengisi berbagai posisi strategis di ruang publik, memimpin lembaga pendidikan, menjadi akademisi kelas dunia, diplomat, profesional, pengusaha, inovator, maupun pejabat publik yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Workshop Transformasi Pesantren ini menjadi penegas bahwa masa depan pesantren tidak ditentukan oleh seberapa kuat ia bertahan terhadap perubahan, melainkan oleh seberapa berani ia bertransformasi.
Pesantren yang mampu membaca arah zaman, mengelola perubahan, serta membangun jejaring pendidikan hingga tingkat internasional akan melahirkan generasi santri yang tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga menjadi pemimpin peradaban.
Transformasi, sebagaimana ditegaskan KH Imam Jazuli, bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
Pesantren harus menjadi kawah candradimuka lahirnya generasi berakhlak mulia, berwawasan global, berdaya saing internasional, dan siap kembali mengabdikan seluruh ilmu serta pengalamannya untuk kemajuan Indonesia. (Gus Damas Alhasy/SN)
