Jakarta, Ribuan mahasiswa hari ini (Jum’at/12/6/26) dari berbagai perguruan tinggi kembali memenuhi kawasan Bundaran HI dan Jalan MH Thamrin, Jakarta. Aksi yang digelar oleh sejumlah elemen mahasiswa, termasuk BEM UI, menjadi simbol bahwa keresahan publik terhadap arah perjalanan bangsa telah mencapai titik yang sulit diabaikan.
Demonstrasi ini mengusung berbagai tuntutan, mulai dari kritik terhadap pemborosan APBN, kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM, hingga evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah.
Sepanjang sejarah Indonesia, mahasiswa bukan sekadar kelompok akademik yang berkutat di ruang kuliah. Mereka adalah suara moral bangsa. Dari perjuangan kemerdekaan, gerakan 1966, reformasi 1998, hingga berbagai gerakan sosial pasca-reformasi, mahasiswa selalu hadir ketika rakyat merasa kehilangan saluran untuk menyampaikan kegelisahannya.
Hari ini, suara yang mereka bawa bukan semata-mata suara kampus. Di balik spanduk dan poster yang dibentangkan, tersimpan keluhan jutaan rakyat yang semakin tertekan oleh tingginya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, dan ketidakpercayaan terhadap pengelolaan negara.
Masyarakat menilai bahwa di tengah berbagai kesulitan ekonomi yang mereka hadapi, praktik korupsi masih terus menjadi penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa. Hampir setiap pekan publik disuguhi kabar penangkapan pejabat, dugaan penyalahgunaan anggaran, hingga berbagai kasus yang melibatkan penyelenggara negara.
Korupsi tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan individual, melainkan telah menjadi persoalan sistemik yang menghambat kemajuan bangsa.
Kekecewaan rakyat semakin terasa ketika berbagai program yang digadang-gadang sebagai solusi justru kontroversial. Program-program yang menyedot anggaran besar diharapkan mampu menghadirkan perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Namun ketika hasil yang dirasakan tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan, pertanyaan publik menjadi semakin keras: apakah uang negara benar-benar digunakan secara efektif dan tepat sasaran?
Di sisi lain, tekanan ekonomi terus dirasakan masyarakat. Harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan, biaya transportasi bertambah, dan berbagai pungutan maupun kewajiban perpajakan dianggap semakin membebani kelompok masyarakat menengah ke bawah.
Bagi sebagian rakyat kecil, persoalan ekonomi bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi di pasar, di warung, dan di meja makan keluarga.
Ironisnya, ketika rakyat diminta berhemat dan bersabar, berbagai kemewahan yang dipertontonkan sebagian elite justru semakin memperlebar jurang psikologis antara pemerintah dan masyarakat. Rasa keadilan publik terluka ketika pengorbanan rakyat tidak diiringi keteladanan dari para pemegang kekuasaan.
Aksi mahasiswa hari ini sesungguhnya merupakan peringatan dini. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali suara mahasiswa memenuhi jalanan, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan kepercayaan rakyat terhadap negara itu sendiri.
Pemerintah perlu memahami bahwa demonstrasi bukan musuh demokrasi. Justru aksi-aksi seperti ini adalah mekanisme koreksi yang sehat dalam kehidupan berbangsa. Ketika mahasiswa turun ke jalan, mereka sedang mengingatkan bahwa kekuasaan harus tetap berpihak kepada rakyat, bukan kepada kelompok-kelompok yang menikmati keuntungan dari kedekatannya dengan pusat kekuasaan.
Indonesia adalah negeri yang dibangun dengan darah, air mata, dan pengorbanan para pejuang. Kemerdekaan yang diraih pada tahun 1945 bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang dibayar dengan nyawa. Karena itu, rakyat berhak berharap bahwa kemerdekaan tersebut menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan pemerintahan yang bersih.
Hari ini, suara mahasiswa yang menggema di Bundaran HI dan sepanjang Jalan Thamrin bukan sekadar teriakan demonstran. Ia adalah cermin dari kegelisahan bangsa. Sebuah pesan bahwa rakyat masih menaruh harapan kepada negeri ini, tetapi kesabaran mereka tidaklah tanpa batas.
Jika pemerintah memilih mendengar, aksi ini dapat menjadi titik perbaikan. Namun jika suara rakyat kembali dianggap angin lalu, sejarah mengajarkan bahwa gelombang yang kecil hari ini dapat berubah menjadi arus besar yang sulit dibendung esok hari. (Gus Damas Alhasy/SN)
