Info PesantrenKaderisasiKail (Kajian Ilmu)MasyayikhPendidikan

KH. Imam Jazuli: Di Era Digital Society 5.0, Pesantren Harus Bertransformasi

Pondok pesantren selama ratusan tahun telah menjadi benteng pendidikan Islam, pusat dakwah, sekaligus kawah candradimuka lahirnya para ulama dan pemimpin bangsa. Namun, di tengah derasnya arus revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, Internet of Things (IoT), hingga perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, pesantren dihadapkan pada tantangan baru yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli, Lc., M.A., kondisi tersebut tidak boleh dijawab dengan sikap pasif. Pesantren tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang adaptif, inovatif, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Kyai yang akrab disapa Imjaz itu menegaskan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru, pesantren harus mampu memadukan warisan keilmuan klasik dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

“Pesantren jangan sampai stagnan. Jangan hanya merasa cukup mengajarkan kitab kuning tanpa membaca perubahan zaman. Pesantren harus tetap menjadi penjaga tradisi, tetapi sekaligus menjadi pelopor inovasi,” ujarnya.

Era Society 5.0 Menuntut Pesantren Berubah

Konsep Society 5.0 merupakan tatanan masyarakat yang mengintegrasikan teknologi digital dengan kehidupan manusia. Artificial Intelligence, robotika, komputasi awan, blockchain, hingga otomatisasi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berbisnis, bahkan berdakwah.

Dalam kondisi tersebut, KH. Imam Jazuli menilai pesantren harus mampu menjawab berbagai tantangan baru.

Menurutnya, santri hari ini tidak cukup hanya memahami ilmu fikih, tafsir, hadits, ushul fikih, atau nahwu-sharaf semata. Mereka juga harus menguasai berbagai kompetensi abad ke-21 seperti:

  • literasi digital;
  • komunikasi publik;
  • kepemimpinan;
  • kewirausahaan;
  • teknologi informasi;
  • riset;
  • bahasa asing;
  • kecerdasan finansial;
  • pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).

Semua kompetensi tersebut bukan untuk menggantikan ilmu agama, melainkan menjadi sarana agar dakwah Islam semakin relevan dengan perkembangan zaman.

Keseimbangan Ilmu Agama dan Ilmu Dunia

KH. Imam Jazuli mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, para ulama besar justru merupakan ilmuwan multidisiplin. Mereka menguasai ilmu agama sekaligus menjadi penemu yang mengubah peradaban dunia.

Bahkan, fondasi ilmu pengetahuan modern banyak dibangun oleh para ilmuwan Muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi berpikir. Di antaranya adalah:

1. Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi

Dikenal sebagai Bapak Aljabar dan peletak dasar ilmu algoritma. Nama “algorithm” berasal dari pelafalan nama Al-Khawarizmi dalam bahasa Latin. Karyanya menjadi fondasi matematika modern dan ilmu komputer.

2. Ibnu Sina (Avicenna)

Tokoh kedokteran terbesar dalam sejarah Islam. Kitab Al-Qanun fi al-Tibb menjadi referensi utama dunia kedokteran selama lebih dari enam abad di Eropa maupun Timur Tengah.

3. Jabir bin Hayyan

Dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Ia mengembangkan metode distilasi, kristalisasi, sublimasi, dan berbagai teknik laboratorium yang masih digunakan hingga sekarang.

4. Ibnu Al-Haytham (Alhazen)

Pelopor ilmu optika modern. Penelitiannya mengenai cahaya, lensa, dan cara kerja mata menjadi dasar perkembangan kamera, mikroskop, teleskop, hingga teknologi fotografi.

5. Al-Biruni

Ahli astronomi, geografi, matematika, dan geologi. Ia berhasil menghitung keliling bumi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi jauh sebelum munculnya teknologi modern.

6. Al-Zahrawi (Abul Qasim)

Dikenal sebagai Bapak Bedah Modern. Ia menciptakan lebih dari 200 alat operasi yang menjadi inspirasi peralatan bedah masa kini.

7. Ibnu Nafis

Ilmuwan pertama yang menjelaskan sirkulasi darah melalui paru-paru (pulmonary circulation) beberapa abad sebelum William Harvey.

8. Abbas bin Firnas

Tokoh Muslim dari Andalusia yang melakukan eksperimen penerbangan menggunakan sayap buatan, sehingga sering disebut sebagai salah satu pelopor teknologi penerbangan.

9. Al-Idrisi

Ahli geografi yang menyusun peta dunia paling akurat pada zamannya dan menjadi rujukan para penjelajah Eropa selama berabad-abad.

10. Umar Khayyam

Selain dikenal sebagai penyair besar, ia merupakan matematikawan yang berhasil mengembangkan teori persamaan kubik serta menyusun kalender dengan tingkat akurasi sangat tinggi.

Menurut KH. Imam Jazuli, para ilmuwan Muslim tersebut membuktikan bahwa Islam tidak pernah membatasi umatnya hanya mempelajari ilmu agama.

“Justru Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan manusia untuk berpikir, meneliti, membaca alam semesta, dan mengambil hikmah dari ciptaan Allah.”

Pesantren Harus Menjadi Pusat Inovasi

KH. Imam Jazuli berpendapat bahwa pesantren masa depan harus melahirkan generasi yang mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Ia membayangkan lahirnya santri yang bukan hanya menjadi imam masjid atau guru ngaji, tetapi juga:

  • profesor,
  • dokter,
  • insinyur,
  • ilmuwan,
  • programmer,
  • ekonom syariah,
  • diplomat,
  • entrepreneur,
  • ahli pertanian,
  • pakar energi,
  • pemimpin pemerintahan,
  • hingga inovator teknologi.

Menurutnya, seluruh profesi tersebut dapat menjadi ladang dakwah apabila dilandasi akhlak Islam dan nilai-nilai pesantren. Karena itu, pesantren harus menjadi pusat lahirnya pemimpin peradaban.

Workshop Nasional Transformasi dan Inovasi Pesantren

Berangkat dari kegelisahan tersebut, melalui Imam Jazuli Foundation, KH. Imam Jazuli menggagas Workshop Nasional Transformasi dan Inovasi Pesantren.

Program ini mulai digelar sejak tahun 2025 di Pendopo Agung Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.

Workshop tersebut dirancang sebagai ruang berbagi pengalaman, gagasan, sekaligus strategi praktis bagi para pengasuh pondok pesantren agar mampu mengembangkan lembaganya menghadapi era digital.

Materi yang dibahas meliputi:

  • transformasi manajemen pesantren;
  • kepemimpinan berbasis perubahan;
  • penyusunan roadmap pengembangan pesantren;
  • branding dan positioning pesantren;
  • digitalisasi administrasi;
  • pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pendidikan;
  • optimalisasi media sosial untuk dakwah dan promosi pesantren;
  • strategi membangun ekosistem pendidikan modern;
  • penguatan ekonomi pesantren;
  • inovasi kurikulum;
  • pengembangan sumber daya manusia.
Menargetkan 5.000 Pengasuh Pesantren

Program ini tidak berhenti di Cirebon. KH. Imam Jazuli menargetkan workshop menjangkau seluruh Indonesia dengan sasaran 5.000 pengasuh pondok pesantren di 34 provinsi. Pelaksanaannya dilakukan hampir setiap pekan sejak tahun 2025 hingga Desember 2026.

Untuk wilayah Pulau Jawa, panitia menargetkan sekitar 400 peserta setiap provinsi atau sekitar 2.000 peserta. Khusus Jawa Barat, sebanyak 400 pengasuh pesantren ditargetkan selesai mengikuti workshop pada awal Juni 2026.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan untuk sekitar 1.600 peserta dari Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten selama periode Juni hingga Agustus 2026.

Sementara itu, untuk luar Pulau Jawa diperkirakan terdapat 100–150 peserta di setiap provinsi, dengan estimasi sekitar 3.000 peserta. Dengan demikian, total peserta yang menjadi target nasional mencapai sekitar 5.000 pengasuh pondok pesantren.

Membangun Jejaring Pesantren Indonesia

Lebih dari sekadar pelatihan, KH. Imam Jazuli berharap workshop ini menjadi awal terbentuknya jejaring pesantren nasional yang saling berbagi inovasi.

Menurutnya, setiap pesantren memiliki keunggulan masing-masing. Jika seluruh potensi tersebut disinergikan, maka akan lahir ekosistem pendidikan Islam yang jauh lebih kuat.

Ia meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kualitas karakter manusianya. Dan karakter tersebut, menurutnya, telah lama menjadi kekuatan utama pesantren.

Menjaga Tradisi, Melahirkan Peradaban

Di tengah arus globalisasi yang semakin kompleks, KH. Imam Jazuli mengajak seluruh pesantren untuk tidak takut berubah. Baginya, perubahan bukan berarti meninggalkan tradisi.

Justru dengan menjaga nilai-nilai Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, pesantren akan kembali memainkan peran besarnya sebagai pusat lahirnya para ulama, ilmuwan, pemimpin, dan inovator yang mampu membangun peradaban.

Pesantren, menurutnya, bukan hanya tempat mencetak ahli ibadah, tetapi juga tempat melahirkan generasi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat, bangsa, dan dunia.

“Jika pada masa lalu para ilmuwan Muslim mampu memimpin peradaban dunia karena berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka pesantren Indonesia hari ini memiliki peluang yang sama. Dengan tetap menjaga akhlak, memperkuat keilmuan agama, dan menguasai sains serta teknologi, pesantren dapat kembali menjadi pusat lahirnya generasi yang membangun peradaban, bukan sekadar menjadi penonton perubahan zaman.” (Disadur dari berbagai sumber/SN).

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS

Related posts