Gini ya, coba lo perhatiin baik-baik tren zaman sekarang. Suka kepikiran nggak sih, kalau kita ngamatin realitas hari ini, segala sesuatunya itu terasa serba instan dan gampang banget nguap. Hari ini ada orang mendadak viral, diomongin di mana-mana, diundang ke stasiun TV, mukanya masuk FYP layar HP lo sampai lo muak ngeliatnya. Tapi coba kasih waktu sebulan atau dua bulan aja. Tiba-tiba orang itu hilang ditelan bumi. Namanya udah nggak laku, audiens udah nemu mainan baru, dan algoritma udah bergeser nyari mangsa lain. Gue kadang agak kesel sendiri ngeliat fenomena kayak gini. Kayak ada ilusi kolektif di kepala masyarakat kalau popularitas dan pengaruh itu gampang banget dibangun cuma modal pancingan algoritma. Lo bikin konten kontroversial dikit, atau kebetulan punya gaya ngomong yang aneh, bum, lo jadi selebritas dadakan. Padahal, realitas di lapangan, apalagi kalau kita bicara soal pengaruh yang mengakar di hati manusia, nggak pernah dan nggak akan pernah semudah itu.
Kejadian kayak gini sebenarnya nggak cuma monopoli dunia hiburan, selebgram, atau politisi karbitan. Lo bisa lihat polanya di semua lini, termasuk di dunia dakwah dan tokoh agama. Banyak yang muncul kilat, terkenal karena satu potongan video kontroversial, lalu pelan-pelan meredup karena audiens sadar nggak ada kedalaman di sana. Tapi, di tengah gempuran tren instan dan ulama-ulama aesthetic yang lahir dari rahim media sosial ini, ada satu anomali luar biasa yang kalau kita kuliti bener-bener, bakal bikin kita ngerasa ditampar bolak-balik. Gue mau ngajak lo ngomongin satu nama yang mungkin di telinga sebagian orang kota terkesan tradisional, tapi sejatinya dia adalah masterclass dari apa yang disebut sebagai real influence. Kita mau ngulitin habis-habisan sosok K.H. Anwar Zahid, dan gue berani jamin, setelah lo paham kerangka berpikir dan cara kerja orang ini, lo bakal sadar kenapa dia punya tempat yang nggak bisa digeser oleh ulama atau influencer manapun di zamannya.
Kalau lo mau paham kehebatan Anwar Zahid, hal pertama yang harus lo buang jauh-jauh adalah stereotip lo tentang bagaimana seorang “ulama besar” harus bersikap. Di kepala kebanyakan orang, ulama yang dihormati itu harus punya standar image tertentu. Mereka harus terlihat serba suci, ngomongnya pelan dan ditata rapi, pakai kosa kata bahasa Arab yang rumit biar kelihatan berilmu, senyumnya ditahan-tahan, dan selalu menjaga jarak eksklusif dari kerumunan biar wibawanya nggak luntur. Itu formula standar yang dipakai banyak tokoh agama hari ini. Tapi Anwar Zahid? Dia datang dan menghancurkan semua buku panduan itu berkeping-keping. Dia ngasih kode kehidupan yang sangat lugas dan meruntuhkan ilusi kepalsuan itu.
Coba lo tonton videonya atau datang langsung ke pengajiannya. Lo bakal lihat sosok kiai yang ngomongnya blak-blakan, nada suaranya kadang tinggi dan terkesan kasar khas pesisiran atau Jawa Timuran, tertawanya lepas banget sampai mamerin deretan giginya, dan dia terlihat sangat membumi layaknya bapak-bapak biasa yang lagi nongkrong di pos ronda. Nggak ada tuh jaim-jaiman. Nggak ada usaha buat kelihatan holy atau tak tersentuh. Nah, di sinilah letak kejeniusan pertamanya yang jarang disadari orang, bahkan oleh sesama pendakwah. Dengan gaya yang urakan dan merakyat itu, Anwar Zahid sebenarnya sedang melakukan teknik “penghancuran tembok pemisah” antara pembicara dan pendengar.
Bayangin lo adalah seorang petani yang capek nyangkul seharian, atau kuli panggul yang badannya remuk, atau ibu-ibu pedagang pasar yang pusing mikirin utang. Lo datang ke pengajian buat nyari ketenangan, bukan buat digurui dengan bahasa langit yang lo nggak ngerti. Ketika Anwar Zahid naik panggung dengan gaya yang sama persis kayak tetangga lo, otak lo secara bawah sadar akan langsung menurunkan defense mechanism. Lo nggak merasa sedang dihakimi. Lo merasa sedang diajak ngobrol sama teman sendiri. Ini adalah psychological hack tingkat tinggi. Banyak ulama zaman sekarang gagal di tahap ini; mereka terlalu sibuk membangun citra elit sampai lupa kalau umat yang di bawah itu butuh dirangkul, bukan sekadar dikhotbahi dari atas menara gading.
Tapi, jangan sampai lo kejebak dan mikir kalau kehebatan Anwar Zahid cuma soal bisa ngelucu atau ngomong ceplas-ceplos. Kalau cuma ngelucu, pelawak di TV juga bisa. Di sinilah kita masuk ke lapis kedua dari kehebatannya: Bobot Ilmu dan Strategi Kuda Troya. Orang awam mungkin ngelihat pengajian dia kayak acara stand-up comedy berbalut agama. Orang ketawa dari awal sampai akhir. Tapi kalau lo perhatiin pakai kacamata analisis, candaan yang dia lontarkan itu cuma “obat bius”. Ya, candaan itu anestesi. Ketika audiens lagi ketawa ngakak, urat saraf mereka kendur, beban pikiran mereka tentang cicilan atau masalah rumah tangga hilang sejenak, di detik itulah Anwar Zahid memasukkan jarum suntik berisi filosofi agama yang sangat dalam dan berat.
Dia bisa ngejelasin konsep tasawuf tingkat tinggi, konsep ikhlas, dan sabar, tanpa pernah menyebut istilah-istilah tasawuf yang ribet. Dia menerjemahkan teks-teks kitab kuning yang usianya ratusan tahun menjadi bahasa warung kopi yang bisa dicerna oleh tukang becak sekalipun. Ini bukan skill sembarangan, man. Merumitkan hal yang mudah itu gampang, semua orang sok pintar bisa ngelakuinnya. Tapi menyederhanakan konsep filosofis yang luar biasa kompleks menjadi sebuah lelucon yang bikin orang tertawa sekaligus menangis di dalam hati? Itu butuh kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional yang gila-gilaan. Dia tahu persis bahwa pendengarnya datang dengan otak yang udah penuh dengan beban hidup. Disampaikan untuk memotong beban pikiran orang yang mendengarnya. Dia nggak mau nambahin beban itu dengan teori agama yang rumit, melainkan agama disajikan sebagai jalan keluar yang membahagiakan.
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling brutal, bagian yang bikin gue secara pribadi menaruh respect level tertinggi buat orang ini, dan alasan kenapa posisinya nggak bakal bisa digoyang oleh pendakwah instan manapun. Kita ngomongin soal dedikasi fisik dan validasi di dunia nyata. Lo tahu nggak jadwal sehari-hari Anwar Zahid itu kayak apa? Di saat influencer atau tokoh-tokoh agama modern sibuk syuting di studio ber-AC yang nyaman buat ngonten YouTube, Anwar Zahid mempertaruhkan nyawanya di aspal setiap malam.
Lo bayangin ritme gila ini: malam hari dia ngisi pengajian di satu desa, selesai jam 10 malam. Terus dia harus pindah ke desa lain yang jaraknya puluhan kilometer, ngisi lagi jam 12 malam. Belum selesai, dia masih harus meluncur, berdiri memegang mikrofon di lokasi ketiga, di pelosok desa yang lain lagi, menjelang waktu subuh tiba! Gila nggak tuh? Dan ini bukan dilakukan sesekali buat gaya-gayaan, ini adalah rutinitas kesehariannya selama bertahun-tahun. Tidurnya? Jangan bayangin dia tidur di kasur hotel bintang lima. Tidurnya dihabiskan di dalam kursi mobil yang berguncang-guncang melewati jalanan antarkota dan jalanan desa yang berlubang-lubang, menembus kabut malam dan dinginnya angin dini hari.
Lo coba deh posisikan diri lo di badan dia. Dedikasi fisik yang brutal ini nggak mungkin, gue ulang ya, nggak mungkin bisa bertahan puluhan tahun kalau bahan bakarnya cuma sekadar nafsu mencari uang atau ketenaran. Fisik manusia itu ada batasnya. Mesin tubuh sekeras itu bakal hancur lebur kalau motivasinya cuma amplop atau adsense. Bahan bakar satu-satunya yang sanggup menggerakkan seorang manusia menembus batas-batas kelelahan ekstrem seperti itu hanyalah rasa cinta yang sangat mendalam terhadap barisan jemaahnya. Dia tahu ada ribuan orang di desa-desa terpencil yang udah nungguin dia dari sore, gelar tiker di lapangan becek, cuma buat dengerin suaranya dan nyari ketenangan batin. Cinta itulah yang bikin dia tetap berdiri tegak pegang mik jam 3 pagi, padahal matanya mungkin udah perih dan punggungnya mati rasa.
Ini yang bikin beda,. Ini letak gap yang sangat jauh antara Anwar Zahid dengan ulama-ulama sezamannya atau mereka yang lahir dari rahim media sosial. Banyak tokoh hari ini kata-katanya bagus, quotes-nya indah di Instagram, videonya estetik di TikTok. Tapi berapa banyak dari mereka yang kata-katanya divalidasi oleh keringat sejati? Berapa banyak yang rela turun ke lumpur, masuk ke kampung-kampung, tidur di jalanan berlubang, demi nyamperin umatnya langsung secara fisik? Anwar Zahid membuktikan bahwa seluruh kata-kata dan ceramahnya itu selalu divalidasi oleh keringat dedikasi nyata di dunia nyata.
Pada akhirnya, meneliti dan ngulitin fenomena Anwar Zahid ini bener-bener memaksa kita buat berkaca. Dia menampar wajah kita sendiri, wajah masyarakat modern yang sering kali terjebak dalam kepalsuan, metrik followers, dan likes. Dia membuktikan sebuah formula abadi: lo bisa saja tampil beda, lo bisa saja bicara dengan nada kasar, lo nggak perlu pakai jubah sutra atau ngomong pakai diksi melangit untuk dihormati. Selama apa yang lo bicarakan itu punya esensi, menyentuh titik paling sakit dari penderitaan manusia lalu mengobatinya, dan yang terpenting, selama komitmen lo dibayar lunas dengan keringat dan kelelahan fisik di lapangan, maka tidak akan ada satu kekuatan pun yang mampu menggeser posisi lo dari hati manusia.
Anwar Zahid bukan sekadar penceramah. Dia adalah monumen hidup tentang bagaimana trust atau kepercayaan itu dibangun perlahan lewat ribuan kilometer perjalanan malam, lewat ribuan jam berdiri menahan kantuk, dan lewat jutaan tawa yang dia hadiahkan untuk orang-orang kecil yang hampir lupa caranya tersenyum. Karisma yang dibangun di atas tanah kejujuran dan air mata pengabdian ini, beda sama ketenaran artis TikTok. Karisma macam ini, yang dihidupi oleh seorang Anwar Zahid, tidak akan pernah mengenal masa kedaluwarsa. Jadi, kalau lo nanya apa kehebatannya? Kehebatannya adalah dia menolak menjadi palsu di dunia yang memuja pencitraan, dan dia memilih jalan yang paling berdarah-darah untuk membuktikan cintanya pada manusia. Dan itu, kawan, adalah sebuah level kebesaran yang nggak bisa di-copy-paste oleh siapapun. (SN)
Oleh: Balqis Humaira
