Aspirasi SantriEditor's PicksInfo PesantrenKaderisasiKail (Kajian Ilmu)Santri Keren

Bagaimana Santri Harus Bersikap Di Tengah Konflik Elit NU?

Di ribuan pesantren NU yang tersebar dari pelosok Madura, Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Indonesia Timur, jutaan santri sedang menghafal Al-Qur’an, mempelajari kitab kuning, belajar adab, akhlak, dan keikhlasan.

Di berbagai pesantren besar Nahdlatul Ulama di Jawa, dari Langitan, Lirboyo, Sidogiri, Sarang, Tebuireng, Ploso, hingga Benda Kerep, ada pertanyaan yang mulai muncul di kalangan santri:

Apa yang harus kami pelajari ketika para senior kami yang kini menjadi elite NU terus terlibat dalam konflik pengaruh, perebutan posisi, dan pertarungan kepentingan di tingkat pusat?

Pertanyaan ini penting.

Sebab santri bukan hanya penonton.

Mereka adalah generasi yang suatu hari akan menggantikan para kiai dan pengurus yang hari ini berada di puncak struktur organisasi. Jika para santri tidak mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi hari ini, maka konflik yang sama akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertanyaannya sederhana:

  • Apa yang harus dipelajari santri dari semua ini?
  • Apakah mereka harus meneladani perilaku para elite?
  • Ataukah mereka justru harus belajar dari kesalahan para seniornya?

Jawabannya jelas. Santri harus belajar, tetapi tidak wajib meniru.

NU didirikan bukan untuk melahirkan para pemburu jabatan. NU didirikan oleh para ulama yang rela mengorbankan hidupnya demi agama dan umat.

Para pendiri NU tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari organisasi ini akan dipenuhi pertengkaran tentang kursi, posisi, dan kekuasaan. Mereka mendirikan NU untuk menjaga agama, memperkuat pesantren, mendidik umat, dan membela kepentingan masyarakat kecil.

Karena itu, ketika hari ini santri melihat sebagian elite lebih sibuk mengurus peta kekuasaan daripada peta dakwah, lebih sibuk mengamankan posisi daripada mengamankan masa depan umat, maka santri harus berani mengatakan:

“Ini bukan NU yang diajarkan para masyayikh.”

Yang paling berbahaya dari konflik elite bukanlah rusaknya hubungan antar tokoh. Yang paling berbahaya adalah rusaknya keteladanan.

Santri belajar bukan hanya dari kitab. Santri juga belajar dari perilaku.

Ketika para pemimpin lebih sering mempertontonkan konflik daripada persatuan, maka generasi muda akan kehilangan figur yang layak diteladani.

Ketika jabatan terlihat lebih penting daripada pengabdian, maka pesan yang diterima santri sangat jelas:

Bahwa semakin tinggi seseorang naik dalam organisasi, semakin jauh ia dari nilai-nilai yang dulu diajarkan.

Ini adalah tragedi moral yang jauh lebih berbahaya daripada konflik organisasi itu sendiri.

Para elite NU perlu menyadari satu hal. Jabatan mereka tidak akan abadi.

  • Hari ini mereka duduk di kursi PBNU.
  • Besok mereka menjadi mantan.
  • Hari ini mereka menentukan arah organisasi.
  • Besok nama mereka hanya menjadi catatan sejarah.

Tetapi santri akan tetap ada. Pesantren akan tetap ada. Jamaah akan tetap ada. NU akan tetap ada. Karena sesungguhnya NU tidak berdiri di atas gedung-gedung megah dan struktur organisasi.

NU berdiri di atas doa para kiai kampung, pengabdian guru ngaji, keikhlasan pengurus ranting, dan jutaan santri yang tidak pernah masuk televisi.

Mereka itulah pemilik sesungguhnya masa depan NU.

Karena itu, santri hari ini harus mengambil sikap. Bukan ikut menjadi pasukan salah satu kubu. Bukan ikut menjadi buzzer salah satu tokoh. Bukan ikut memperkeruh keadaan.

Tetapi menjadi penjaga nilai-nilai NU.

Jika para elite bertengkar karena jabatan, santri harus tetap berbicara tentang ilmu. Jika para elite berebut pengaruh, santri harus tetap berbicara tentang dakwah. Jika para elite sibuk dengan kepentingan kelompoknya, santri harus tetap memikirkan kepentingan umat.

Jangan warisi konflik mereka. Jangan warisi permusuhan mereka. Jangan warisi ambisi mereka.

Warisilah ilmu mereka. Warisilah perjuangan mereka. Warisilah keikhlasan para pendiri NU.

Karena masa depan NU tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat hari ini. Masa depan NU ditentukan oleh siapa yang paling mampu menjaga amanah para ulama pendiri. Dan amanah itu tidak pernah bernama jabatan. Amanah itu bernama khidmah. (SN)

Related posts