OKU TIMUR — Semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama menggema dalam peringatan Haul ke-55 KH. Abdul Wahab Chasbullah yang diselenggarakan oleh Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, Ahad (24/5/2026), di Pondok Tahfidz Gumawang – Ma’had Daarul Mumtaz, Jl. Puncak 5 Gumawang, Belitang, OKU Timur.
Acara berlangsung sangat meriah dan penuh khidmat dengan dihadiri kader-kader penggerak NU dari angkatan 1 hingga angkatan 13. Sejak dimulainya pengkaderan PKPNU pada tahun 2020, Kabupaten OKU Timur telah melahirkan ribuan kader Nahdliyin yang terus istiqamah bergerak di tengah masyarakat.
Para kader tersebut aktif mengamalkan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), berdakwah dengan penuh hikmah, serta menjaga persatuan dan kerukunan anak bangsa demi tetap kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain dihadiri kader-kader KPNU, kegiatan ini juga dipenuhi oleh para ulama, tokoh masyarakat, jamaah Muslimat dan Fatayat NU, serta berbagai badan otonom NU lainnya. Hadir pula unsur Forkopimda, Kepala Desa Gumawang Muhammad Sape’i, SE, utusan Camat Belitang, Danramil, Kapolsek, serta sejumlah tokoh penting NU dan masyarakat.

Tampak hadir di antaranya Sekretaris Yayasan At-Taqwa KH. Abdus Syukur, PCNU OKU Timur sekaligus Koordinator KPNU KH. M. Syahri, MM., Ketua Panitia Kyai Asrori Mustamar, Sekretaris Gus Damas Alhasy, SS., KH. Makruf selaku Mudir Ponpes Nurul Huda Tanah Merah, Ketua Bawaslu OKU Timur Bisri Mustofa, Kyai Zainul Mustofa Pengasuh Ponpes Roudlotut Thullab, Kyai Muhammad Syukur dari JATMAN OKI, KH. Muarif Ketua Lesbumi OKU Timur, serta Ujang Chanafi Direktur Santri Pengusaha dari Jakarta.
Suasana semakin hangat dan menggugah ketika mauidzah hasanah disampaikan oleh KH. Abdul Karim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Karim dari Lampung. Pra acara diisi dengan istighotsah yang rangkaian lafadz bacaan istighiotsah ini disusun oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Gus Damas Alhasy selaku sekretaris panitia dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga terhadap kader-kader NU OKU Timur yang dinilainya memiliki semangat luar biasa dalam berkhidmat.
“Kader-kader NU OKU Timur adalah orang-orang luar biasa. Mereka seperti tidak punya lelah berhidmat di NU meski tanpa SK dan tanpa pamrih. NU ini organisasi keramat, penuh karomah, yang membuat para kader sehat lahir batin, hidup harmonis, dan terus bahagia dalam perjuangan,” ungkapnya disambut tepuk tangan jamaah.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Gus Karim mengupas panjang perjuangan besar KH. Abdul Wahab Chasbullah atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Wahab. Ia menuturkan bahwa Mbah Wahab merupakan sosok penggerak kebangkitan umat yang memiliki gagasan visioner sejak usia muda.
Menurutnya, Mbah Wahab adalah tokoh yang menginisiasi berbagai gerakan penting seperti Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Afkar, serta gerakan kepemudaan Ansor yang kemudian menjadi mata rantai penting lahirnya Nahdlatul Ulama yang dideklarasikan oleh Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari atas restu KH. Kholil Bangkalan.
“Kalau hari ini NU besar, maka itu tidak lepas dari keberanian berpikir dan bergerak Mbah Wahab. Beliau tidak pernah diam melihat umat. Selalu ada ide, selalu ada gerakan,” tutur Gus Karim.
Ia juga menegaskan pentingnya kader-kader NU masa kini untuk meneruskan perjuangan para muassis NU dengan tetap menjaga aqidah Aswaja, persatuan bangsa, dan semangat khidmat kepada umat.
Pada kesempatan yang sama, Kyai Asrori Mustamar saat membacakan manaqib atau biografi Mbah Wahab menjelaskan bahwa sang tokoh merupakan pemuda cerdas yang tidak pernah kehabisan gagasan untuk kepentingan agama dan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa lagu “Ya Lal Wathon” yang hingga kini menjadi lagu kebangsaan Nahdlatul Ulama juga merupakan ciptaan Mbah Wahab sebagai bentuk cinta tanah air dan nasionalisme ulama pesantren.
“Atas jasa-jasa beliau pula, pemerintah melalui Keputusan Presiden yang ditandatangani Presiden Joko Widodo menetapkan KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pahlawan Nasional,” terang Kyai Asrori.
Di tempat yang sama, Ustadz Mustangin Wafa selaku panitia yang menyiapkan tempat dan kebutuhan acara mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari generasi penerus perjuangan Mbah Wahab.
Ia berharap semangat kader-kader NU di OKU Timur tidak pernah padam dalam berharakah dan berdakwah menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“Semoga kader-kader NU terus bergerak tanpa lelah, sehingga aqidah dan ajaran Aswaja tetap terjaga di OKU Timur dan seluruh Nusantara,” ujarnya.
Haul ke-55 Mbah Wahab ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum memperkuat sanad perjuangan, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen kader NU untuk terus hadir di tengah masyarakat sebagai penjaga tradisi, perekat persatuan, dan pelayan umat.
Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, kader-kader NU OKU Timur menunjukkan bahwa semangat perjuangan ulama tidak pernah padam. Dari pesantren, majelis, hingga tengah masyarakat, mereka terus melanjutkan api perjuangan Mbah Wahab: menjaga agama, merawat tradisi, dan menguatkan Indonesia. (GD/SN)
