Dalam sejarah Islam di Nusantara, peran ulama selalu menempati posisi sentral. Mereka bukan sekadar pengajar kitab, tetapi juga pembimbing ruhani, penopang moral, sekaligus penggerak perubahan sosial.
Di Lampung Tengah, ada KH. Ali Hasyim Al-Mursyid, yang masyhur dipanggil Mbah Ngali, salah satu figur ulama yang kehadirannya meninggalkan jejak mendalam.
Dari tanah kelahirannya di Kediri hingga tanah pengabdian di Lampung, Mbah Ngali menjadi simbol bagaimana ilmu, akhlak, dan keteladanan bisa menghidupkan masyarakat.
Mbah Ngali Hasyim lahir dan dibesarkan di Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, di tengah lingkungan keluarga religius yang dekat dengan dunia pesantren.
Beliau adalah putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan Kyai Hasyim dan Ibu Nyai Siti Khofiyah. Sejak kecil, beliau sudah ditempa dengan tradisi keilmuan Islam. Hidupnya tidak jauh dari masjid, surau, dan majelis pengajian.
Saat usia muda, Mbah Ngali menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas Pacitan untuk mempelajari fiqh, tauhid, tafsir, hadits, dan tasawuf. Beliau dikenal tekun belajar dan rendah hati, tidak banyak bicara, dan dipercaya untuk membantu keluarga ndalem Kyai dalam beragam urusan.
Hijrah ke Lampung
KH Ngali hijrah ke Lampung pada sekita tahun 1955. Daerah yang pertama kali dituju adalah desa Banjarsari, Metro. Setahun kemudian, beliau berpindah ke dusun Sidorahayu, Sidomulyo, Punggur, kurang lebih 7 km dari Metro.
Hijrah ini bukan perkara mudah. Lampung saat itu masih berupa tanah bukaan baru, dengan kondisi sosial dan alam yang menantang. Namun, justru di situlah Mbah Ngali menunjukkan kebesaran jiwa seorang ulama. Ia tidak hanya datang untuk mencari penghidupan, tetapi untuk mengamalkan ilmu, membina akhlak, dan menebar cahaya agama.
Pada masa G30S/PKI, dimana suasana yang sangat amat mencekam, masyarakat sangat membutuhkan perlindungan para alim ulama, salah satunya dari KH Ali Hasyim, yang saat itu cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, beliau pernah ditangkap aparat saat memimpin pembacaan Shalawat Nariyah.
Setelah peristiwa G30S/PKI, beliau mudik ke pulau Jawa untuk mencari bekal ilmu. Tujuan beliau adalah pondok pesantren Mbaran yang saat itu diasuh oleh KH Umar Sofyan. Niat awalnya beliau hanya ingin tinggal selama 10 hari.
Tetapi karena diminta KH Umar Sofyan untuk memperdalam ilmu thoriqoh, maka Mbah Ngali ngaji disini hingga 40 hari untuk menyelesaikan mondoknya dan akhirnya diangkat sebagai Mursyid Thoriqoh Kholidiyah Wannaqsabandiyah.
Sekembalinya dari Jawa ke Punggur, Mbah Ngali disambut oleh masyarakat sekitar dengan gembira karena mereka merindukan kehadiran sosok Mbah Ngali untuk menjadi imam, penuntun dan penasehat umat.
Membuka Majelis Dzikir Thoriqoh
Dengan attitude beliau yang sangat ramah, santun, mudah bergaul dan sederhana, serta kedalaman ilmu, kekuatan iman dan ketajaman batin; beliau pun menjadi rujukan umat.
Mbah Ngali, kemudian, membuka majelis untuk mengajarkan dzikir, wirid, dan amalan thoriqoh. Beliau memahami bahwa thoriqoh bukan sekadar ritual pribadi untuk mendekatkan diri kepada Allah, melainkan juga energi spiritual yang dapat menghidupkan jiwa sosial umat.
Dzikir berjamaah melatih kekhusyukan dan kedisiplinan, sementara wejangan-wejangan beliau membangkitkan motivasi untuk hidup sederhana, jujur, dan saling menolong.
Melalui majelis dzikir ini, Mbah Ngali berhasil menyatukan masyarakat dalam semangat kebersamaan.
Dari sini, lahir berbagai bentuk gerakan sosial, seperti gotong royong membangun masjid, penguatan ekonomi masyarakat kecil, hingga pendidikan anak-anak desa.
Pendekatan Mbah Ngali menunjukkan bahwa thoriqoh bukanlah laku menyepi yang menjauh dari masyarakat, melainkan justru jalan spiritual yang melahirkan kekuatan moral, sosial, dan bahkan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Dengan keteladanan beliau, masyarakat merasakan bahwa ajaran tasawuf tidak berhenti pada dzikir lisan, tetapi menembus ke dalam praktik hidup sehari-hari: peduli tetangga, menjaga lingkungan, dan membangun solidaritas.
Selain kegiatan pusat kegiatan dzikir dan suluk thoriqoh, masyarakat juga menjadikan rumah Mbah Ngali sebagai tempat ngaji; tempat mereka bertanya tentang masalah ibadah, hukum, hingga persoalan sehari-hari.
Mbah Ngali selalu membersamai mereka dengan penuh kasih, tidak menggurui, dan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Beliau sering berpesan kepada murid-muridnya: “Ilmu itu bukan untuk dibanggakan, tapi untuk diamalkan.”
Merintis Pesantren Baitul Mustaqim
Dari semangat membangun peradaban, Mbah Ngali kemudian mendirikan Pesantren Baitul Mustaqim dan pendidikan formal PGA (Pendidikan Guru Agama) dan MI (Madrasah Ibtidaiyah Nedjo Oetomo, bersama masyarakat di desanya.
Pesantren dan sekolah ini kemudian menjadi wadah pendidikan Islam yang menyatukan santri dari berbagai daerah untuk menyiapkan diri sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat.
Pesantren Baitul Mustaqim yang kini diasuh oleh cucu beliau, yakni KH Mochtar Ghozali, terus berkembang besar menjadi pusat dakwah yang berpengaruh di Lampung Tengah hingga saat ini.
Cucu beliau yang lain, Gus Damas Alhasy, SS. juga melanjutkan semangat perjuangan beliau dengan mengasuh Ma’had Daarul Mumtaz, pesantren tahfidz Qur’an Modern Terpadu di Karang Melati, Belitang BK 23, OKU Timur.
Kepribadian dan Kharisma
Kalau saat ini masyarakat mengenal Mbah Ngali sebagai sosok kharismatik dan memiliki karomah, itu semua tidak dibangun dari kekuasaan atau kekayaan, tetapi dari keikhlasan. Beliau dikenal:
- Zuhud, hidup sederhana dan jauh dari gemerlap dunia.
- Ikhlas, segala pengabdian semata-mata untuk Allah, bukan untuk kepentingan pribadi.
- Dekat dengan masyarakat kecil, tidak membedakan status sosial, loman (dermawan) dan selalu siap membantu.
- Pendamai, beliau selalu tampil menjadi penengah dalam perselisihan warga.
Inspirasi untuk Umat
Biografi KH. Ali Hasyim Al-Mursyid (Mbah Ngali) adalah kisah tentang ulama pejuang. Dari Kediri ke Punggur, Lampung, beliau membuktikan bahwa ulama bukan sekadar pemilik ilmu, tetapi penyambung cahaya ilahi bagi umat.
Dalam kehidupan modern yang sering kehilangan teladan, biografi Mbah Ngali menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati seseorang bukan pada harta atau jabatan, melainkan pada keikhlasan, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat.
Dari sosok Mbah Ngali, ada beberapa hikmah yang patut diteladani:
- Hijrah demi dakwah – Beliau membuktikan bahwa hijrah ke tanah baru bisa menjadi ladang dakwah yang subur.
- Mengajarkan agama dengan kesederhanaan – Ilmu yang bermanfaat tidak membutuhkan panggung besar, cukup dengan keikhlasan.
- Dekat dengan masyarakat – Ulama yang dicintai adalah yang hadir di tengah umat, bukan hanya di balik kitab.
- Membangun generasi – Dengan mendidik santri, beliau telah menyiapkan penerus perjuangan Islam masa depan.
Beberapa pesan beliau yang harus terus diingat oleh santri dan umat adalah:
“Ojo gampang dadi wong nggumunan.”
Artinya: Jangan mudah menjadi orang yang gampang terkagum-kagum.
“Thoriqoh iku dudu mung wiridan, nanging dalan urip.”
Artinya: Thoriqoh itu bukan sekadar wirid, tetapi jalan hidup.
“Ilmu tanpa amal iku koyo lampu ora ana padhangé, amal tanpa ikhlas iku koyo tanduran ora ana wohé.”
Artinya: Ilmu tanpa amal seperti lampu tanpa cahaya, amal tanpa ikhlas seperti tanaman tanpa buah.
“Aja wedi mlarat merga seneng aweh, amarga sedekah iku lawang rejeki.”
Artinya: Jangan takut miskin karena suka memberi, sebab sedekah adalah pintu rezeki.
Nasihat-nasihat tersebut mengandung makna mendalam: seorang santri atau muslim sejati tidak boleh mudah kagum dengan gemerlap dunia, jabatan, atau pujian manusia. Kekaguman sejati hanya kepada Allah, sedangkan hidup harus tetap sederhana dan istiqomah.
KH Ali Hasyim wafat pada tanggal 14 Februari 2009. Dari indahnya warisan keteladan hidup yang beliau tinggalkan, tidak heran jika namanya begitu harum dan dihormati. Maqbarohnya yang terlaetak di belakang Masjid Baitul Mustaqim menjadi tujuan ziarah ribuan umat.
Meski Mbah Ngali sudah tiada, doa-doa umat terus dipanjatkan untuk beliau. Semoga Allah menempatkan Mbah Ngali di tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga kita bisa meneladani jejaknya: mengabdi dengan ilmu, menghidupkan dengan akhlak, dan berjuang dengan ikhlas. (*)
