Sukaraja, OKU Timur — Malam Sabtu menuju Ahad, 25 April 2026, menjadi malam yang tidak biasa di Desa Sukaraja, BK 0 Buay Madang, Kabupaten OKU Timur. Jamaah dari berbagai penjuru Sumatera Selatan, Lampung, hingga Jambi memadati pusat kegiatan Majelis Jatah Pesat dalam agenda rutin triwulanan yang sarat nuansa spiritual dan refleksi keimanan.
Majelis yang telah menjadi magnet spiritual lintas daerah ini menjadi ruang berkumpulnya masyarakat dari beragam latar belakang: petani, pedagang, pegawai, santri, hingga tokoh masyarakat. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama, mencari ketenangan, mendekatkan diri kepada Allah, dan memperbarui kesadaran akan hakikat kehidupan.
Di tengah suasana khidmat, KH. Marzuki selaku khodimul majelis menyampaikan mauidzah hasanah yang menggugah. Dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam, beliau mengajak jamaah untuk kembali meneguhkan tauhid bahwa seluruh kehidupan berada dalam genggaman Allah.
“Tidak ada yang kita miliki. Semua milik Allah. Tidak ada yang kita kuasai. Semua dalam kekuasaan Allah. Dialah yang Maha Kaya, Maha Mengatur, dan Maha Memberi,” demikian inti pesan yang disampaikan berulang kali, seakan menegaskan ulang fondasi keimanan yang sering kali tergerus oleh rutinitas dunia.
Dalam mauidzahnya, KH. Marzuki menekankan bahwa manusia sering kali terjebak dalam ilusi kendali, merasa bahwa keberhasilan adalah hasil usaha semata, dan kegagalan adalah nasib buruk belaka. Padahal, menurut beliau, seluruh skenario kehidupan telah diatur dengan sempurna oleh Allah. Tugas manusia hanyalah menjalani, berserah, dan tetap berikhtiar dalam koridor keimanan.
“Apapun profesi kita, siapapun kita, dari manapun asal kita, itu tidak menjadi ukuran di hadapan Allah. Yang penting adalah bagaimana kita menyandarkan hidup ini sepenuhnya kepada-Nya,” ujarnya di hadapan jamaah yang larut dalam keheningan.
Lebih jauh, KH. Marzuki juga mengisahkan keteladanan Kyai Machalli, sosok guru dan pendiri Majelis Jatah Pesat yang menjadi fondasi spiritual majelis ini. Menurutnya, Kyai Machalli telah mewariskan satu prinsip yang sederhana namun mendalam: bahwa hidup tanpa Allah adalah kesesatan, dan kekuatan yang tidak bersumber dari Allah adalah kekuatan yang menyesatkan.
Pesan tersebut tidak hanya menjadi narasi historis, tetapi juga menjadi ruh yang terus dihidupkan dalam setiap kegiatan majelis. Jatah Pesat bukan sekadar forum pengajian, tetapi ruang pembinaan ruhani yang menekankan kesadaran total akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Puncak acara terjadi saat pembacaan doa mujahadah. Dalam suasana yang semakin hening, lantunan doa yang dipimpin oleh KH. Marzuki mengalir penuh penghayatan, memohon ampun atas dosa, kesalahan, dan kelalaian yang sering kali luput dari kesadaran.
Suasana pun berubah menjadi haru. Isak tangis jamaah pecah tanpa bisa ditahan. Banyak di antara mereka yang menunduk, menutup wajah, bahkan tersedu-sedu, seolah sedang berdialog langsung dengan Tuhan—mengakui dosa, menyesali kesalahan, dan berharap pengampunan.
Momen ini menjadi penegas bahwa majelis seperti Jatah Pesat tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga menggugah dimensi emosional dan spiritual secara mendalam. Ia menjadi ruang katarsis, tempat manusia kembali kepada fitrahnya sebagai hamba yang lemah dan penuh dosa.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Desa Sukaraja, para ustadz, kyai, serta santri dari berbagai pesantren. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa majelis ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial-keagamaan masyarakat setempat.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat dan sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, majelis Jatah Pesat hadir sebagai oase. Ia mengingatkan bahwa di balik segala kesibukan dan ambisi, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: hubungan kita dengan Allah.
Malam itu, Sukaraja tidak hanya menjadi titik pertemuan fisik para jamaah, tetapi juga menjadi titik temu hati antara manusia dengan Tuhannya. Dan dari sanalah, banyak yang pulang bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa hidup ini bukan tentang siapa kita, tetapi tentang kepada siapa kita bersandar. (SN)
