Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Dengan jumlah warga yang mencapai puluhan juta orang, NU memiliki jaringan yang menjangkau hampir seluruh pelosok nusantara, dari desa-desa terpencil hingga pusat-pusat perkotaan, bahkan hingga berbagai negara melalui cabang-cabang istimewa di luar negeri. Kiprah NU juga sangat luas, meliputi bidang dakwah, pendidikan, sosial, budaya, kesehatan, ekonomi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Sebagai organisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah dan menjunjung prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin, NU telah memainkan peran besar dalam menjaga keutuhan bangsa, memperkuat persatuan nasional, serta merawat tradisi keberagamaan yang moderat, toleran, dan inklusif di Indonesia.
Namun di balik kebesaran itu, NU menghadapi tantangan yang semakin nyata. Organisasi ini seperti mengalami apa yang dapat disebut sebagai “obesitas organisasi”. Tubuhnya sangat besar, jaringannya sangat luas, anggotanya sangat banyak, tetapi gerak organisasinya terasa lamban. Potensi yang demikian besar belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi kekuatan yang efektif, terorganisir, dan berdampak luas bagi kemajuan umat dan peradaban.
Dalam berbagai aspek strategis, NU terlihat tertinggal dibandingkan organisasi lain yang jumlah anggotanya jauh lebih sedikit. Muhammadiyah misalnya, mampu menunjukkan kemajuan yang relatif lebih sistematis dalam pengelolaan pendidikan, kesehatan, ekonomi, tata kelola organisasi, digitalisasi, hingga pengembangan aset. Universitas, rumah sakit, sekolah, dan amal usaha yang mereka kelola berkembang dengan manajemen yang lebih terukur dan berorientasi pada mutu.
Sebaliknya, NU yang memiliki basis massa jauh lebih besar masih menghadapi persoalan dalam mengonsolidasikan kekuatan warganya menjadi kekuatan pendidikan, ekonomi, dan teknologi yang terintegrasi. Banyak potensi besar yang tersebar di berbagai daerah berjalan sendiri-sendiri tanpa arah pembangunan yang terpadu dan berkelanjutan.
Dalam bidang pendidikan, NU memang memiliki ribuan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi. Namun dalam aspek kualitas kelembagaan, riset, inovasi, penguasaan teknologi, daya saing global, dan tata kelola modern, masih terdapat pekerjaan rumah yang sangat besar. Sementara dunia pendidikan bergerak cepat menuju era kecerdasan buatan, digitalisasi, dan ekonomi berbasis pengetahuan, sebagian lembaga pendidikan NU masih berkutat pada persoalan-persoalan mendasar.
Di sektor ekonomi, tantangannya bahkan lebih kompleks. Warga nahdliyin merupakan komunitas sosial yang sangat besar, tetapi kekuatan ekonominya belum terkonsolidasi secara optimal. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah dari kalangan warga NU yang berjuang sendiri-sendiri tanpa dukungan ekosistem ekonomi yang kuat. Akibatnya, besarnya jumlah warga belum berbanding lurus dengan besarnya kekuatan ekonomi yang dimiliki.
Di era digital dan teknologi, ketertinggalan itu semakin terasa. Ketika banyak organisasi mulai membangun pusat data, platform digital, sistem kaderisasi modern, media yang kuat, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menunjang pelayanan organisasi, sebagian struktur NU masih disibukkan dengan persoalan administratif dan konsolidasi internal yang berkepanjangan.
Persoalan yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah lemahnya penguatan ideologi dan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tingkat akar rumput. Di berbagai kantong-kantong NU, kini semakin mudah ditemukan masuknya kelompok-kelompok yang membawa paham keagamaan berbeda, bahkan sebagian di antaranya secara terbuka mempertentangkan amaliyah dan tradisi keagamaan yang selama ini hidup di lingkungan warga nahdliyin.
Fenomena ini tidak lepas dari minimnya pembekalan ilmu dakwah dan pemahaman ke-NU-an kepada jamaah di tingkat bawah. Banyak warga NU yang setia menjalankan tahlil, yasinan, istighatsah, maulid, manaqib, dan berbagai amaliyah lainnya, tetapi kurang dibekali kemampuan untuk menjelaskan dasar-dasar keilmuan dan argumentasi keagamaan yang melandasinya.
Akibatnya, ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok yang aktif melakukan dakwah, propaganda, atau penyebaran pemahaman yang berbeda, sebagian jamaah tidak memiliki kesiapan intelektual yang memadai.
Mereka mudah terpengaruh oleh narasi yang menyalahkan tradisi keagamaan yang selama ini mereka jalankan. Tidak sedikit yang kemudian mengalami pergeseran cara pandang, bahkan berpindah haluan menjadi pengikut kelompok yang selama ini dikenal memiliki sikap yang lebih eksklusif, kurang toleran terhadap perbedaan, dan cenderung menolak tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan NU bukan hanya soal ekonomi, pendidikan, atau manajemen organisasi, tetapi juga menyangkut penguatan kaderisasi dan dakwah. Jika jamaah akar rumput tidak dibekali pemahaman yang kuat, maka jumlah besar hanya akan menjadi angka statistik yang sewaktu-waktu dapat tergerus oleh pengaruh dari luar.
Masalah lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah menguatnya budaya elitisme organisasi. Terlalu banyak energi terserap dalam perebutan pengaruh, jabatan, dan posisi strategis. Akibatnya, pelayanan kepada umat sering kali tidak menjadi prioritas utama. Tidak sedikit pengurus yang lebih sibuk mengikuti dinamika politik praktis dibanding membangun pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan warga.
Padahal para muassis mendirikan NU bukan sebagai kendaraan kekuasaan. KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri lainnya membangun NU sebagai gerakan pengabdian, dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, pembelaan terhadap kaum lemah, dan pemberdayaan masyarakat. Itulah ruh perjuangan yang diwariskan kepada generasi penerus.
Menjelang abad kedua perjalanan NU, pertanyaan besar harus dijawab secara jujur. Apakah NU masih berjalan sesuai dengan cita-cita para pendirinya? Apakah jumlah warga yang begitu besar benar-benar menjadi kekuatan peradaban? Apakah organisasi ini siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan kompetitif?
Jika jawabannya belum, maka NU membutuhkan pembenahan yang mendasar. Bukan sekadar pergantian kepengurusan atau perubahan slogan, melainkan transformasi budaya organisasi secara menyeluruh. Profesionalisme harus diperkuat, digitalisasi harus dipercepat, kaderisasi harus diperbaiki, dakwah harus diperluas, kualitas pendidikan harus ditingkatkan, dan potensi ekonomi warga harus dikonsolidasikan secara serius.
NU memiliki seluruh modal yang diperlukan untuk menjadi kekuatan peradaban Islam terbesar di dunia. Namun modal besar tanpa gerakan yang efektif hanya akan melahirkan kebanggaan semu. Sejarah tidak menghormati organisasi karena besarnya jumlah anggota, melainkan karena besarnya manfaat yang diberikan kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Abad kedua NU tidak cukup dirayakan dengan seremoni, slogan, dan peringatan tahunan. Abad kedua harus menjadi momentum kebangkitan, konsolidasi, dan pembaruan. Jika tidak, NU akan tetap menjadi organisasi raksasa yang besar tubuhnya, tetapi tertatih-tatih langkahnya di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat. (Gus Damas Alhasy/SN)
