Editor's PicksKaderisasiMasyayikhPendidikanPolitikSantri KerenSantripreneur

Kyai Asrori Mustamar, Penggerak Pesantren dan NU di Bumi OKU Timur

Di tengah dinamika kehidupan umat dan perkembangan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang semakin kompleks, ada Kyai Asrori Mustamar yang terus tak kenal lelah “ngurusi” jamaah akar rumput di wilayah-wilayah pedesaan.

Kyai Asrori adalah salah satu kader Nahdlatul Ulama yang tumbuh dari lingkungan pesantren dan mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dakwah, pendidikan, serta penguatan organisasi NU di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan.

Lahir di OKU Timur pada tanggal 17 Juni 1972, Kyai Asrori Mustamar merupakan putra dari pasangan Mustamar dan Sufiyah.

Sejak usia muda, ia tumbuh dalam lingkungan religius yang membentuk karakter keislaman, kecintaan terhadap ilmu, dan semangat pengabdian kepada umat. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi fondasi perjalanan hidupnya sebagai santri, pendidik, aktivis organisasi, dan tokoh masyarakat.

Latar Belakang Pendidikan

Perjalanan pendidikannya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII) Tugasari OKU Timur pada tahun 1980 hingga 1985. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Al Islami dan kemudian menempuh pendidikan menengah di MA Nurul Huda Sukaraja, OKU Timur.

Namun, perjalanan intelektual Asrori tidak hanya ditempa melalui pendidikan formal. Sejak tahun 1988 hingga 2004, ia menjalani proses panjang sebagai santri di Pesantren Nurul Huda Sukaraja, sebuah masa yang membentuk kedalaman ilmu agama sekaligus kematangan spiritualnya.

Ia juga memperdalam keilmuan di Ma’had Aly Nurul Huda Sukaraja pada tahun 1992–1994, kemudian melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke Pesantren Al Ma’ruf Bandung Sari, Grobogan, Jawa Tengah pada tahun 1995. Tidak berhenti di sana, pada tahun 2000–2001 ia kembali memperluas wawasan keislamannya dengan belajar di Pesantren Nurul Huda Surabaya.

Kesungguhan dalam menuntut ilmu juga ditunjukkan melalui berbagai pelatihan dan kursus yang diikutinya. Pada tahun 2000, Asrori muda mengikuti Pendidikan dan Latihan Jurnalistik Dasar yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Wartawan Indonesia (LPWI) Ummul Quro Grobogan, Jawa Tengah.

Kemampuan komunikasi dan literasi yang diperolehnya dari dunia jurnalistik menjadi bekal penting dalam aktivitas dakwah dan organisasi. Pada periode yang sama, ia juga memperdalam kemampuan Bahasa Arab melalui Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya.

Pengabdian Kyai Asrori Mustamar di NU

Sebagai kader Nahdlatul Ulama, Kyai Asrori Mustamar telah lama aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Pengalaman organisasinya dimulai saat dipercaya sebagai Sekretaris Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Ogan Komering Ulu pada periode 1997–1999.

Setelah melalui proses pengabdian yang panjang, pada tahun 2020 ia kembali mendapat amanah yang lebih besar sebagai Ketua RMI PCNU OKU Timur hingga sekarang. Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya memimpin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Buay Madang sebagai Ketua Tanfidziyah.

Amanah tersebut dijalankan dengan penuh komitmen untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia NU, serta memperluas manfaat kehadiran Nahdlatul Ulama bagi masyarakat.

Untuk memperkuat kapasitas kepemimpinannya, Kyai Asrori Mustamar aktif mengikuti kaderisasi resmi NU. Pada tahun 2021 ia mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Angkatan I yang diselenggarakan PCNU OKU Timur, hingga kemudian ia dipercaya menjadi salah satu instruktur PKPNU wilayah Sumatera Selatan. Selanjutnya pada tahun 2023 ia mengikuti Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I yang diselenggarakan PWNU Sumatera Selatan.

Visi Besar Kyai Asrori Mustamar untuk PCNU OKU Timur

Bagi Kyai Asrori Mustamar, organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sarana perjuangan untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Karena itu, sebagai wujud komitmennya dalam mengurusi NU, ia memiliki visi besar untuk membawa PCNU OKU Timur menuju klasifikasi Kelompok A sebagaimana diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 11 Tahun 2022 tentang klasifikasi struktur dan pengukuran kinerja organisasi.

Visi tersebut akan ia wujudkan melalui empat program prioritas yang sejalan dengan Rencana Kerja Satu Abad NU, yaitu memperkokoh transformasi Aswaja, mengembangkan kualitas sumber daya manusia NU, meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi warga, serta memperkuat organisasi, kelembagaan, dan jaringan.

Dalam bidang penguatan Aswaja, ia mendorong pengembangan materi ke-NU-an di majelis taklim, madrasah, sekolah, dan pesantren, sekaligus menggagas pembentukan Aswaja Center sebagai pusat kajian dan kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah. Pada bidang pengembangan SDM, ia menekankan pentingnya kaderisasi berjenjang bagi seluruh pengurus NU, badan otonom (Banom), dan lembaga-lembaga NU.

Sementara dalam bidang ekonomi, Asrori mendorong penguatan peran LPNU, pengembangan kerja sama ekonomi, serta optimalisasi pengelolaan program-program sosial melalui LAZISNU. Baginya, kemandirian ekonomi merupakan syarat penting bagi kemajuan organisasi dan kemuliaan warga Nahdliyin.

Di bidang organisasi, ia berkomitmen memperkuat tata kelola kelembagaan melalui konsolidasi rutin, pendataan warga NU, penguatan administrasi, pengaktifan tradisi Lailatul Ijtima’, serta pembangunan jaringan yang lebih luas dengan berbagai elemen masyarakat.

Figur yang Konsisten Aktif “Ngurusi” NU Akar Rumput

Perjalanan hidup Kyai Asrori Mustamar menggambarkan sosok yang tumbuh dari pesantren, ditempa oleh pengabdian, dan terus berjuang melalui organisasi. Dengan pengalaman panjang di dunia pendidikan Islam dan NU, ia menjadi salah satu figur yang konsisten mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan umat, penguatan pesantren, serta kebesaran Nahdlatul Ulama di Kabupaten OKU Timur dan Sumatera Selatan.

Ia rajin menyelenggarakan dan mengisi acara-acara ke-NU-an, berkeliling dari satu majelis ke majelis yang lain, di desa-desa, kecamatan hingga ke pelosok-pelosok yang untuk menjangkaunya memerlukan waktu dan tenaga ekstra karena lokasinya yang sangat jauh.

Bagi dirinya, mengabdi kepada NU bukan sekadar amanah organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga warisan para ulama sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus. (GD/SN)

Related posts