Info PesantrenKaderisasiKronikaSantri Keren

Luar Biasa, Usia 4 Tahun, Nadira dan Jihan Sudah Fasih Baca Qur’an

Siapa sangka, di usia yang bahkan belum genap lima tahun, dua santri kecil dari Ma’had Daarul Mumtaz sudah mampu menorehkan prestasi luar biasa dalam bidang Al-Qur’an.

Mereka adalah Aqilah Hafiza Nadira (4 tahun 0 bulan 17 hari) putri Bapak Haryono dan Ibu Semiati dan Jihan Zahwa Almahira (4 tahun 2 bulan 23 hari) putri Bapak Hermawan dan Ibu Fatmawati, santri TPQ Daarun Na’im yang baru saja melaksanakan Khotaman dan Imtihan ke XI.

Acara yang digelar dengan penuh khidmat ini menjadi bukti keseriusan Pesantren Daarul Mumtaz dalam mencetak generasi Qur’ani sejak usia dini. Nadira dan Jihan, meski masih sangat belia, telah menunjukkan kemampuan yang jarang dimiliki anak-anak seusianya.

Mereka bukan hanya sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil, tetapi juga menguasai hukum tajwid, bacaan ghorib, serta hafal Juz 30.

Khotaman ini semakin istimewa bagi Pesantren Daarul Mumtaz karena menjadi yang kedua kalinya bagi santri usia dini di bawah lima tahun di lingkungan Ma’had Daarul Mumtaz.

Sebelumnya, acara serupa telah sukses digelar untuk santri kecil lainnya, yakni Seinna Shaqueena Barrah binti Bapak Andi, Sanasta Hazimah Putri binti Bapak Heru Siswanto dan Chayra Chayatun Nufus binti Bapak Juniarto Zarkasi dan Khaira Shabira Aufa binti Bapak Fahimul Ulum yang juga mampu menakjubkan hadirin dengan hafalan Al-Qur’an, tajwid dan ghorib mereka.

Dalam sambutannya, Pengasuh Tahfidzul Qur’an Ma’had Daarul Mumtaz, Ibu Nyai Nurul Jannatun Na’imah, menegaskan bahwa keberhasilan anak-anak ini tidak terlepas dari keikhlasan orang tua wali dalam mendukung program pesantren.

“Kami di Daarul Mumtaz memiliki misi besar untuk mencetak anak hafal Qur’an di bawah usia 9 tahun. Itu bukan hal mustahil jika ada sinergi antara guru, orang tua, dan anak,” ujar beliau.

Senada dengan itu, Ning Nadiyya, Kepala TPQ Daarun Na’im, menjelaskan bahwa metode Qiraati yang diadopsi pesantren terbukti efektif dalam memudahkan anak-anak belajar Al-Qur’an.

“Metode ini membuat pembelajaran lebih mudah, cepat, sistematis, dengan hasil bacaan yang tartil dan lanyah,” katanya.

Sementara itu, Gus Damas Alhasy selaku Ketua Yayasan Daarul Mumtaz menegaskan bahwa pihaknya akan terus berbenah dan berinovasi dalam kegiatan belajar-mengajar santri.

“Kami siap mendukung anak-anak tumbuh maksimal, bukan hanya cerdas dalam hafalan Qur’an, tetapi juga memiliki kecerdasan komprehensif. Karena itu, di Ma’had Daarul Mumtaz, anak tidak hanya ngaji, tapi juga bisa bersekolah di PG-TK AL-Mumtaz dan di MIBS, sekolah Islam modern terpadu berbasis Tahfidzul Qur’an. MIBS dirancang untuk menyiapkan generasi Islam yang unggul, Qur’ani, berwawasan global, dan siap menjadi penggerak umat di era modern,” urainya.

Prestasi Nadira dan Jihan ini bukan hanya kebanggaan bagi wali santri dan pesantren, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas: bahwa mendidik anak mencintai Al-Qur’an tidak mengenal batas usia. Justru, semakin dini ditanamkan, semakin kokoh pula kecintaan itu terbentuk.

Pertumbuhan Kecerdasan Anak

Dari berbagai penelitian membuktikan jika usia dini (0-6 tahun) merupakan periode atau masa keemasan anak (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangannya selanjutnya.

Kecerdasan anak mencapai 50 persen pada usia 0 – 4 tahun, sebanyak 80 persen pada usia delapan tahun, dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun.

Ini berarti masa emas seorang anak berada pada usia dini, sebelum berusia 7 tahun.

Pada masa emas tersebut, kecepatan pertumbuhan otak anak sangat tinggi, mencapai 50 persen dari keseluruhan perkembangan otak anak selama hidupnya.

Di masa ini, seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa. Maka, manfaatkanlah kehebatan otak anak dengan membiasakan dengan hal-hal positif.

Dengan membiasakan hal-hal positif, termasuk menghafal Alqur’an dan Amal sholeh, InsyaAllah orang tua dapat melahirkan anak-anak saleh, cerdas, dan tangguh sehingga kelak bisa menjadi “Generasi Harapan”.

Acara Khotaman dan Imtihan XI ditutup dengan doa bersama, penuh rasa syukur atas anugerah Allah yang diberikan kepada Nadira dan Jihan.

Harapannya, mereka kelak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang membawa cahaya ilmu dan kebaikan bagi orang tuanya, bagi umat dan bangsa. (SN)

Related posts