Aspirasi SantriEditor's PicksKaderisasiMasyayikhPolitikSantri Keren

Gus Damas Alhasy: Jejak Santri, Warisan Ulama, & Inovasi Zaman

Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak yang khawatir tradisi pesantren akan tenggelam oleh derasnya gelombang perubahan zaman. Namun, ada sosok muda yang berusaha menjembatani dua dunia: menjaga akar warisan ulama sekaligus membawa pesantren meraih relevansinya di era digital.

Sosok itu adalah Gus Damas Alhasy, S.S., seorang pendidik, penggerak, dan inovator yang kini memimpin Ma’had Daarul Mumtaz, Karang Melati, Belitang BK23, OKU Timur.

Gus Damas lahir dari keluarga pesantren. Ia adalah cucu dari KH. Ali Hasyim Al-Mursyid, ulama kharismatik Lampung Tengah yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Ngali Punggur.

Mbah Ngali bukanlah ulama biasa. Beliau adalah seorang mursyid besar Thariqah Khalidiyah Naqsyabandiyah, dengan jamaah dan santri yang jumlahnya puluhan ribu tersebar luas di berbagai penjuru Nusantara, terutama Jawa dan Sumatera. Beliau juga pendiri Pondok Pesantren Baitul Mustaqim Punggur, sebuah pesantren yang menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan spiritualitas di Lampung.

Sebagai cucu seorang kyai besar, Gus Damas tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan teladan kesederhanaan, pengabdian, dan kepemimpinan spiritual. Nilai-nilai ini kelak menjadi fondasi kuat dalam kiprah dan jalan hidupnya.

Dari Pesantren ke Kampus

Lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren, Gus Damas menjadi akrab dengan tradisi pesantren, tempat dimana ia belajar tentang kedisiplinan, keikhlasan, dan semangat mencari ilmu. Lingkungan ini membentuk karakter dasar yang teguh: bahwa ilmu harus diiringi dengan adab, perjuangan, dan pengabdian.

Setelah menamatkan pendidikan di pesantren, Gus Damas memutuskan melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris, satu pilihan yang jauh berbeda dari teman-temannya saat itu, yang umumnya mengambil jurusan agama.

Pilihan tersebut bukan sekadar bersifat akademis, melainkan strategi visioner. Ia menyadari bahwa bahasa adalah kunci peradaban, dan menguasai bahasa Inggris berarti membuka jendela dunia bagi generasi muda pesantren dan bangsa.

Selama duduk di bangku kuliah, Gus Damas juga aktif menjadi motor penggerak kegiatan mahasiswa dengan menjabat sebagai ketua SEMA (Senat Mahasiswa) dan selanjutnya menjadi ketua BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Membangun English Solution Center (ESC)

Dari studinya itu, ia berhasil meraih gelar Sarjana Sastra (S.S.). Bekal ini menjadi modal bagi beliau untuk mendirikan English Solution Center (ESC) pada tahun 2000 di Jakarta.

ESC (www.englishsolutioncenter.com) yang beliau dirikan hadir bukan sekadar sebagai lembaga pembelajaran bahasa Inggris, melainkan lembaga konsultan khusus yang membantu siswa, santri, dan mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Di bawah pengelolaan Gus Damas sebagai CEO, ESC menjadi pusat solusi yang memadukan:

  • Penguasaan bahasa Inggris akademik (IELTS, TOEFL, TOEIC, PTE, Writing)
  • Bimbingan persiapan studi dan beasiswa luar negeri.
  • Pendampingan agar generasi muda mampu berkompetisi di level global.

ESC tumbuh dan berkembang menjadi sebuah lembaga terpercaya yang kliennya bukan saja individu tetapi juga corporate seperti Pertamina, Bank Indonesia, Bank Mandiri, Telkomsel atau Bursa Efek Jakarta, bahkan institusi negara seperti Sekretariat Negara, BSSN, DPR RI atau TNI dan POLRI dan banyak lagi yang lain pernah menghire ESC.

ESC adalah cerminan visi besar Gus Damas: bahwa santri dan anak-anak bangsa Indonesia layak memiliki kesempatan yang sama untuk menembus pendidikan internasional.

Kiprah Gus Damas tidak berhenti pada dunia bahasa. Ia dikenal sebagai sosok multi-talenta yang menggeluti berbagai bidang:

  • Manajemen & SDM: menyusun strategi organisasi, mengelola lembaga, dan mengembangkan kepemimpinan.
  • Jurnalistik & Literasi: aktif menulis, menyampaikan gagasan, serta menggerakkan literasi di kalangan santri dan masyarakat.
  • IT & Digitalisasi: memanfaatkan teknologi untuk manajemen pesantren, literasi digital, digital marketing hingga pengembangan edutech.
  • Socio-Creativepreneurship: mendorong kemandirian santri melalui kewirausahaan kreatif berbasis nilai Qur’ani.

Di Jakarta, pada tahun 2018, bersama tiga sahabatnya: Eriklex Donald, Nico Pattinasarany dan Yohan Putra, ia mendirikan PT. Gelato Global Anextama, perusahaan yang bergerak di bidang EO (Event Organizer) dan Export Import Training.

Pada medio 2019 hingga 2022, beliau bersama team mendapat kepercayaan dari Kemendag RI untuk menggerakkan UKM Indonesia untuk Go Global, menembus pasar ekspor.

Ia juga sempat aktif menjadi pemateri dalam berbagai seminar dan workshop, mulai dari seminar bahasa Inggris, manajemen lembaga pendidikan, manajemen pesantren, pemberdayaan UKM, pelatihan jurnalistik, digital marketing, workshop UKM go ekspor, pengkaderan NU, pemberdayaan Kampung Santri, dan lain-lain.

Dengan kebisaan lintas bidang ini, Gus Damas, yang juga anggota Entrepreneur University Jakarta, klub para pengusaha muda,  mencoba berbagi pengalaman, mengamalkan ilmu, mengenalkan nilai-nilai pesantren dan mengeksplorasi modernitas, sehingga apa yang kita upayakan tetap relevan dengan kemajuan era 5.0.

Ma’had Daarul Mumtaz: Integrasi Tradisi dan Modernitas

Amanah besar kini ia pikul sebagai pengasuh dan pengelola Ma’had Daarul Mumtaz. Pesantren yang terletak di Karang Melati, OKU Timur ini, ia kembangkan, bersinergi dengan sang istri, Ibu Nyai Nurul Jannatun Na’imah, S.Ag., M.Pd., Al-Hafidzah, dengan konsep integratif, yakni menggabungkan tahfidzul Qur’an, pendidikan formal, penguasaan bahasa, literasi digital, serta entrepreneurship santri.

Di bawah kepemimpinannya, Daarul Mumtaz tidak hanya menjadi sebuah pesantren modern yang terintegrasi dengan Mumtaz Islamic Boarding School (MIBS), melainkan juga laboratorium pusat pengembangan santri untuk siap menghadapi tantangan global.

Ia juga memberdayakan OSIP (Organisasi Santri Intra Pesantren) sebagai wadah kaderisasi kepemimpinan; OSIP menjadi penggerak semua kegiatan santri. Dengan cara ini, santri belajar disiplin, tanggung jawab, manajemen waktu, hingga berorganisasi dengan baik. Outputnya, santri tidak hanya menjadi penghafal Qur’an, tetapi juga calon pemimpin, pendidik, penggerak umat dan wirausahawan yang siap mengabdi.

Kiprah Organisasi: Dari NU hingga PKB

Selain fokus di pesantren, Gus Damas juga aktif dalam dunia organisasi dan pengkaderan. Ia merupakan Kader Menengah NU (alumni PMKNU) dan terlibat aktif di Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Selatan, bahkan menjadi salah satu tokoh muda yang turut membangkitkan eksistensi NU Kota Palembang, yang sempat la yamuutu wala yahya karena vakum kegiatan dalam beberapa periode, melalui PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak NU) untuk mengkader para nahdliyin Kota Palembang.

Gus Damas tidak hanya menginisiasi, tetapi juga menjadi ketua pelaksana pengkaderan PKPNU Kota Palembang, yang kelak para kadernya menjadi penggerak kebangkitan kiprah NU di Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

Tidak berhenti di sana, Gus Damas juga sempat aktif di RMI Sumsel, Banser NU dan di LPP PKB (Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Kebangkitan Bangsa) Provinsi Sumatera Selatan, memperluas kiprahnya dalam ranah sosial-politik berbasis nilai ke-NU-an. Semua ia lakukan untuk mempertajam intuisinya dalam menelaah serta menjiwai NU dan politik NU.

Saat ini, ia aktif sebagai Sekretaris DPP FORPESS Sumsel (Forum Pesantren Sumatera Selatan), LDNU Sumsel, Hebitren, anggota Himasal, Gawagis Nusantara dan Gawagis OKU Timur, forum para putra dan cucu kyai yang berkomitmen melanjutkan estafet perjuangan para kyai dan ulama.

Keterlibatannya di berbagai organisasi dan forum menunjukkan keluasan jejaringnya, sekaligus komitmennya untuk mengabdi bukan hanya di ranah pesantren, tetapi juga masyarakat luas dan bangsa.

Inspirasi Perjuangan

Dari perjalanan hidupnya, kita dapat melihat sebuah benang merah: tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Gus Damas membuktikan bahwa santri bisa mendunia tanpa meninggalkan akarnya, dan pesantren bisa maju tanpa kehilangan ruh keikhlasannya.

Warisan dan didikan Mbah Ngali Punggur menjadi suluh perjuangan: sederhana, ikhlas, istiqamah. Namun Gus Damas mengemasnya dengan wajah baru: modern, digital, inovatif. Dari sini lahirlah visi besar: mencetak generasi Qur’ani yang berdaya saing global, berakhlak mulia, dan siap memimpin masa depan.

Perjalanan hidup Gus Damas Alhasy adalah cermin perjuangan generasi baru pesantren. Ia tumbuh dari akar spiritual yang dalam, mengembangkan sayap keilmuan di perguruan tinggi, lalu terjun mengabdi melalui pesantren, organisasi, dan lembaga pendidikan.

Dari sinilah kita belajar, bahwa perjuangan ulama tidak boleh berhenti. Estafet itu harus dilanjutkan oleh generasi muda yang berani, kreatif, dan visioner. Dan Gus Damas adalah salah satu di antaranya—sosok santri visioner di era digital.

Biografi Gus Damas Alhasy, S.S.

Profil Singkat

Nama Lengkap: Gus Damas Alhasy, S.S.
Gelar Akademik: Sarjana Sastra (S.S.)
Kiprah:

  • Founder & CEO ESC (English Solution Center), Jakarta
  • Co-Founder PT. Pamasabi Karya, Jakarta
  • Co-Founder & CMO PT. Legato Global Anextama, Jakarta
  • Pendiri & Pengasuh Ma’had Daarul Mumtaz, Karang Melati
  • Pendidik, Penulis, Motivator, Pengajar IELTS, TOEFL, TOEIC, PTE, Academic Writing
  • Penggerak dan Praktisi Revitalisasi Pesantren Salafiyah di Era 5.0
  • Penggerak Kader Nahdlatul Ulama
  • Kader Menengah NU (Alumni PMKNU)
  • Anggota Banser Sumatera Selatan
  • Sekretaris LDNU Sumatera Selatan
  • Sekretaris FORPESS (Forum Pesantren Sumatera Selatan)
  • Dewan Pakar Hebitren OKU Timur
  • Bidang Keahlian: Bahasa Inggris, Manajemen Pendidikan Pesantren, Manajemen Kelembagaan, UKM & Marketing, IT & Digital, Bahasa & Sastra, Leadership, dan Socio-Creativepreneurship.

(SN)

Related posts