Editor's PicksInfo PesantrenKaderisasiKail (Kajian Ilmu)MasyayikhSantri Keren

Pesantren Al-Khoziny, Sejarah dan Jejak Sanad Keilmuan Ulama Nusantara

Pesantren Al-Khoziny, yang lebih dikenal dengan nama Pesantren Buduran, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional terlama dan paling berpengaruh di Jawa Timur. Berlokasi di Jalan KHR Moh Abbas I/18, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Masyarakat mengaitkan pesantren yang berdiri pada tahun 1915 ini tidak hanya dengan pendidikan agama, melainkan juga sebagai pusat keilmuan, spiritualitas, dan kontribusi sosial dalam beragam masa.

Nama Ponpes Al Khoziny diambil dari nama pendirinya, yaitu KH Raden Khozin Khoiruddin. Beliau merupakan menantu dari KH Ya’qub, pengasuh Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga, yang menunjukkan akar keilmuan dan jaringan ulama yang kuat.

Di tengah tragedi runtuhnya sebagian bangunan di pondok ini pada akhir September 2025, penting untuk kembali melihat akar, kiprah, dan warisan yang telah dibuatnya selama lebih dari seabad.

Dari pesantren inilah lahir ulama besar, wali-wali Allah, dan pejuang bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk Islam dan Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, serta KH Wahab Hasbullah dari Tambakberas, Jombang.

Selain itu, tokoh-tokoh yang pernah menimba ilmu di Ponpes Al Khoziny antara lain KH Usman Al Ishaqi dari Al-Fitrah Kedinding, Surabaya, hingga KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo.

Jejak kontribusi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo dalam melahirkan ulama-ulama besar ini menunjukkan perannya yang tak tergantikan dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Akar Sejarah yang Menyatu dengan Para Wali

Pesantren Al-Khoziny didirikan oleh seorang ulama besar yang dikenal dengan sebutan KH. Khozin Khoiruddin, seorang alim yang memiliki kedalaman ilmu luar biasa dan keistiqamahan yang menakjubkan.

Beliau hidup di masa akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, dan dikenal luas sebagai salah satu ahli falak (astronomi Islam) terkemuka di Jawa Timur.

Dalam catatan lisan para santri dan masyarakat sekitar, KH. Khozin bukan sekadar seorang guru, tapi juga wali yang memiliki karomah. Dikisahkan, beliau mampu menentukan arah kiblat hanya dengan mengamati bayangan matahari di sore hari tanpa alat bantu apa pun—dan hasilnya selalu tepat ketika diuji secara ilmiah.

Keahliannya ini kemudian menempatkan Al-Khoziny sebagai pusat ilmu falak dan hisab yang sangat disegani di kalangan pesantren-pesantren tradisional.

Di balik kealimannya, KH. Khozin juga seorang ‘abid yang hidup zuhud. Beliau tidak banyak bicara, namun setiap kata yang keluar dari lisannya menjadi wejangan yang menembus hati. Banyak murid dan tamu datang dari jauh hanya untuk sekadar meminta doa, dan sering kali doa beliau menjadi sebab datangnya keberkahan.

Sumber keilmuan KH. Khozin tak bisa dilepaskan dari KH. Kholil Bangkalan, ulama karismatik yang disebut-sebut sebagai gurunya para kiai besar Nusantara. Dari beliau lahir para tokoh monumental seperti KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Wahab Hasbullah, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Bisri Syansuri, dan banyak lagi.

KH. Khozin termasuk salah satu murid yang mendapat perhatian khusus dari KH. Kholil. Dalam beberapa kisah, disebutkan bahwa Kiai Kholil pernah berpesan kepada santri-santrinya:

“Jika ingin belajar ilmu hakikat dan falak, pergilah ke Buduran. Di sana ada Khozin yang ilmunya dalam dan hatinya bersih.”

Pesan ini menjadi semacam pengakuan spiritual: bahwa Pesantren Al-Khoziny adalah kelanjutan mata rantai keilmuan dan karomah dari Mbah Kholil Bangkalan.

KH. Hasyim Asy’ari Santri Al-Khoziny

Satu hal yang jarang diketahui publik: KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pendiri Pesantren Tebuireng, pernah menimba ilmu di Al-Khoziny Buduran. Dalam catatan sejarah lisan para sesepuh, beliau belajar di sana sebelum melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke berbagai pesantren besar di Jawa.

Hubungan antara Tebuireng dan Al-Khoziny pun tetap terjalin erat hingga hari ini. Banyak kiai dan ulama besar Jawa Timur yang merupakan alumni Al-Khoziny, atau setidaknya punya sanad keilmuan yang bersambung kepada KH. Khozin. Di antara mereka ada yang menjadi pengasuh pesantren besar, ada yang menjadi mufti, bahkan ada yang menjadi marja‘ dalam ilmu falak dan fiqh di lingkup Nahdlatul Ulama.

Pesantren Ilmu dan Akhlak

Pesantren Al-Khoziny sejak awal berdiri tidak hanya mengajarkan ilmu syariat, tetapi juga menanamkan adab dan keikhlasan. Di pesantren ini, santri dididik agar tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga mampu mengabdi. KH. Khozin sering berpesan:

“Ilmu tanpa adab seperti api tanpa cahaya. Ia panas, tapi tak menerangi siapa pun.”

Sampai hari ini, nasihat itu menjadi napas pendidikan di Al-Khoziny. Para pengasuh yang merupakan dzurriyah (keturunan) KH. Khozin menjaga warisan itu dengan penuh cinta dan istiqamah. Meski zaman berubah, nilai-nilai kesederhanaan, khidmah, dan keikhlasan tetap menjadi ruh utama pesantren.

Tradisi pengajaran di Ponpes Al Khoziny sangat konsisten, menekankan pendidikan salaf yang mendalam melalui pemahaman kitab kuning. Bimbingan langsung dari para kiai memastikan para santri tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga meneladani nilai-nilai spiritual melalui pengamalan lima tarekat utama.

Setelah wafatnya KH Moch Abbas pada tahun 1978, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya, KH Abdul Mujib Abbas. Di bawah pengasuhannya, pondok terus berkembang dengan mendirikan berbagai jenjang pendidikan formal.

Pada tahun 1964, Madrasah Tsanawiyah Al-Khoziny didirikan, disusul Madrasah Aliyah Al-Khoziny pada tahun 1970, dan Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1975. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum departemen agama, yang kemudian dilengkapi dengan pendidikan tinggi seperti Sekolah Tinggi Diniyah (1982), yang diformalisasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) pada tahun 1993, dan kini berkembang menjadi Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.

Karomah Kyai Khozin

Cerita tentang karomah KH. Khozin tidak pernah berhenti diceritakan. Banyak warga Buduran meyakini bahwa sumur di lingkungan pesantren memiliki air yang membawa berkah. Konon, siapa pun yang meminumnya dengan niat mencari keberkahan ilmu akan dimudahkan urusannya.

Tak sedikit juga alumni yang bersaksi, setelah bertabaruk (memohon doa dan berkah) di makam KH. Khozin, hidup mereka menjadi lebih tenang dan penuh keberuntungan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa siapa pun yang datang dengan niat belajar sungguh-sungguh di Al-Khoziny, akan mendapatkan ilmu yang ladunni—ilmu yang datang dari Allah tanpa proses rasional panjang.

Kini, di bawah kepemimpinan dzurriyah dan para pengasuh penerusnya, Pesantren Al-Khoziny terus bertransformasi. Kurikulum modern dipadukan dengan tradisi salaf yang kokoh.

Di bidang falak, pesantren ini masih menjadi rujukan nasional dalam penentuan awal bulan hijriah dan arah kiblat. Sementara di bidang pendidikan, Al-Khoziny juga aktif melahirkan kader ulama, akademisi, dan pendakwah yang berperan di berbagai penjuru negeri.

Buduran kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga kota ilmu dan barokah—karena keberadaan Al-Khoziny di dalamnya. Sebuah pesantren yang tidak sekadar berdiri dari bata dan genting, tetapi dari doa, ilmu, dan karomah para wali.

Pesantren Al-Khoziny bukan hanya bagian dari sejarah Islam di Sidoarjo. Ia adalah sumbu spiritual Nusantara, tempat ilmu, adab, dan karomah bertemu menjadi cahaya yang menuntun umat.

Dari sinilah kita belajar, bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan — tetapi madrasah ruhaniyah, tempat manusia ditempa menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan berberkah.

Dalam setiap sujud santri Kyai Khozin, masih terdengar gema doa para pendirinya:
“Ya Allah, jadikan pesantren ini pelita ilmu dan rumah cahaya bagi umat hingga akhir zaman.”

Related posts