Aspirasi SantriDawuh GuruKail (Kajian Ilmu)Tanya Ustadz

Cara Mudah Memahami Akidah Aswaja Nahdlatul Ulama

Ketika berbicara tentang Nahdlatul Ulama (NU), tidak bisa dilepaskan dari akidah yang menjadi dasar pijakan organisasi ini, yaitu akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Akidah ini bukan hanya sekadar doktrin keagamaan, melainkan sebuah jalan berpikir, cara beragama, bahkan cara hidup yang diwariskan oleh para ulama salaf.

Di sinilah letak keistimewaan NU: menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang murni, sembari menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman.

المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيْدِ الأَصْلَحِ

Mempertahankan hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Secara bahasa, Ahlus Sunnah Wal Jamaah berarti golongan yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan tetap bersatu dalam jamaah umat Islam. Dalam terminologi NU, akidah Aswaja adalah keyakinan Islam yang berlandaskan pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, ijma’ (kesepakatan ulama), dan qiyas (analogi hukum), sebagaimana diwariskan oleh ulama salaf yang lurus.

Aswaja NU berposisi sebagai jalan tengah (tawassuth), tidak terjebak pada ekstremitas kanan maupun kiri. Ia menolak sikap tekstual yang kaku tanpa pertimbangan konteks, sekaligus menghindari liberalisme yang melepaskan diri dari tradisi.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا

“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya.” (HR. al-Baihaqi)

Akidah Aswaja NU berpijak pada pemikiran dua tokoh besar dalam sejarah Islam, yakni Imam Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H). Keduanya berhasil merumuskan kerangka teologi yang menjawab tantangan zamannya, dengan memadukan antara teks wahyu dan daya pikir manusia.

Aswaja dalam Bingkai Nahdlatul Ulama

Dalam praktik hukum ibadah maupun muamalah, NU mengikuti madzhab Syafi’i, meski tetap membuka ruang toleransi bagi tiga madzhab lain—Hanafi, Maliki, dan Hanbali—dengan prinsip menghormati perbedaan. Imam Syafi’i sendiri pernah menegaskan:

رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ

“Pendapatku benar tapi bisa salah, dan pendapat orang lain salah tapi bisa benar.”

Ungkapan ini menunjukkan kerendahan hati dan keluasan pandangan, yang kemudian diwarisi oleh NU dalam prinsip tasamuh (toleransi) terhadap perbedaan pendapat.

Di sisi lain, dalam hal tasawuf, NU meneladani ajaran para sufi besar yang menekankan keseimbangan antara syariat, hakikat, dan akhlak. Dua tokoh utama yang dijadikan rujukan adalah Imam al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menulis:

لَيْسَ الطَّرِيقُ إِلَى اللهِ بِكَثْرَةِ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ، وَلَكِنْ بِسَلاَمَةِ الصَّدْرِ وَسَخَاءِ النَّفْسِ وَالنَّصِيحَةِ لِلأُمَّةِ

“Jalan menuju Allah bukan sekadar dengan banyak shalat dan puasa, melainkan dengan hati yang bersih, jiwa yang dermawan, dan ketulusan untuk umat.”

Dengan mengikuti garis tasawuf akhlaki ini, NU menegaskan bahwa jalan sufi adalah jalan keseimbangan: ibadah yang taat kepada Allah, akhlak yang indah kepada sesama, dan kepedulian yang nyata bagi kehidupan sosial.

Perpaduan itullah yang kemudian dikenal sebagai Trilogi Aswaja NU: Akidah, Syariah, dan Tasawuf.

Akidah Aswaja NU juga tidak berdiri di menara gading teoretis, melainkan hidup dalam amaliyah sehari-hari: tahlilan, manaqiban, ziarah kubur, shalawat, hingga tradisi keagamaan yang membumi dan menenteramkan umat.

Selain itu, NU meyakini keesaan Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, menolak segala bentuk penyamaan Allah dengan makhluk, dan menegaskan bahwa Allah “tidak serupa dengan sesuatu pun” sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan seperti Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, dan lain-lain, yang disebut dengan sifat 20.

Karakter Aswaja NU

Karakter akidah Aswaja NU tercermin dalam sikap sehari-hari. Ia mengajarkan tawassuth (moderasi), sehingga warga NU tidak mudah terjebak dalam ekstremisme.

Ia juga menekankan tasamuh (toleransi), sehingga NU bisa hidup berdampingan dengan berbagai kelompok yang berbeda pandangan.

Ia menanamkan tawazun (keseimbangan), agar seorang Muslim tidak hanya mementingkan akhirat, tetapi juga memperhatikan kehidupan dunia.

Dan yang tak kalah penting, ia mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, namun dilakukan dengan penuh hikmah, kelembutan, dan keteladanan, bukan dengan kekerasan.

Sehingga dalam menghadapi perbedaan, NU tidak mudah menghakimi. Sebagaimana ungkapan Junaid al-Baghdadi:

طَرِيقُنَا هَذَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

“Jalan kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”

Di era modern yang penuh tantangan, akidah Aswaja NU semakin menemukan relevansinya. Ketika banyak orang terjebak dalam arus radikalisme yang gemar mengkafirkan sesama Muslim, Aswaja NU menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah.

Ketika dunia digital dipenuhi hoaks dan ujaran kebencian, Aswaja NU mengajarkan kesejukan berpikir dan kesantunan dalam berbicara. Bahkan dalam konteks kebangsaan, Aswaja NU menjadi dasar kokohnya persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan, karena NU percaya bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman.

Aswaja NU adalah warisan berharga dari ulama salaf yang relevan sepanjang masa. Ia mengikat umat pada prinsip keimanan yang murni, sekaligus membekali mereka dengan sikap yang bijak, toleran, dan seimbang.

Dengan memahami akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah ala NU, kita sesungguhnya diajak untuk merasakan Islam sebagai agama yang menenangkan, membimbing, sekaligus memberi solusi bagi problem kehidupan.

Akidah ini bukan hanya teori, tetapi nyata dalam perilaku: bagaimana umat Islam bisa beriman dengan kuat, beribadah dengan benar, berakhlak dengan indah, serta bermasyarakat dengan damai.

Di tengah zaman yang serba berubah, Aswaja NU hadir sebagai pegangan yang kokoh agar umat Islam tetap teguh dalam iman, tegak dalam amal, dan luas dalam persaudaraan. (*)

Oleh; Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts