Aspirasi SantriEditor's PicksKail (Kajian Ilmu)PendidikanPolitik

Jelang Abad Kedua NU: Antara Warisan Besar dan Krisis Konsolidasi Organisasi

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang selama hampir satu abad lebih telah memainkan peran penting dalam kehidupan keagamaan, sosial, pendidikan, dan kebangsaan.

Namun, menjelang memasuki abad kedua keberadaannya, muncul berbagai kritik dan kegelisahan dari warga nahdliyin dan banyak pihak terkait arah organisasi yang dinilai mengalami kemunduran dalam aspek tata kelola, konsolidasi internal, dan orientasi perjuangan.

Kritik ini tidak lahir dari kebencian terhadap NU. Sebaliknya, kritik muncul justru karena kecintaan terhadap organisasi yang didirikan oleh para ulama besar dan muassis seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan para masyayikh lainnya.

Krisis Solidaritas Internal

Salah satu persoalan yang paling sering dikeluhkan adalah melemahnya soliditas organisasi. Jika pada masa lalu NU dikenal mampu menyatukan berbagai kepentingan di bawah semangat khidmah dan ukhuwah, kini muncul kesan bahwa sebagian elit organisasi lebih sibuk mempertahankan pengaruh masing-masing.

Di berbagai tingkatan kepengurusan, muncul keluhan mengenai proses administrasi organisasi yang tersendat. Pengesahan Surat Keputusan (SK) kepengurusan di sejumlah daerah mengalami keterlambatan bahkan berlarut-larut. Akibatnya, banyak pengurus wilayah maupun cabang kesulitan menjalankan program secara maksimal karena tidak memiliki legitimasi formal yang diperlukan.

Kondisi tersebut memunculkan kesan adanya tarik-menarik kepentingan di tingkat elit yang berdampak langsung pada jalannya organisasi di akar rumput.

Politik Organisasi Semakin Dominan

Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah menguatnya praktik politik internal. Banyak kader dan warga NU menilai bahwa kompetisi dalam organisasi tidak lagi semata-mata berbasis kapasitas, integritas, dan pengabdian, melainkan banyak dipengaruhi oleh kedekatan kelompok, jaringan, maupun afiliasi tertentu.

Tidak sedikit kritik yang menyebutkan bahwa setelah proses pemilihan suatu kepengurusan berlangsung secara demokratis, hasilnya masih dapat dipersoalkan apabila pemenangnya dianggap tidak berasal dari kelompok yang diinginkan oleh pihak tertentu.

Sinyalemen tersebut tentu perlu dibuktikan pada setiap kasus secara objektif. Namun fakta bahwa persepsi tersebut berkembang luas menunjukkan adanya problem kepercayaan yang tidak boleh diabaikan.

Organisasi sebesar NU membutuhkan mekanisme yang transparan dan konsisten agar setiap keputusan dapat diterima sebagai hasil musyawarah yang sah, bukan sekadar kemenangan kelompok tertentu.

Menjauh dari Spirit Para Muassis?

Kritik yang lebih mendasar menyangkut arah perjuangan organisasi. Sebagian warga nahdliyin merasa bahwa NU mulai menjauh dari semangat awal yang diwariskan para pendirinya.

Para muassis NU membangun organisasi ini sebagai wadah khidmah umat, pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan penjagaan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Jabatan dipandang sebagai amanah, bukan tujuan.

Namun realitasnya, budaya kompetisi jabatan semakin dominan. Perebutan posisi strategis kerap menyita perhatian publik lebih besar dibandingkan pembahasan mengenai pendidikan pesantren, penguatan ekonomi umat, kaderisasi ulama, atau pemberdayaan masyarakat.

Akibatnya, muncul pertanyaan kritis dari warga nahdliyin: apakah NU masih bergerak berdasarkan cita-cita para ulama pendirinya, ataukah hanya tempat perebutan kekuasaan?

Hubungan NU dan PKB

Isu lain yang tidak kalah menarik adalah hubungan antara NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Secara historis, PKB lahir dari rahim komunitas nahdliyin pasca reformasi. Karena itu, selama bertahun-tahun banyak masyarakat memandang PKB sebagai representasi politik warga NU.

Namun dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara elit PBNU dan elit PKB mengalami ketegangan yang cukup terbuka. Perbedaan pandangan mengenai posisi, sejarah, kewenangan, dan hubungan kelembagaan membuat kedua pihak beberapa kali terlibat polemik di ruang publik.

Akibatnya, warga NU di akar rumput menghadapi kebingungan. Di satu sisi, PKB selama ini dikenal dekat dengan kultur nahdliyin. Di sisi lain, muncul pernyataan-pernyataan dari sebagian elit yang menegaskan bahwa NU sebagai organisasi tidak terikat dengan partai politik tertentu.

Bagi sebagian warga, konflik ini dianggap sebagai pertarungan pengaruh yang tidak memberikan manfaat langsung bagi umat. Mereka berharap hubungan keduanya dapat kembali diletakkan dalam kerangka saling menghormati tanpa harus saling menegasikan.

Kepemimpinan Era Gus Yahya

Di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf, NU mengusung berbagai agenda besar, termasuk diplomasi global, penguatan peran internasional NU, dan pengembangan gagasan Islam untuk peradaban dunia.

Namun pada saat yang sama, kritik bermunculan terkait kondisi internal organisasi. Sebagian kalangan menilai perhatian terhadap agenda global belum sepenuhnya diimbangi dengan penyelesaian persoalan konsolidasi di tingkat daerah.

Mereka berpendapat bahwa penguatan struktur organisasi dari pusat hingga ranting seharusnya menjadi prioritas utama sebelum berbicara mengenai peran global yang lebih luas.

Tentu saja pendukung kepemimpinan saat ini memiliki pandangan berbeda. Mereka menilai berbagai langkah pembenahan organisasi sedang berjalan dan membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasil.

Jalan Keluar

Menjelang abad kedua NU, tantangan terbesar sesungguhnya bukan berasal dari luar organisasi, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

NU memerlukan rekonsiliasi internal yang tulus, penegakan aturan organisasi secara konsisten, penghormatan terhadap hasil-hasil musyawarah dan demokrasi organisasi, serta pengembalian orientasi perjuangan kepada semangat khidmah yang diwariskan para muassis.

Warga nahdliyin tidak membutuhkan pertunjukan konflik elit yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan organisasi yang hadir untuk memperkuat pendidikan, membina pesantren, memberdayakan ekonomi umat, menjaga tradisi keilmuan, dan menjadi teladan akhlak dalam kehidupan berbangsa.

Abad kedua NU harus menjadi momentum kebangkitan baru. Dan kebangkitan itu hanya mungkin terjadi apabila seluruh unsur organisasi mampu menempatkan kepentingan jamaah dan umat di atas kepentingan kelompok, faksi, maupun kursi kekuasaan.

Jika tidak, maka usia NU yang semakin tua hanya akan menjadi angka sejarah, sementara ruh perjuangan yang diwariskan para ulama pendiri perlahan kehilangan daya hidupnya di tengah dinamika zaman. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts