Khutbah Pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran, amanah, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis. Masjid berdiri di mana-mana. Majelis taklim tumbuh subur. Jamaah haji dan umrah terus bertambah. Acara keagamaan memenuhi ruang publik.
Namun di tengah suasana religius tersebut, kita masih menyaksikan korupsi yang terus terjadi.
Pertanyaannya, mengapa korupsi justru merajalela di negeri yang agamis?
Jawabannya karena banyak orang mengenal agama, tetapi belum menghayati agama. Agama dipelajari, tetapi tidak diamalkan. Agama dibicarakan, tetapi tidak dijadikan pengendali hawa nafsu.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”
(QS. An-Nisā’: 29)
Korupsi adalah bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Korupsi bukan hanya kejahatan hukum. Korupsi adalah dosa besar. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah. Korupsi adalah perampasan hak rakyat secara tersembunyi.
Jamaah rahimakumullah,
Mengapa korupsi begitu mudah terjadi?
Pertama: Lemahnya rasa muroqobah kepada Allah
Muroqobah adalah perasaan bahwa Allah selalu melihat kita. Banyak orang takut kepada atasan, takut kepada auditor, takut kepada aparat hukum, tetapi tidak takut kepada Allah.
Padahal Allah berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam dada.”
(QS. Ghāfir: 19)
Kedua: Cinta dunia yang berlebihan
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَىٰ ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika cinta dunia menguasai hati, orang tidak lagi memikirkan halal dan haram. Yang penting kaya. Yang penting mewah. Yang penting terlihat sukses. Akibatnya, jabatan dijadikan alat mencari keuntungan.
Ketiga: Hilangnya amanah
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Tidak sempurna iman orang yang tidak memiliki amanah.”
(HR. Ahmad)
Ketika amanah hilang, jabatan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab, tetapi sebagai kesempatan.
Anggaran negara dianggap harta warisan. Fasilitas negara dianggap milik pribadi. Kekuasaan dianggap hak untuk memperkaya diri. Padahal semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Korupsi tidak hanya mencuri uang negara. Korupsi mencuri masa depan anak-anak. Korupsi mencuri hak orang miskin. Korupsi mencuri kesempatan rakyat memperoleh pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang layak. Karena itu, korupsi adalah kezaliman yang sangat besar.
Marilah kita menjaga diri, keluarga, dan lingkungan kita dari segala bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Jangan mengambil yang bukan hak kita. Jangan memanfaatkan jabatan untuk keuntungan pribadi. Jangan menghalalkan segala cara demi harta dunia.
Karena harta yang sedikit tetapi halal lebih baik daripada harta yang melimpah tetapi menjadi bahan bakar api neraka.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَىٰ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu penyakit terbesar bangsa ini bukan kurangnya orang pintar, bukan kurangnya orang beragama, melainkan kurangnya kejujuran dan amanah.
Kita membutuhkan lebih banyak orang yang takut kepada Allah daripada takut kepada pengawasan manusia. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang melayani daripada memanfaatkan jabatan. Kita membutuhkan generasi yang bangga dengan rezeki halal meskipun sederhana.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisā’: 58)
Marilah kita berdoa kepada Allah SWT.
Doa
