Kami menulis ini bukan sebagai pengamat politik, bukan pula sebagai bagian dari elit organisasi. Kami hanyalah jamaah Nahdliyin yang hidup di desa-desa, yang kesehariannya dekat dengan musholla, pesantren, sawah, dan pengajian rutin. Dari ruang sederhana itulah kami memandang Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar yang selama ini meneduhkan.
Karena itu, konflik internal yang terjadi di tubuh PBNU belakangan ini sungguh menghadirkan kegelisahan tersendiri bagi kami di tingkat bawah. Terus terang, konflik ini bukan hanya persoalan struktural di tingkat pusat, tetapi juga telah menjadi beban moral dan psikologis bagi jamaah yang selama ini setia berkhidmah tanpa banyak suara.
Sejak awal, kami dididik dalam tradisi NU untuk mengutamakan khidmah, ta’dhim, dan tawadhu’. Kami diajari untuk menghormati ulama dan kiai sebagai pewaris ilmu dan akhlak Rasulullah ﷺ. Prinsip sami’na wa atho’na kami pahami bukan sebagai kepatuhan buta, melainkan sebagai bentuk adab dan kepercayaan kepada para alim yang selama ini menjadi rujukan kami dalam beragama dan bermasyarakat.
Dalam kehidupan kami, semboyan “nggandoli sarung kiai ben selamet dunyo akhirot” bukan sekadar ungkapan, tetapi prinsip hidup. Kami selalu memberi tempat yang mulia bagi para ulama, masyayikh, dan kiai NU. Keteladanan para muasis NU pun terus kami ingat sebagai fondasi berorganisasi dan beragama: mengedepankan musyawarah, menjaga persatuan, dan menghindari konflik yang merusak umat.
Namun, melihat dinamika yang berkembang di PBNU hari ini, kami jujur merasa bingung. Konflik yang berlarut-larut, saling klaim kebenaran, dan menguatnya polarisasi antar-kubu membuat kami bertanya dalam hati: di manakah nilai-nilai NU yang selama ini diajarkan oleh para pendahulu?
Terlebih ketika konflik ini dipersepsikan publik sebagai pertarungan dua kubu besar, yang oleh masyarakat awam disebut sebagai Kubu Sultan dan Kubu Kramat. Bagi kami di akar rumput, istilah-istilah semacam ini terasa berat dan menyakitkan. NU yang kami kenal adalah jam’iyah keagamaan dan sosial, bukan arena pertarungan kekuasaan.
Kami juga tidak bisa menutup mata terhadap beredarnya pandangan di ruang publik bahwa konflik ini berkaitan dengan kepentingan ekonomi, khususnya soal konsesi pengelolaan tambang. Bahkan ada kekhawatiran bahwa NU sengaja diseret ke wilayah ini agar terjebak dalam konflik internal, mengingat peran strategis NU sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang selama ini menjadi penyangga persatuan bangsa dan NKRI.
Kami tidak dalam posisi untuk memastikan kebenaran semua anggapan tersebut. Namun sebagai jamaah, kegelisahan itu nyata. Dan kegelisahan ini melahirkan satu harapan besar dari bawah:
Kami berharap NU benar-benar kembali ke khittahnya.
NU kami rindukan sebagai organisasi yang fokus mengurusi umat:
pesantren, madrasah, masjid, musholla, pendidikan keagamaan, dakwah, dan amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah. Kami percaya, urusan teknis seperti tambang dan proyek ekonomi besar lebih tepat diserahkan kepada ahlinya. NU tidak lahir untuk mengejar proyek, tetapi untuk menjaga umat dan akidah umat.
Tulisan ini bukan bentuk perlawanan, apalagi pembangkangan. Ini adalah suara lirih dari bawah, dari jamaah yang selama ini setia dan bangga menjadi bagian dari NU. Kami hanya berharap konflik di tingkat elit dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan jalan yang baik, dengan mengedepankan kemaslahatan umat dan bangsa di atas kepentingan apa pun.
Kami rindu NU yang teduh.
Kami rindu para kiai yang menjadi teladan.
Kami rindu NU yang kembali mempersatukan, bukan membingungkan.
Semoga suara kecil ini berkenan didengar dan menjadi bahan pertimbangan agar beban batin jamaah di akar rumput dapat berkurang, dan NU kembali menjadi rumah besar yang menenteramkan. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.
