Konflik internal elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang kian runcing dan melebar telah melahirkan rasa malu, kecewa, bahkan marah di kalangan sebagian generasi muda dan kader NU. Bukan semata karena konflik itu terjadi, tetapi karena “cara konflik itu dipertontonkan”: kehilangan adab, minim ta’dhim, miskin keteladanan, dan sarat kepentingan duniawi.
Apalagi NU hari ini sudah terbelah dalam kubu-kubu kekuasaan, yang disebut kubu “Sultan” dan kubu “Kramat”. Polarisasi ini bukan hanya persoalan perbedaan pandangan organisatoris, tetapi telah menjelma menjadi pertarungan pengaruh, akses ekonomi, dan legitimasi kekuasaan, yang ironisnya dibungkus dengan simbol-simbol keulamaan.
KH. Hasyim Asy’ari dan para muasis mendirikan NU bukan menjadi kendaraan kekuasaan, apalagi ladang perebutan sumber daya ekonomi seperti tambang dan konsesi negara. NU lahir dari kesadaran etik dan spiritual para ulama, terutama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, untuk menjaga agama, umat, dan negara, serta mengawal siapa pun yang berkuasa agar tidak melenceng dari nilai keadilan, kemanusiaan, dan keutuhan NKRI.
Muktamar, Harapan Besar, dan Kenyataan Pahit
Muktamar ke 34 NU di Lampung yang digadang-gadang sebagai momentum lahirnya The Dream Team untuk membawa NU memasuki abad kedua ternyata justru menghasilkan kekecewaan kolektif. Alih-alih menjadi teladan keulamaan dan kebijaksanaan, sebagian elit PBNU justru tampil sebagai aktor konflik yang saling sikut, saling mendelegitimasi, dan saling mengunci kepentingan.
Yang lebih mengkhawatirkan bukan konflik itu sendiri, melainkan hilangnya rasa malu. Etika khittah, adab ikhtilaf, dan tradisi tabayyun seakan ditanggalkan. Ruang publik dipenuhi pernyataan keras, sindiran terbuka, bahkan langkah-langkah organisatoris yang terasa brutal dan ahistoris.
NU hari ini sedang mengalami krisis etika dan krisis keteladanan. Ketika para elit yang selama ini dita’dhimi sebagai rujukan keilmuan dan moral justru memberi contoh buruk dalam berorganisasi.
Maka yang dipertaruhkan dari konflik yang terjadi hari ini bukan hanya reputasi PBNU, tetapi masa depan karakter NU itu sendiri.
Lalu Bagaimana Generasi Muda NU?
Di sinilah kegelisahan generasi muda NU menemukan relevansinya. Jika kebrutalan dalam mengurus organisasi NU hari ini menjadi preseden, maka NU berisiko mengalami degenerasi nilai. Yang diwariskan bukan lagi kealiman dan kebijaksanaan, melainkan kecakapan berpolitik tanpa etika.
Namun sejarah NU mengajarkan satu hal penting: NU tidak pernah mati karena konflik elit. NU hidup karena jaringan kulturalnya: pesantren, masjid, majelis taklim, santri, guru ngaji, dan kader-kader akar rumput yang bekerja dalam diam.
Generasi muda NU tidak boleh terjebak pada dua ekstrem: (1) apatis dan menarik diri, membiarkan NU dikuasai sepenuhnya oleh elit bermasalah, atau (2) meniru cara-cara buruk para ulama, kyai dan tokoh elit PBNU saat ini.
Apa yang Harus Dilakukan Generasi Muda NU?
-
Melakukan Reposisi Moral
Generasi muda NU harus berani mengatakan: yang salah adalah salah, meskipun dilakukan oleh tokoh besar. Ta’dhim bukan berarti membenarkan kebatilan. Kritik yang santun, berbasis argumen, dan berlandaskan nilai Aswaja adalah bentuk cinta tertinggi pada NU.
-
Menghidupkan Kembali NU Kultural
Ketika NU struktural gaduh, NU kultural harus diperkuat. Pesantren, lembaga pendidikan, kajian keislaman, gerakan sosial, dan pengabdian umat adalah jantung NU yang sesungguhnya.
-
Menyiapkan Kepemimpinan Alternatif
Generasi muda NU harus mulai mendidik diri menjadi pemimpin berilmu, beradab, dan berintegritas, bukan sekadar piawai berjejaring politik. Kepemimpinan NU masa depan tidak boleh lahir dari transaksi, tetapi dari legitimasi moral.
-
Menjaga Jarak Kritis dengan Kekuasaan
NU bukan anti-negara, tetapi juga bukan alat negara. Generasi muda harus mengembalikan posisi NU sebagai penjaga etika kekuasaan, bukan penikmat remah-remah kekuasaan.
-
Membangun Tradisi Ikhtilaf yang Beradab
Perbedaan adalah keniscayaan. Namun NU memiliki tradisi panjang dalam mengelola ikhtilaf dengan adab. Tradisi inilah yang harus dirawat dan diwariskan.
NU tidak identik dengan PBNU semata. NU adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang berakar kuat di umat. Elit boleh berganti, konflik boleh datang silih berganti, tetapi nilai NU harus tetap dijaga. NU Lebih Besar dari Elitnya
Jika hari ini sebagian elit PBNU gagal menjadi teladan, maka tanggung jawab sejarah berpindah ke pundak generasi muda NU. Bukan untuk memberontak, tetapi untuk meluruskan. Bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menyelamatkan.
NU abad kedua tidak boleh dibangun di atas ambisi, tetapi harus dibangun di atas kealiman, kejujuran, dan keteladanan. Jika bukan generasi muda NU yang memulai, maka NU akan kehilangan jiwanya, dan itu adalah kekalahan yang jauh lebih besar daripada konflik apa pun. (Gus Damas Alhasy/SN)
