Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama kharismatik dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang, beliau mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam sekaligus membina generasi santri yang taat dan berpengetahuan.
Melalui pesantren Tebuireng yang didirikannya, Hadratus Syaikh mendidik ribuan santri dan ulama yang di kemudian hari menjadi pejuang kemerdekaan. Pengaruhnya meluas tidak hanya di bidang agama, tetapi juga dalam konteks sosial dan politik, di mana beliau terus berupaya menjaga persatuan umat dalam menghadapi tantangan penjajahan.
Pada awal kemerdekaan, ketika Belanda mencoba kembali menduduki Indonesia dengan mendompleng pasukan Sekutu, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari sebagai ulama besar dan pemimpin Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menginstruksikan kepada seluruh umat Islam, terutama santri dan ulama, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan dengan susah payah.
Resolusi ini menegaskan bahwa membela tanah air dari ancaman penjajah merupakan kewajiban agama, dan jika wilayah kaum Muslim diserang, maka jihad fisabilillah menjadi fardhu ‘ain atau kewajiban individu.
Fatwa tersebut segera membakar semangat rakyat, terutama di Surabaya, yang menjadi medan pertempuran paling sengit melawan pasukan Sekutu dan NICA.
Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan, merupakan kulminasi dari semangat jihad ini, di mana ribuan santri, ulama, dan rakyat bisa bersatu dalam perlawanan heroik mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dengan bekal spiritual yang kuat, mereka rela mengorbankan nyawa untuk menjaga kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan kembali. Tanggal 22 Oktober kini diperingati sebagai Hari Santri, mengenang Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sebagai tonggak sejarah peran santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Maka, Hari Santri bukan sekadar peringatan, tetapi menjadi simbol tanggung jawab moral dan spiritual santri dalam menjaga agama, bangsa, dan negara. Warisan semangat jihad kebangsaan yang diwariskan oleh Hadratus Syaikh terus mengalir dalam jiwa santri masa kini, mengingatkan mereka untuk tidak hanya menjadi pembelajar, tetapi juga penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan berpegang pada nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kecintaan pada tanah air, generasi santri diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menghadapi tantangan zaman, siap membangun masa depan bangsa dengan penuh semangat kebangsaan, disiplin moral, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari bukan hanya seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal dengan resolusi jihadnya, tetapi juga seorang pemikir ulung, penulis yang produktif, pendidik sejati, dan pelaku ekonomi yang cermat. Beliau mendirikan Pesantren Tebuireng yang bukan hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi sentra ekonomi yang mandiri.
Dengan karyanya seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim, Hadratus Syaikh menunjukkan bahwa perjuangan di medan ilmu sama pentingnya dengan perjuangan fisik melawan penjajahan.
Sebagai seorang pemikir, beliau menawarkan konsep pendidikan yang holistik, di mana ilmu harus ditanamkan dengan akhlak yang mulia dan sikap yang tawadhu. Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim adalah salah satu karya monumental dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang membahas tentang etika dalam proses belajar mengajar. Kitab ini berisi pedoman penting tentang bagaimana seorang murid harus bersikap dalam mencari ilmu, serta bagaimana seorang guru menjalankan peran pentingnya dalam mendidik.
Lebih dari sekadar panduan teknis, kitab ini menekankan aspek spiritual, moral, dan akhlak yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar ilmu yang dicapai membawa keberkahan dan manfaat bagi dirinya serta masyarakat. Pesan utama yang disampaikan dalam kitab ini adalah bahwa ilmu dan akhlak tidak dapat dipisahkan.
Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menempati posisi penting dalam tradisi pendidikan pesantren di Indonesia. Kitab ini tidak hanya dijadikan rujukan dalam proses pengajaran di pesantren-pesantren, tetapi juga menjadi pedoman moral bagi para pendidik dan santri dalam menghadapi tantangan zaman.
Di tengah modernisasi pendidikan, karya ini tetap relevan karena menekankan pentingnya karakter dan akhlak yang baik sebagai fondasi bagi ilmu pengetahuan. Melalui kitab ini, Hadratus Syaikh tidak hanya menunjukkan dirinya sebagai seorang ulama yang memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki visi jangka panjang dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing.
Berikut adalah uraian 10 akhlak santri yang diajarkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Ini adalah pesan yang relevan untuk kehidupan masa kini, dan semoga menginspirasi pembaca dalam menjalani kehidupan dengan moralitas yang kuat.
1. Membersihkan Hati dari Penyakit Hati
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa seorang santri harus membersihkan hati dari segala hal yang dapat mengotorinya, seperti dendam, iri hati, dengki, dan keyakinan yang sesat, agar mudah menerima ilmu dan menghafalnya.
Kebersihan hati adalah fondasi penting bagi pencari ilmu, karena hati yang kotor dapat menghambat pemahaman yang mendalam dan memicu perpecahan di tengah umat.
Pesan ini tetap relevan dalam konteks kehidupan saat ini, di mana dunia digital sering kali dipenuhi dengan kebencian, kritik yang tidak membangun, dan fitnah yang berpotensi merusak. Informasi yang begitu cepat tersebar melalui media sosial kerap kali menggoda santri untuk terjebak dalam perselisihan yang sia-sia.
Pada era sekarang, ketulusan menjadi universal currency yang semakin langka, namun tetap sangat berharga. Dalam dunia yang penuh kepentingan dan manipulasi, ketulusan hati dalam berinteraksi, belajar, dan menyampaikan ilmu menjadi nilai yang dihormati oleh semua orang, terlepas dari latar belakang budaya atau agama. Nilai ketulusan ini membangun kepercayaan, baik di lingkungan akademik, sosial, maupun profesional.
Santri yang mampu menjaga kejernihan hati dan bertindak tulus dalam belajar serta bergaul akan mendapatkan kemudahan dalam meraih ilmu yang bermanfaat, sekaligus menjaga kehormatan diri dan lingkungan di sekitarnya.
Dengan hati yang bersih dan niat yang tulus, santri dapat menjadi sosok yang dipercaya dan dihormati, serta memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat, tanpa tergoda untuk mengotori diri dengan hal-hal negatif yang banyak ditemukan di dunia maya maupun nyata.
2. Niat yang Ikhlas dalam Mencari Ilmu
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menggarisbawahi pentingnya niat yang tulus dalam menuntut ilmu, agar ilmu yang diperoleh tidak hanya berguna di dunia tetapi juga membawa keberkahan di akhirat. Ilmu yang dicari dengan niat karena Allah akan memberikan manfaat yang hakiki, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat, berbeda dengan ilmu yang dikejar semata-mata demi tujuan duniawi seperti harta, pangkat, atau popularitas, yang hanya berujung pada kesia-siaan.
Di zaman modern ini, banyak yang terjebak dalam persaingan akademik dan ambisi jabatan, di mana prestasi akademik, status, dan pengakuan sering menjadi fokus utama, sehingga mengaburkan niat awal dalam mencari ilmu. Tantangan bagi santri masa kini adalah menjaga agar niat mereka tetap murni dan tidak terpengaruh oleh godaan materialisme atau tekanan sosial yang terlalu mengedepankan hasil yang tampak seperti nilai, gelar, atau prestasi publik.
Hadratus Syaikh mengingatkan bahwa ilmu yang tulus dicari dengan niat untuk mengamalkan ajaran Islam dan mendekatkan diri kepada Allah akan membawa keberkahan yang lebih besar dan memberi dampak luas bagi masyarakat. Ilmu yang berlandaskan niat ikhlas tidak hanya memperkaya wawasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang berakhlak mulia, menjadikan santri sebagai agen perubahan yang memberi manfaat bagi sesama.
Dengan niat yang benar, santri dapat menggunakan ilmu mereka untuk berkontribusi dalam membangun bangsa, memimpin dengan adil, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin, sekaligus menjadikan setiap usaha belajar mereka sebagai amal yang terus mengalir hingga akhirat.
3. Memanfaatkan Masa Muda dengan Baik
KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya santri untuk memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya, mengingat waktu yang terlewat tidak akan bisa kembali.
Dalam nasihatnya, Hadratus Syaikh mengajarkan bahwa santri harus segera mempergunakan masa muda dan umur untuk menuntut ilmu tanpa terpedaya oleh angan-angan panjang atau kebiasaan menunda-nunda.
Santri juga diingatkan untuk memutus hal-hal yang dapat mengganggu fokus dalam belajar dan menghalangi keseriusan dalam menuntut ilmu. Pesan ini sangat relevan di era modern, di mana gempuran teknologi dan media sosial sering kali menjadi distraksi yang besar bagi para pemuda.
Banyak anak muda yang tenggelam dalam hiburan digital, yang tanpa disadari menyita waktu produktif mereka untuk belajar dan mengembangkan diri. Manajemen waktu menjadi kunci penting dalam meraih kesuksesan, karena dengan mengatur waktu secara bijak, santri dapat memanfaatkan setiap kesempatan belajar secara optimal. Menunda-nunda hanya akan membawa penyesalan, sementara waktu yang dimanfaatkan dengan baik akan membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar.
Melalui disiplin waktu, seorang santri bisa mengembangkan potensi maksimalnya, mengasah keterampilan, serta membangun fondasi yang kuat untuk masa depan.
Masa muda adalah fase emas yang harus diisi dengan aktivitas produktif, belajar, dan memperdalam ilmu, karena di masa inilah energi, semangat, dan daya pikir masih berada di puncak. Manajemen waktu yang baik bukan hanya tentang mengatur jam belajar, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara belajar, istirahat, dan ibadah agar mencapai keberkahan dan kesuksesan yang sejati.
4. Kesederhanaan dalam Hidup
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari juga mengajarkan agar santri hidup sederhana, menerima keadaan apa adanya, dan bersabar dalam menghadapi kekurangan. Kesederhanaan ini tidak hanya mengajarkan sikap menerima takdir, tetapi juga menjaga hati tetap bersih dari kecenderungan materialisme yang dapat merusak fokus dan tujuan utama dalam menuntut ilmu.
Dalam konteks modern, konsep ini sangat sejalan dengan prinsip frugal living, yaitu gaya hidup hemat dan sederhana yang berfokus pada kebutuhan esensial serta menghindari pemborosan. Frugal living menekankan pada pengelolaan sumber daya yang bijak, menghindari keinginan untuk memiliki lebih dari yang diperlukan, serta memprioritaskan hal-hal yang benar-benar bernilai dalam kehidupan.
Hadratus Syaikh mengingatkan bahwa dengan kesederhanaan, santri dapat menjaga hati dari godaan duniawi, sehingga lebih mudah bersyukur dan tetap tenang dalam menjalani hidup. Kesederhanaan bukan hanya soal kemampuan mengatur kebutuhan materi, tetapi juga melatih disiplin diri, sehingga santri mampu mencapai tujuan spiritual dan intelektual tanpa teralihkan oleh ambisi dunia yang berlebihan.
5. Manajemen Waktu yang Baik
Hadratus Syaikh memberikan perhatian besar pada pentingnya membagi waktu dengan baik. Di era sekarang, manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri di tengah kesibukan dan distraksi teknologi.
Santri diajarkan untuk cerdas dalam mengelola waktu belajar, istirahat, dan beribadah. Dengan pengaturan waktu yang tepat, santri dapat mengoptimalkan potensi mereka untuk mencapai prestasi akademik dan spiritual yang seimbang. Ajaran ini menjadi pengingat penting bahwa waktu adalah aset berharga yang tidak bisa diulang, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
6. Mengurangi Makan dan Minum Berlebihan
Hadratus Syaikh menasihati agar santri tidak berlebihan dalam makan dan minum. Di era modern, di mana pola hidup tidak sehat semakin umum, ajaran ini sangat relevan. Makan dan minum berlebihan dapat mengganggu produktivitas dan kesehatan, sementara menjaga pola makan yang sehat akan membantu santri tetap fokus dalam belajar dan ibadah.
Pola hidup sehat yang diajarkan oleh Hadratus Syaikh tidak hanya bermanfaat bagi fisik, tetapi juga bagi spiritual, karena tubuh yang sehat mendukung pikiran dan hati yang jernih.
7. Bersikap Wara’ (Hati-Hati dalam Hal Syubhat)
Dalam kitabnya, Hadratus Syaikh menekankan pentingnya sikap wara’, yaitu berhati-hati terhadap hal-hal yang tidak jelas halal-haramnya. Di era globalisasi, di mana informasi, makanan, dan budaya dari berbagai belahan dunia bisa diakses dengan mudah, sikap wara’ menjadi semakin penting.
Santri harus cermat dalam memilih apa yang mereka konsumsi, baik itu makanan, informasi, maupun gaya hidup, agar tetap sesuai dengan ajaran Islam. Sikap ini akan membantu santri tetap berada di jalur yang benar dan menjaga diri dari hal-hal yang bisa menyesatkan.
8. Menghindari Makanan yang Bebal bagi Pikiran
Hadratus Syaikh mengingatkan tentang pentingnya menjaga makanan yang dapat mempengaruhi kecerdasan otak. Di era sekarang, ini bisa diartikan sebagai menjaga pola makan sehat yang mendukung kinerja otak, sehingga santri dapat belajar dengan lebih efektif.
Selain itu, ini juga bisa diartikan secara metaforis, yaitu menghindari ‘makanan’ dalam bentuk informasi yang bisa membuat pikiran tumpul, seperti berita hoaks atau konten yang tidak mendidik di media sosial.
9. Mengurangi Waktu Tidur Berlebihan
Waktu tidur yang berlebihan akan membuat santri menjadi malas dan kehilangan kesempatan untuk belajar atau beribadah. Di era sekarang, godaan untuk tidur larut karena aktivitas online atau hiburan semakin besar.
Ajaran Hadratus Syaikh ini mengingatkan bahwa santri harus menjaga keseimbangan waktu tidur yang cukup tetapi tidak berlebihan, agar tetap produktif dan fokus dalam menjalani hari.
Waktu tidur yang seimbang akan memberikan energi yang cukup untuk menuntut ilmu dan beribadah dengan baik.
10. Menjauhi Pergaulan yang Tidak Bermanfaat
Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam Adabul ’Alim wal Muta’allim menekankan pentingnya memilih pergaulan yang baik karena akhlak dan kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Beliau mengingatkan bahwa pergaulan yang tidak bermanfaat, baik dengan orang yang tidak berakhlak atau dalam suasana yang penuh hiburan tanpa manfaat, dapat menghilangkan fokus santri dari tujuan utamanya, yaitu menuntut ilmu.
Dalam konteks tantangan generasi Z saat ini, di mana media sosial mendominasi interaksi sehari-hari, pergaulan tidak lagi terbatas pada pertemuan fisik, tetapi juga mencakup komunitas virtual yang dapat memberikan pengaruh besar.
Banyak dari mereka yang terjebak dalam pergaulan online yang penuh dengan konten negatif, hoaks, atau gaya hidup hedonis, yang berisiko mengikis nilai-nilai moral dan spiritual. Oleh karena itu, pesan Hadratus Syaikh untuk berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan sangat relevan, menjadi peringatan bagi Gen Z agar lebih selektif dalam berinteraksi di dunia maya.
Pergaulan yang buruk, meski hanya di media sosial, dapat dengan cepat menjerumuskan seseorang ke dalam kebiasaan negatif, kehilangan identitas diri, dan mengabaikan tujuan hidup yang lebih mulia.
Pesan Universal
Pesan-pesan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari ini bukan hanya relevan bagi santri, tetapi juga pesan yang universal dan diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan dengan akhlak yang mulia dan moralitas yang kuat.
Di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh godaan, ajaran-ajaran ini menjadi panduan moral yang tak lekang oleh waktu, mengingatkan kita untuk selalu menjaga keikhlasan, ketulusan, dan disiplin dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan.
Sebagai refleksi peringatan Hari Santri, ajaran Hadratus Syaikh tentang 10 akhlak santri dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menjadi pijakan penting dalam membentuk karakter santri masa kini.
Pesan-pesan yang mengajarkan kebersihan hati, keikhlasan dalam menuntut ilmu, manajemen waktu, dan hidup sederhana tetap relevan di era modern yang penuh dengan tantangan digital dan globalisasi.
Santri harus mampu menjaga moralitas dan integritas dalam mengejar ilmu serta menjauhkan diri dari pergaulan dan aktivitas yang sia-sia. Nilai-nilai ini menjadi fondasi bagi santri untuk terus berkontribusi dalam kemajuan bangsa, tanpa kehilangan identitas dan prinsip moral mereka.
Sejalan dengan tema Hari Santri 2024, “Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan,” santri masa kini diharapkan dapat melanjutkan semangat perjuangan para ulama terdahulu.
Dengan menginternalisasi 10 akhlak santri sebagai panduan moral, santri akan mampu menghadapi masa depan dengan lebih siap, baik dari segi spiritual maupun intelektual.
Tantangan yang ada di masa depan, seperti perubahan teknologi dan dinamika sosial, dapat dihadapi dengan kekuatan akhlak yang kokoh. Santri tidak hanya menjadi pengikut, tetapi juga pemimpin yang mampu membawa bangsa ini menuju masa depan yang lebih cerah, penuh dengan kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai agama dan moralitas luhur.
