Aspirasi SantriEditor's PicksInfo PesantrenKaderisasiKronikaMasyayikh

Ketika Adab Hilang: Kegelisahan Nahdliyin dari Arena Munas NU di Ploso

Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama tahun 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, sejatinya diharapkan menjadi momentum untuk mengembalikan ruh perjuangan NU ke pesantren dan memperkuat tradisi musyawarah para ulama. Forum ini memang dirancang sebagai ruang pertemuan para kiai, ulama, dan pengurus NU untuk membahas berbagai persoalan strategis organisasi menuju abad kedua NU.

Namun, apa yang terekam dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial justru menghadirkan kegelisahan di kalangan warga Nahdliyin. Di tengah forum yang seharusnya menjadi teladan adab dan musyawarah, terlihat beberapa peserta berdiri, menunjuk-nunjuk, mengangkat tangan, dan berteriak dalam suasana yang memanas.

Yang membuat banyak orang semakin prihatin, pemandangan tersebut terjadi di hadapan para kiai sepuh dan pengasuh pesantren yang selama ini menjadi simbol kewibawaan moral dan spiritual NU.

Publik kemudian bertanya: apakah ini masih NU yang selama ini dikenal sebagai organisasi para ulama?

Nama Nahdlatul Ulama sendiri secara harfiah berarti “kebangkitan para ulama”. Sejak didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari dan para muassis lainnya, NU dibangun bukan hanya di atas fondasi ilmu, tetapi juga adab.

Bahkan dalam tradisi pesantren, adab sering kali ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Seorang santri boleh berbeda pendapat dengan gurunya, tetapi tidak boleh kehilangan rasa hormat. Seorang murid boleh menyampaikan kritik, tetapi tidak boleh menghilangkan takzim.

Karena itu, yang membuat banyak warga NU kecewa bukan semata-mata adanya perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang lumrah dalam organisasi besar. Yang menjadi persoalan adalah ketika cara menyampaikan pendapat mulai kehilangan etika kepesantrenan.

NU selama puluhan tahun dihormati bukan karena kekuatan massa semata. Banyak organisasi lain memiliki anggota besar. Banyak kelompok lain memiliki jaringan luas. Yang membedakan NU adalah budaya tawaduk, budaya menghormati ulama, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah yang santun.

Ketika forum-forum NU mulai dipenuhi teriakan, interupsi yang berlebihan, saling tuding, dan pertunjukan ego kelompok, maka sesungguhnya yang terancam bukan hanya ketertiban sidang. Yang terancam adalah identitas NU itu sendiri.

Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Banyak kalangan menilai bahwa apa yang tampak di forum hanyalah puncak gunung es dari konflik elit yang sudah berlangsung cukup lama. Ketika para tokoh dan elit organisasi saling berhadap-hadapan, saling mempertahankan pengaruh, dan saling mengklaim kebenaran, maka suhu konflik di tingkat bawah pun ikut meningkat.

Warga melihat bahwa keteladanan yang dahulu menjadi kekuatan utama NU mulai berkurang. Jika para elit tidak lagi menunjukkan sikap saling menghormati, maka jangan heran apabila sebagian kader dan peserta forum merasa tidak perlu lagi menjaga adab dalam menyampaikan pendapat.

Inilah yang menjadi kekhawatiran terbesar. NU perlahan berisiko bergeser dari organisasi ulama menjadi organisasi yang hanya dipenuhi perebutan posisi dan pengaruh. Orang berlomba menjadi pengurus, tetapi lupa meneladani akhlak para ulama. Semangat khidmah digantikan semangat kompetisi. Musyawarah berubah menjadi arena pertarungan.

Padahal masyarakat tidak berharap NU menjadi organisasi yang paling keras suaranya. Masyarakat berharap NU tetap menjadi organisasi yang paling teduh sikapnya.

Di tengah suasana bangsa yang semakin bising oleh pertengkaran politik, publik justru membutuhkan NU sebagai contoh bagaimana perbedaan dapat dikelola dengan kebijaksanaan. Ketika organisasi para ulama pun terjebak dalam pola yang sama dengan organisasi politik pada umumnya, maka masyarakat kehilangan salah satu teladan terakhir tentang pentingnya adab dalam kehidupan publik.

Munas di Ploso seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tetapi untuk bertanya dengan jujur: apakah NU masih setia pada warisan para muassisnya?

Karena pada akhirnya, kebesaran NU tidak diukur dari jumlah anggotanya, tidak pula dari banyaknya aset dan lembaganya. Kebesaran NU diukur dari kemampuannya menjaga warisan akhlak para ulama.

Jika adab hilang dari musyawarah, maka yang tersisa hanyalah keramaian. Dan keramaian tidak pernah cukup untuk menjaga marwah sebuah organisasi yang menyandang nama besar: Nahdlatul Ulama. (Gus Damas Alhasy/SN)

Related posts