Aspirasi SantriEditor's PicksPolitik

Parlemen Ikut Kecam Trans7 Atas Tayangan Provokatifnya

Sebuah tayangan dari program “Xpose” di stasiun televisi Trans7 telah menyulut api kemarahan besar di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan publik luas.

Program tersebut dinilai telah melecehkan martabat seorang ulama sepuh dan kharismatik dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yaitu KH. Anwar Manshur.

Akibatnya, kecaman keras datang langsung dari parlemen dan seruan untuk memboikot Trans7 kini menggema di media sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kontroversi ini meledak dari sebuah cuplikan video yang menampilkan momen para santri dan jamaah dengan penuh takzim (rasa hormat) menyalami sang kiai yang sedang duduk.

Namun pemandangan yang dalam tradisi pesantren dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi ini justru diberi narasi yang sangat kontras dan dianggap merendahkan oleh narator program.

Narasi suara dalam tayangan tersebut secara provokatif menyoroti bagaimana para santri rela “ngesot” (merangkak) hanya untuk bisa mencium tangan dan memberikan amplop kepada sang kiai.

Lebih jauh narator mempertanyakan mengapa seorang kiai yang sudah kaya justru menerima uang dari santrinya dan bukan sebaliknya.

Narasi inilah yang dianggap sebagai sebuah pelecehan dan penyesatan informasi yang sangat tidak pantas.

Reaksi keras dari Senayan

Kecaman paling keras datang dari Anggota Komisi VI DPR RI yang juga merupakan legislator dari daerah pemilihan Kediri, Anggia Ermarini.

la menegaskan bahwa manajemen Trans7 harus segera meminta maaf secara terbuka dan menarik tayangan tersebut.

“Kharisma kiai tidak bisa dipermainkan, jangan asal memberikan narasi tanpa memperhatikan isi dan dampaknya terhadap masyarakat”, tegas Anggia di Jakarta, selasa (14/10).

la mengingatkan bahwa pondok pesantren adalah benteng moral bangsa yang memiliki peran besar dalam sejarah pendidikan Indonesia dan tidak sepantasnya dijadikan objek sensasi media.

“Itu bentuk pemberitaan yang sangat tidak proporsional dan menyesatkan”, tandasnya.

Kini bola panas ada di tangan Trans7, mereka dihadapkan pada pilihan untuk segera meminta maaf dan memperbaiki kesalahan atau terus menghadapi gelombang kemarahan publik dan potensi boikot yang bisa merusak citra mereka secara jangka panjang. (SN)
#viral

Related posts