Aspirasi SantriEditor's PicksKaderisasiPolitikSantri Keren

Yang Harus Dilakukan Kader NU untuk Memperkuat Perannya

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di dunia memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan bangsa, mengembangkan peradaban, dan mengawal nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di tengah dinamika global.

Namun, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasinya, melainkan juga pada soliditas kader yang mampu bergerak bersama, berdaya, dan berkontribusi nyata untuk umat dan bangsa.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan kader NU untuk memperkuat barisan dan kontribusinya? Berikut beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan:

  1. Memperkuat Akidah dan Ideologi Aswaja An-Nahdliyah

Kader NU harus kokoh dalam ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah. Pemahaman terhadap fikrah (pemikiran), harakah (gerakan), dan amaliyah (tradisi) NU harus terus ditanamkan dan diamalkan, misalnya, rajin:

  • Ikut halaqah, bahtsul masail, dan kajian Aswaja secara rutin.
  • Menyebarkan pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Dengan akidah yang kuat, kader NU tidak akan mudah terombang-ambing oleh paham radikal, liberal, atau pragmatisme politik yang merusak di era digital saat ini.

  1. Menjaga Ukhuwah dan Soliditas Internal

Persatuan adalah kekuatan. Perbedaan pendapat dalam NU wajar terjadi, namun jangan sampai memecah belah barisan. Kader NU harus mengedepankan:

  • Ukhuwah Nahdliyah (persaudaraan antarwarga NU).
  • Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antarumat Islam).
  • Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan).

Hindari konflik internal, fitnah, dan perpecahan akibat perbedaan politik. Ingat pesan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari: “Cintailah ulama dan jangan memusuhinya.”

  1. Aktif dalam Kegiatan Organisasi dan Sosial

Kader NU bukan hanya anggota di atas kertas, tapi harus menjadi pelaku aktif di lapangan.

  • Hadir dalam musyawarah, pelatihan kader (PKPNU, Makesta, Lakmud, Lakut, dll.).
  • Berkontribusi dalam program sosial NU, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi umat, dan penanggulangan bencana.
  • Terlibat dalam jam’iyah (NU struktural) maupun jama’ah (NU kultural).
  1. Menguasai Literasi Digital dan Media

Di era digital, kader NU harus menguasai teknologi informasi agar dapat menyebarkan dakwah Aswaja melalui media sosial.

  • Buat konten positif, edukatif, dan sesuai nilai NU.
  • Lawan hoaks dan ujaran kebencian yang merusak persatuan umat.
  • Kuasai strategi branding agar citra NU tetap kuat di dunia maya.
  1. Mandiri Secara Ekonomi dan Menggerakkan Ekonomi Umat

Kontribusi besar NU tidak akan maksimal tanpa kemandirian ekonomi. Kader NU harus:

  • Mengembangkan wirausaha berbasis pesantren dan komunitas NU.
  • Membentuk koperasi, BMT, dan usaha mikro yang mendukung warga NU.
  • Mendorong kemandirian pesantren dan lembaga NU agar tidak bergantung pada pihak luar.
  1. Berkiprah di Semua Lini

NU bukan hanya soal agama, tetapi juga pendidikan, ekonomi, politik, budaya, dan teknologi. Kader NU harus:

  • Mengisi posisi strategis di pemerintahan, DPR/DPRD, ormas, dan dunia usaha.
  • Mengawal kebijakan publik agar sesuai nilai-nilai Pancasila dan NKRI.
  • Menjadi teladan dalam akhlak dan profesionalisme.
  1. Menanamkan Semangat Khidmah (Pengabdian)

Menjadi kader NU bukan soal gengsi, tetapi soal pengabdian untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan. Jadikan prinsip “Khidmah lillah” (mengabdi karena Allah) sebagai dasar dalam setiap langkah.

Kader NU memegang peranan penting dalam menjaga marwah organisasi, meneguhkan moderasi Islam, dan membangun peradaban bangsa. Dengan pemahaman Aswaja yang kokoh, ukhuwah yang solid, literasi digital yang mumpuni, kemandirian ekonomi, serta semangat khidmah, NU akan tetap menjadi pilar utama peradaban Islam di Indonesia. (*)

Penulis: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts