Kyai Imjaz adalah kuda hitam dari Cirebon, yang menandai bahwa regenerasi di tubuh NU sedang bergerak.
NU lahir dari rahim pesantren. Tradisi keilmuan, sanad, adab, tawadhu’, penghormatan kepada ulama, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi ruh NU, semuanya tumbuh dan berakar kuat di dunia pesantren. Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan NU, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan pesantren. Dan ketika kita berbicara tentang masa depan pesantren, kita juga sedang berbicara tentang kemampuan NU membaca perubahan zaman.
Di tengah momentum NU memasuki abad kedua dan menjelang Muktamar ke 35 untuk memilih pengurus NU masa khidmat 2026–2031, yang akan digelar di Tambakberas pada 27-31 Agustus 2026 ini, muncul sejumlah nama yang menarik untuk diperbincangkan sebagai alternatif kepemimpinan masa depan. Salah satu nama itu adalah KH. Imam Jazuli, Lc., MA, yang akrab disapa Kyai Imjaz.
Ia adalah tokoh muda kelahiran Cirebon, 17 November 1976, pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia. Namanya semakin banyak diperbincangkan karena keberhasilannya melakukan terobosan dalam pengelolaan pesantren dan pendidikan santri.
Kyai Imjaz bisa disebut sebagai kuda hitam. Bukan karena ia tidak memiliki pengalaman. Justru sebaliknya. Ia memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren, dunia akademik, organisasi, intelektualisme Islam, hingga pengelolaan lembaga dan bisnis. Hanya saja, ia belum selalu berada di pusat sorotan elite organisasi. Dan justru di situlah menariknya.
Latar Belakang Pendidikan
Perjalanan intelektual Kyai Imjaz merupakan kombinasi menarik antara tradisi pesantren, filsafat, wawasan global, strategi politik dan pertahanan, serta studi internasional.
Pendidikan pesantrennya dimulai di Pesantren Al-Ishlah Bobos Cirebon pada 1989, kemudian berlanjut ke Pesantren Majlis Tarbiatul Al-Mubtadi’ien (MTM) Kempek Cirebon pada 1992. Setelah itu ia menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri pada 1995.
Lirboyo bukan sekadar tempat belajar agama. Bagi banyak santri, Lirboyo adalah salah satu representasi kuat tradisi intelektual pesantren Nusantara yang bertumpu pada penguasaan khazanah keislaman klasik, kedalaman kitab, adab dan disiplin keilmuan.
Dari Lirboyo, cakrawala pendidikannya kemudian bergerak ke Mesir. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan menyelesaikannya pada 2000.
Di sinilah tradisi pesantren bertemu dengan dunia intelektual Islam yang lebih luas. Al-Azhar memberinya ruang untuk berinteraksi dengan tradisi pemikiran Islam, filsafat, teologi dan dinamika intelektual dunia Muslim.
Namun perjalanan akademiknya tidak berhenti di sana. Pada 2003, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Faculty of Human Science, Department of Political Strategic and Defence, Universiti Kebangsaan Malaysia. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di Department of International Strategic Studies, Universiti Malaya, Malaysia.
Jika ditarik garis besar, perjalanan pendidikan tersebut memperlihatkan satu hal penting: Kyai Imjaz tumbuh dari akar pesantren, tetapi cakrawala berpikirnya tidak berhenti di pagar pesantren.
Ia belajar dari tradisi, kemudian melihat dunia. Dan kemampuan menghubungkan keduanya inilah yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi zaman baru.
Terobosan Kyai Imjaz di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia menjadi semakin menarik jika dibaca dalam konteks tersebut.
Pesantren yang selama ini sering ditempatkan dalam stigma sebagai lembaga pendidikan yang tradisional, eksklusif, bahkan dianggap kurang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi Bina Insan Mulia, yang ia kelola, memperlihatkan figurasi yang berbeda.
Pesantren bisa tetap menjaga tradisi keislaman sekaligus mengembangkan pendidikan yang kompetitif. Santri tidak harus memilih antara kitab kuning atau ilmu pengetahuan modern. Tidak harus memilih antara pesantren atau perguruan tinggi kelas dunia. Tidak harus memilih antara kesalehan dan profesionalisme.
Justru semuanya harus dipadukan.
Inilah salah satu pesan penting dari model pendidikan yang dikembangkan Kyai Imjaz: santri harus mampu menguasai tradisi, tetapi juga harus mampu menaklukkan masa depan.
Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika dunia bergerak. Santri harus masuk ke tengah arena. Masuk ke perguruan tinggi terbaik. Masuk ke dunia profesional. Masuk ke dunia riset. Masuk ke teknologi. Masuk ke ruang-ruang strategis. Dan pada akhirnya, membawa nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren ke ruang kehidupan yang lebih luas.
Kyai Imjaz juga Bukan Orang Baru dalam Dunia Organisasi.
Semasa di Kairo, ia aktif dalam berbagai organisasi dan gerakan intelektual. Ia pernah menjadi pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Mesir, Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir, Ketua Lembaga Studi Filsafat Islam, Ketua Umum Sanggar Terjemah dan Pustaka, serta aktif di ICMI Orsat Kairo dan berbagai aktivitas lainnya.
Sepulang ke Indonesia, pengalaman organisasinya terus berkembang. Ia pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), organisasi yang menghimpun pesantren se-Indonesia, serta pernah menjadi bagian dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010–2015.
Ia juga tercatat sebagai Ketua Dewan Markaz Qur’an Indonesia, Dewan Pembina Faraid Center Indonesia, Direktur Utama PT Fikruna Center, Komisaris Utama PT Global Overseas Group, dan berbagai amanah lainnya.
Artinya, Kyai Imjaz tidak hanya memiliki pengalaman sebagai pendidik dan pengasuh pesantren. Ia memiliki pengalaman organisasi, pengalaman intelektual, pengalaman membangun lembaga, pengalaman berinteraksi dengan dunia internasional, dan yang tidak kalah penting, memiliki pengalaman bersentuhan dengan NU dari berbagai ruang.
Ia Bukan Sekedar Organisator, Ia juga Seorang Penulis
Sejumlah buku pernah lahir dari tangannya, antara lain Al-Quds Masalah Kita Bersama (1998), Pendidikan Karakter Bangsa & Nasionalisme (2010), Kitab Kebajikan (2011), Mengenal Syariat, Ma’rifat & Hakikat (2011), Rahasia Merubah Daun Menjadi Uang (2014), dan karya-karya lainnya.
Ia juga aktif menulis kolom dan artikel di sejumlah media nasional, antara lain Republika, Media Indonesia, NU Online, Majalah Integritas, serta media dan publikasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Kompetensi ini penting. Sebab NU memasuki zaman ketika kemampuan memproduksi gagasan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengelola struktur.
Organisasi besar tidak cukup hanya memiliki banyak orang. Ia harus memiliki banyak gagasan. Tidak cukup hanya memiliki massa. Ia harus memiliki visi. Tidak cukup hanya mempunyai struktur. Ia harus memiliki strategi.
Arah NU di Abad Kedua
NU kini telah memasuki abad kedua. Ini seharusnya bukan sekadar perayaan usia. Ini harus menjadi momentum untuk bertanya secara serius: NU mau dibawa ke mana?
Dunia hari ini bukan dunia yang sama dengan ketika NU didirikan.
Teknologi berubah. Ekonomi berubah. Politik berubah. Budaya berubah. Pendidikan berubah. Cara orang berkomunikasi berubah. Bahkan cara generasi muda mencari ilmu agama pun berubah.
Hari ini seorang anak muda dapat belajar dari seorang ulama di pesantren, membaca kitab melalui perangkat digital, mengikuti kajian dari berbagai negara, berdiskusi melalui media sosial, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperoleh informasi.
Perubahan itu tidak bisa dihentikan. Yang bisa dilakukan adalah mengarahkannya.
Karena itu NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca arus zaman. Bukan sekadar mengingat bagaimana kapal berlayar pada masa lalu, tetapi mengetahui ke mana kapal harus berlayar pada masa depan.
NU adalah kapal besar. Jamaahnya besar. Pesantrennya banyak. Lembaga pendidikannya luas. Strukturnya menjangkau hampir seluruh Indonesia. Tetapi kapal sebesar apa pun tetap membutuhkan nahkoda.
Dan nahkoda tidak boleh takut terhadap ombak. Ia harus mampu membaca angin, mengenali karang, menentukan arah, mengambil keputusan, dan berani berkata: “Kita harus berbelok sekarang, sebelum terlambat.”
NU membutuhkan pemimpin yang tegas, adaptif, transformatif, visioner dan berani mengambil risiko perubahan.
Bukan pemimpin yang hanya nyaman dengan status quo. Bukan pemimpin yang selalu menjadi pengikut arus. Bukan pemimpin yang ragu-ragu ketika menghadapi perubahan. Dan bukan pula pemimpin yang menganggap semua yang baru sebagai ancaman.
Sebab tidak semua perubahan adalah ancaman. Sebagian besar perubahan justru merupakan peluang.
Tetapi ada satu hal yang harus digarisbawahi. Transformasi NU tidak boleh berarti meninggalkan jati diri. Modernisasi NU tidak boleh berarti mencabut akar tradisinya. Dan perubahan tidak boleh berarti mengorbankan Aswaja.
Justru sebaliknya, yang harus dilakukan adalah ruh NU harus dijaga, harakah NU harus diperbaiki.
Aqidah Aswaja harus tetap. Tradisi pesantren harus tetap. Sanad keilmuan harus tetap. Akhlak harus tetap. Tawassuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal harus tetap.
Tetapi cara mengelola organisasi harus berkembang. Kaderisasi harus diperbaiki. Pendidikan harus ditransformasikan. Ekonomi umat harus diperkuat. Teknologi harus dikuasai. Komunikasi publik harus diperbarui. Dan NU harus berani memasuki arena global.
Itulah bedanya istiqomah dengan jumud. Istiqamah berarti teguh memegang prinsip. Jumud berarti membeku dalam cara. NU harus istiqamah, tetapi jangan menjadi jumud.
Dalam konteks inilah sosok Kyai Imjaz layak didukung untuk menjadi Ketua Umum NU. Bukan hanya untuk melengkapi jumlah kandidat yang maju. Bukan pula karena kepemimpinan NU cukup ditentukan oleh keberhasilan seseorang mengelola pesantren.
NU adalah organisasi yang sangat besar dan kompleks. Memimpin NU membutuhkan kemampuan konsolidasi, kemampuan merawat keberagaman internal, kecakapan organisasi, jaringan kebangsaan dan internasional, serta kemampuan menerjemahkan visi menjadi kebijakan dan gerakan nyata.
Namun justru karena itu, figur seperti Kyai Imjaz layak diberi ruang untuk diuji secara terbuka melalui gagasan dan rekam jejaknya.
NU tidak boleh hanya berputar pada nama-nama yang itu-itu saja. Regenerasi bukan sekadar mengganti orang. Regenerasi adalah menghadirkan cara berpikir baru untuk menghadapi persoalan baru.
Jika NU benar-benar ingin memasuki abad kedua dengan energi baru, maka ruang harus dibuka kepada generasi yang memiliki pengalaman pesantren sekaligus wawasan global. Generasi yang memahami kitab sekaligus memahami geopolitik. Generasi yang mengerti tradisi sekaligus teknologi. Generasi yang mampu berbicara kepada kiai-kiai sepuh tetapi juga mampu berdialog dengan generasi Z dan generasi Alpha.
Dan Kyai Imjaz mempunyai kombinasi pengalaman yang menarik dalam konteks tersebut.
Ada sebuah hubungan yang tidak boleh dilupakan: NU adalah pesantren besar. Pesantren adalah NU kecil.
Jika pesantren adalah laboratorium kader NU, maka inovasi yang berhasil di pesantren seharusnya menjadi bahan pembelajaran bagi organisasi. Jika pesantren mampu mengirim santri ke perguruan tinggi terbaik dunia, mengapa NU tidak boleh bercita-cita melahirkan kader-kader yang mampu memimpin institusi nasional bahkan internasional?
Jika pesantren mampu melakukan transformasi pendidikan, mengapa NU tidak berani melakukan transformasi organisasi? Jika pesantren mampu menjembatani tradisi dan modernitas, mengapa NU tidak melakukan hal yang sama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak diajukan. Karena abad kedua NU tidak boleh hanya menjadi abad kedua dalam hitungan umur. Ia harus menjadi abad kedua dalam cara berpikir.
Kyai Imjaz mungkin belum menjadi nama yang paling sering disebut dalam percakapan elite. Tetapi justru itulah yang membuatnya menarik.
Ia datang dari pesantren. Menempuh perjalanan intelektual dari Cirebon, Kediri, Kairo hingga Malaysia. Memiliki pengalaman organisasi. Memiliki pengalaman mengelola pendidikan. Memiliki pengalaman di dunia intelektual. Memiliki pengalaman dalam jaringan pesantren. Pernah berada di lingkungan PBNU. Dan kini memperlihatkan sebuah model pendidikan pesantren yang berusaha mendobrak batas-batas lama.
Ia adalah kuda hitam dari Cirebon. Dan dalam sebuah organisasi sebesar NU, kuda hitam bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia justru harus dilihat sebagai sinyal bahwa regenerasi sedang bergerak.
Kemana Kapal Besar Bernama NU akan Berlayar?
NU kedepan harus mampu mengubah kebesaran sejarah menjadi kekuatan masa depan. Untuk ini, NU membutuhkan pemimpin yang mampu membawa organisasi keluar dari zona nyaman. Pemimpin yang tidak alergi terhadap perubahan. Pemimpin yang tidak kehilangan akar ketika melihat dunia. Pemimpin yang tidak takut kepada teknologi. Pemimpin yang memahami geopolitik. Pemimpin yang memahami pendidikan. Pemimpin yang memahami generasi muda. Pemimpin yang mampu menggabungkan pesantren, intelektualisme, organisasi dan visi global.
Dan dalam konteks itulah, KH. Imam Jazuli, Lc., MA (Kyai Imjaz) layak diperhitungkan sebagai salah satu figur alternatif untuk menakhodai NU periode 2026–2031.
Bukan karena ia tanpa kekurangan. Bukan karena ia pasti menjadi jawaban tunggal. Tetapi karena NU membutuhkan lebih banyak pilihan, lebih banyak gagasan dan lebih banyak keberanian untuk membuka masa depan.
Para muassis NU telah mewariskan ruh perjuangan. Tugas generasi hari ini bukan mengubah ruh itu. Tugas kita adalah memastikan ruh tersebut tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ruhnya tetap. Nilainya tetap. Aswajanya tetap. Pesantrennya tetap. Tetapi harakah-nya harus bergerak.
NU didirikan bukan untuk menjadi fosil sejarah. NU didirikan untuk mengawal zaman. Dan memasuki abad kedua, sudah waktunya NU memilih nahkoda yang tidak hanya tahu dari mana kapal ini berangkat, tetapi juga memiliki keberanian untuk menentukan ke mana kapal besar bernama NU akan berlayar. (SN)
Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.
