Di zaman ketika popularitas sering kali dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan, masih ada sosok ulama yang memilih berjalan di arah sebaliknya. Ia tidak mengejar panggung, tidak mencari tepuk tangan, dan tidak membangun citra diri. Sosok itu adalah Mbah Riyan, seorang ulama muhaqqiq yang dikenal di dunia keilmuan Islam dengan nama Ibnu Harjo Al-Jawi.
Bagi masyarakat umum, nama Mbah Riyan mungkin belum begitu dikenal. Namun, di kalangan para peneliti, akademisi, dan ulama, karya-karyanya telah menjadi rujukan penting dalam berbagai disiplin ilmu Islam. Pemikirannya tidak hanya dibaca di Indonesia, tetapi juga menjadi referensi dalam kajian-kajian ilmiah yang membahas fiqih, ushul fiqih, hadits, aqidah, dan tasawuf.
Sebagai seorang muhaqqiq, Mbah Riyan dikenal memiliki ketelitian yang luar biasa dalam meneliti manuskrip, menelaah sanad keilmuan, mengoreksi naskah, serta mengungkap pendapat-pendapat ulama klasik berdasarkan metodologi ilmiah yang kuat. Keahlian inilah yang membuat karya-karyanya memperoleh tempat terhormat di kalangan para pencari ilmu.
Di antara karya-karya penting yang telah beliau lahirkan adalah Al-Ikhtisān, sebuah kajian ilmiah yang mengupas konsep istihsan secara mendalam; Haqīqatuhu wa Hujjiyatuhu, yang membahas hakikat dan kehujjahan istihsan dalam ushul fiqih; tahqiq atas kitab monumental Is‘āf al-Muthāli‘ karya Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, ulama besar Nusantara yang diakui dunia Islam; serta Tahqīq al-Kalimāt fī al-Bain al-Asy‘arī wa al-Hanbalī, sebuah karya yang mengkaji secara mendalam perbedaan dan titik temu pemikiran teologi antara mazhab Asy’ari dan Hanbali.

Karya-karya tersebut menunjukkan keluasan penguasaan Mbah Riyan terhadap khazanah keilmuan Islam. Tidak hanya fiqih dan ushul fiqih, tetapi juga hadits, aqidah, dan tasawuf. Setiap karya lahir melalui proses penelitian yang panjang, pembacaan terhadap manuskrip-manuskrip klasik, serta analisis ilmiah yang mendalam. Tidak mengherankan apabila hasil-hasil penelitiannya menjadi rujukan bagi para dosen, peneliti, mahasiswa, hingga para ulama.
Yang membuat sosok Mbah Riyan semakin istimewa adalah kesederhanaan hidup yang beliau pilih. Di tengah pengaruh intelektualnya yang mendunia, kehidupan sehari-harinya nyaris tidak berbeda dengan masyarakat di kampungnya. Hari-harinya dihabiskan sebagai seorang tukang bangunan.
Di sela-sela waktu luangnya, beliau memanfaatkan kesempatan untuk memancing di sungai atau kolam, sebagaimana kebiasaan warga desa pada umumnya. Tidak ada penampilan yang mencolok, tidak ada gaya hidup mewah, apalagi keinginan untuk dikenal sebagai seorang ulama besar.
Sulit membayangkan bahwa sosok yang setiap hari bergelut dengan pasir, semen, batu bata, dan adukan bangunan itu ternyata telah melahirkan karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan para ulama dan akademisi.
Di balik pakaian sederhana dan kehidupan yang begitu bersahaja, tersimpan keluasan ilmu yang menembus batas negara. Mbah Riyan seakan sengaja membiarkan masyarakat mengenalnya sebagai orang biasa, tanpa pernah merasa perlu menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya.
Di balik pengaruh intelektualnya yang begitu besar, Mbah Riyan tetap memilih hidup jauh dari sorotan publik. Beliau tidak membangun popularitas melalui media sosial, tidak berlomba tampil di berbagai forum, dan tidak menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperoleh ketenaran. Pilihan hidupnya adalah jalan sunyi—jalan yang dipenuhi keikhlasan, pengabdian, dan kesederhanaan.
Prinsip hidup itu pula yang terlihat ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan penghargaan MUI Award atas dedikasi dan kontribusi karya-karya ilmiahnya. Bagi sebagian orang, penghargaan tersebut merupakan kehormatan yang layak dirayakan di hadapan publik. Namun bagi Mbah Riyan, penghargaan bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan. Beliau memilih untuk tidak menghadiri prosesi penyerahan penghargaan tersebut.
Sikap itu bukan bentuk penolakan terhadap penghargaan, melainkan cerminan dari kerendahan hati seorang alim yang meyakini bahwa nilai sebuah karya tidak ditentukan oleh seberapa megah panggung penghargaan, melainkan oleh seberapa besar manfaatnya bagi umat. Beliau membiarkan karya-karyanya berbicara sendiri, tanpa perlu diiringi sorotan kamera atau gemerlap seremoni.
Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, tayangan, atau popularitas, Mbah Riyan menghadirkan pelajaran yang sangat berharga. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak membutuhkan pencitraan. Seorang ulama tidak harus selalu tampil di depan kamera agar pemikirannya diakui. Keilmuan sejati justru lahir dari ketekunan belajar, kedalaman analisis, kejujuran ilmiah, dan keikhlasan dalam mengabdi.
Lebih dari itu, Mbah Riyan mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak dari apa yang terlihat oleh mata manusia. Bisa jadi seorang tukang bangunan yang bekerja di bawah terik matahari adalah seorang cendekiawan besar yang pemikirannya sedang dipelajari di berbagai belahan dunia. Bisa jadi seseorang yang duduk diam memancing di pinggir sungai justru sedang dikenang namanya di ruang-ruang akademik karena karya-karya ilmiahnya yang monumental.
Sosok Mbah Riyan mengingatkan bahwa kebesaran seorang ulama bukan terletak pada kemewahan yang dimilikinya, bukan pula pada seberapa sering namanya muncul di media, melainkan pada keluasan ilmunya, kemurnian niatnya, dan manfaat yang terus mengalir dari karya-karyanya. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin luas pengaruhnya, semakin jauh ia dari keinginan untuk dipuji.
Di balik kesunyian yang dipilihnya, karya-karya Mbah Riyan terus hidup, dipelajari, dikaji, dan dijadikan rujukan oleh banyak kalangan. Barangkali wajahnya tidak banyak dikenal masyarakat, tetapi buah pikirannya telah melintasi batas negara, generasi, dan zaman.
Di era ketika banyak orang berlomba menjadi terkenal, Mbah Riyan justru menunjukkan bahwa kemuliaan seorang ulama tidak lahir dari popularitas, melainkan dari keberkahan ilmu. Beliau menjadi teladan bahwa seorang alim tidak harus tampil gemerlap, tidak harus hidup serba mewah, dan tidak harus selalu berada di pusat perhatian. Cukuplah ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan keikhlasan yang menjadi saksi atas seluruh pengabdiannya kepada Allah SWT, agama, dan umat.
Mbah Riyan adalah pengingat bahwa dunia tidak selalu mengenali orang-orang besar. Ada yang memilih tetap menjadi rakyat biasa, bekerja seperti kebanyakan orang, berbaur tanpa sekat, dan menikmati hidup dengan kesederhanaan. Namun di balik semua itu, ia telah meninggalkan jejak keilmuan yang akan terus hidup melampaui usia, melintasi batas negeri, dan menjadi warisan berharga bagi peradaban Islam. (Gus Damas Alhasy/SN)
