OKU Timur – Menjelang dinamika pemilihan kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama, perbincangan mengenai siapa yang paling layak memimpin PCNU OKU Timur semakin menghangat. Berbagai tokoh mulai diperbincangkan, baik dari kalangan pesantren, akademisi, aktivis, maupun tokoh organisasi.
Namun sesungguhnya pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang paling ingin memimpin, melainkan siapa yang paling siap mengabdi.
Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak pernah semata-mata diukur dari kemampuan membangun jaringan politik, kekuatan kelompok, ataupun popularitas personal. NU sejak awal berdiri dibangun di atas semangat khidmah, pengabdian, dan pengorbanan.
Karena itu, organisasi sebesar NU membutuhkan figur yang hadir untuk melayani, bukan dilayani.
Di tengah konstelasi persaingan ketokohan yang cukup dinamis di tubuh NU OKU Timur, muncul satu kegelisahan di kalangan warga nahdliyin. Mereka berharap NU tidak terseret pada praktik perebutan pengaruh dan ambisi pribadi yang justru bertentangan dengan nilai dasar organisasi.
NU sesungguhnya tidak membutuhkan tokoh-tokoh yang terlihat terlalu berambisi menjadi pemimpin NU. Dalam banyak pengalaman organisasi, justru orang-orang yang sangat berhasrat terhadap jabatan sering kali menjadikan organisasi sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadi, memperluas pengaruh, atau membangun citra diri.
Sebaliknya, NU membutuhkan figur yang memiliki kesamaan visi dan komitmen terhadap perjuangan organisasi. Sosok yang hadir karena panggilan pengabdian, bukan karena dorongan ambisi.
Banyak warga NU berharap tokoh yang memimpin PCNU OKU Timur adalah mereka yang selama ini terbiasa turun langsung ke tengah jamaah. Mereka yang hadir dalam kegiatan ranting, mendampingi masyarakat, menghidupkan majelis taklim, menguatkan pendidikan, membina generasi muda, dan menjaga tradisi keagamaan di akar rumput.
Pemimpin NU bukan sekadar sosok yang pandai berbicara di forum-forum resmi, tetapi yang mau “ngopeni” akar rumput.
Lebih dari itu, ia harus mengenal denyut kehidupan warga nahdliyin di desa-desa, memahami persoalan para guru ngaji, memperhatikan kebutuhan pesantren, serta mampu menjadi pelayan umat.
NU bukan tempat yang ideal bagi orang-orang yang menjadikan jabatan sebagai tujuan. Organisasi ini sejak dahulu dirawat oleh para kiai, santri, dan aktivis yang rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi demi menjaga jam’iyah dan jamaah.
Karena itu, kepemimpinan PCNU OKU Timur ke depan seharusnya diamanahkan kepada figur yang memiliki beberapa karakter utama:
- Ikhlas dalam berkhidmah, bukan mengejar kedudukan.
- Dekat dengan jamaah dan ranting, bukan hanya hadir di tingkat elit.
- Aktif mengurus kegiatan NU, bukan sekadar memberi instruksi.
- Mampu merangkul seluruh elemen, bukan membangun sekat kelompok.
- Memiliki visi penguatan organisasi, pendidikan, dakwah, dan kaderisasi.
- Bersedia turun ke lapangan, mendengar aspirasi warga, dan menyelesaikan persoalan umat.
NU membutuhkan pemimpin yang mau “ngurusi”, bukan sekadar “diurusi”. Pemimpin yang bersedia hadir ketika warga membutuhkan, mendampingi kegiatan-kegiatan keagamaan, menghidupkan lembaga-lembaga NU, dan menguatkan kaderisasi generasi muda.
Figur yang elitis, yang hanya pandai memberi arahan, tetapi enggan turun ke akar rumput, akan sulit memahami kebutuhan nyata warga nahdliyin. Sebab kekuatan NU selama ini bukan berada di ruang-ruang elit, melainkan di mushala, majelis taklim, pesantren, ranting, dan jamaah di tingkat bawah.
Pada akhirnya, siapa pun yang akan memimpin PCNU OKU Timur harus menyadari bahwa jabatan di NU bukanlah penghormatan, melainkan amanah. Bukan ruang untuk memperbesar diri, melainkan kesempatan untuk memperbesar manfaat.
NU tidak membutuhkan orang yang haus jabatan. Justru orang-orang yang terlalu berambisi terhadap jabatan sering kali lebih membutuhkan NU daripada NU membutuhkan mereka.
Yang dibutuhkan NU adalah pengabdi; mereka yang bersedia bekerja dalam diam, melayani tanpa pamrih, dan menjaga jam’iyah dengan penuh keikhlasan.
Karena sejarah NU selalu membuktikan satu hal: organisasi ini akan tetap besar apabila dipimpin oleh orang-orang yang datang untuk mengabdi, bukan untuk berambisi. (Gus Damas Alhasy/SN)
