Di tengah masyarakat, muncul kegelisahan dari warga Nahdliyin mengenai arah perjalanan organisasi. Kegelisahan itu berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah organisasi yang dahulu dikenal sebagai wadah perjuangan ulama, dakwah, pendidikan, dan pengabdian umat kini menjadi sekadar batu loncatan menuju jabatan politik dan kekuasaan?
Bukan rahasia lagi bahwa banyak tokoh yang meniti karier dari lingkungan Nahdlatul Ulama kemudian berhasil menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari anggota legislatif, kepala daerah, pejabat pemerintahan, hingga menteri.
Di satu sisi, hal ini dapat dipandang sebagai keberhasilan kaderisasi karena kader-kader NU mampu berkiprah di ruang publik dan berkontribusi bagi bangsa.
Namun di sisi lain, mayarakat mempertanyakan motivasi sebagian orang yang aktif di organisasi. Mereka melihat adanya gejala bahwa tidak sedikit yang mendekati NU bukan karena semangat khidmah (pengabdian), melainkan karena melihat besarnya massa dan pengaruh sosial yang dimiliki organisasi ini.
Dalam pandangan kritis tersebut, NU dipersepsikan sebagai “kolam besar” yang berisi jutaan warga. Kolam ini dianggap sangat potensial untuk membangun popularitas, jaringan, dan dukungan politik.
Akibatnya, aktivitas organisasi seringkali bukan untuk membesarkan jamaah dan jam’iyah, tetapi untuk membesarkan peluang pribadi menuju jenjang kekuasaan berikutnya.
Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya terjadi di NU. Di hampir seluruh organisasi besar, baik keagamaan, kemasyarakatan, maupun profesi, juga sama.
Ketika sebuah organisasi memiliki massa yang besar dan pengaruh yang luas, maka akan selalu ada pihak-pihak yang melihatnya sebagai instrumen strategis untuk meraih tujuan tertentu.
Yang menjadi persoalan adalah ketika orientasi pengabdian mulai tergeser oleh orientasi jabatan. Jabatan kemudian menjadi tujuan utama, sedangkan organisasi hanya diposisikan sebagai kendaraan. Selama kendaraan itu berguna, ia dirawat dan dipuji. Namun setelah tujuan tercapai, hubungan dengan organisasi perlahan menjadi renggang, bahkan lupa.
Padahal para pendiri NU dahulu membangun organisasi ini dengan pengorbanan yang luar biasa.
Para masyayikh dan ulama tidak mendirikan NU untuk menjadi tangga politik pribadi. Mereka mendirikannya sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah, pusat pendidikan umat, pengembangan dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan perjuangan kemerdekaan bangsa.
Di masa lalu, ukuran keberhasilan seorang aktivis NU bukan pada seberapa tinggi jabatannya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang diberikannya kepada umat.
Banyak ulama besar yang sepanjang hidupnya tidak pernah mengejar kursi kekuasaan, tetapi namanya tetap harum dan pengaruhnya tetap hidup hingga sekarang karena keikhlasan dan keberkahannya.
Hari ini, semakin banyak warga mengungkapkan kerinduan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “karomah organisasi”. Yang dimaksud bukan karomah dalam pengertian luar biasa atau mistis, melainkan keberkahan yang lahir dari keikhlasan para pengurus dan aktivisnya.
Ketika organisasi dipenuhi oleh orang-orang yang mengabdi tanpa pamrih, maka lahirlah kepercayaan masyarakat yang kuat.
Sebaliknya, ketika masyarakat mulai melihat terlalu banyak perebutan posisi, manuver kepentingan, dan kompetisi kekuasaan, maka kewibawaan moral organisasi hilang.
Karena itu, tantangan terbesar NU hari ini bukan sekadar memperbesar jumlah anggota atau memperluas jaringan kelembagaan. Tantangan terbesarnya adalah menjaga ruh khidmah yang diwariskan para muassis dan ulama pendiri.
Kader NU tentu tidak dilarang masuk ke dunia politik. Politik adalah bagian dari kehidupan berbangsa yang penting dan sah.
Namun politik seharusnya menjadi sarana pengabdian, bukan tujuan akhir. Organisasi jangan sampai hanya dipandang sebagai kendaraan menuju kursi kekuasaan. Sebaliknya, jabatan politik harus menjadi alat untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diperoleh selama berkhidmah di organisasi.
Pada akhirnya, masa depan NU akan sangat ditentukan oleh pilihan para kadernya sendiri.
Apakah NU akan tetap menjadi rumah besar pengabdian umat, tempat lahirnya ulama, guru, pendidik, dan pejuang masyarakat? Ataukah ia hanya sekedar sebagai arena perebutan pengaruh dan kendaraan menuju sebuah jabatan?
Pertanyaan itu layak menjadi bahan muhasabah bersama. Sebab organisasi sebesar NU tidak dibangun oleh ambisi pribadi, melainkan oleh ketulusan para ulama yang mewakafkan hidupnya untuk agama, bangsa, dan kemaslahatan umat.
Jika semangat itu tetap terjaga, maka NU akan terus menjadi cahaya bagi umat. Namun jika orientasi pengabdian tergeser oleh orientasi kekuasaan, maka yang tersisa hanyalah organisasi besar secara jumlah, tetapi kehilangan ruh perjuangannya. (Gus Damas Alhasy/SN)
