Kemunculan organisasi bernama Yakuza Maneges menjadi salah satu fenomena sosial-keagamaan yang banyak diperbincangkan publik sepanjang tahun 2026. Nama yang identik dengan kelompok mafia Jepang membuat organisasi ini langsung menarik perhatian masyarakat dan media.
Namun, di balik nama yang kontroversial tersebut, Yakuza Maneges mengklaim hadir sebagai gerakan dakwah, pembinaan moral, dan pendampingan masyarakat yang ingin memperbaiki kehidupan mereka.
Yakuza Maneges dideklarasikan pada 9 Mei 2026 di Kediri, Jawa Timur. Organisasi ini diprakarsai oleh Gus Thuba Topo Broto Maneges, cucu dari ulama kharismatik KH Hamim Djazuli.
Organisasi tersebut berada di bawah naungan Majelis Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang dikenal memiliki akar kuat dalam tradisi dakwah dan dzikir.
Filosofi Nama yang Mengundang Perhatian
Banyak pihak awalnya mengira Yakuza Maneges memiliki hubungan dengan kelompok kriminal Jepang.
Namun menurut penjelasan pendirinya, istilah “Yakuza” dalam organisasi tersebut merupakan akronim dari:
“Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Filosofi tersebut menggambarkan proses transformasi seseorang dari masa lalu yang kelam menuju kehidupan yang lebih baik, religius, dan bermanfaat bagi masyarakat. Organisasi ini secara terbuka menyatakan bahwa mereka bukan kelompok kriminal, melainkan wadah bagi mereka yang ingin berhijrah dan memperbaiki diri.
Wadah “Santri Jalur Kiri”
Salah satu istilah yang melekat pada Yakuza Maneges adalah “santri jalur kiri”. Yang dimaksud bukanlah kelompok politik tertentu, melainkan orang-orang yang pernah terjerumus dalam berbagai bentuk kenakalan sosial, kehidupan jalanan, premanisme, penyalahgunaan narkoba, maupun berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Melalui pendekatan spiritual, dzikir, pengajian, dan pendampingan sosial, mereka diajak untuk kembali ke kehidupan yang lebih baik. Konsep inilah yang membuat Yakuza Maneges mendapatkan perhatian luas, karena berusaha merangkul kelompok masyarakat yang sering kali terpinggirkan.
Penampilan yang Menjadi Sorotan
Saat deklarasi, para anggota tampil mengenakan pakaian hitam dan topi hitam yang mengingatkan sebagian masyarakat pada citra kelompok Yakuza Jepang. Penampilan tersebut memicu perdebatan di media sosial.
Sebagian menganggapnya sebagai strategi komunikasi yang unik untuk menarik perhatian kelompok muda dan masyarakat marginal.
Namun sebagian lainnya menilai penggunaan nama dan simbol tersebut berpotensi menimbulkan salah persepsi. Terlepas dari kontroversi itu, viralnya deklarasi membuat nama Yakuza Maneges cepat dikenal masyarakat luas.
Kiprah dalam Advokasi
Selain kegiatan dakwah dan pembinaan moral, Yakuza Maneges mulai dikenal karena keterlibatannya dalam sejumlah kasus advokasi sosial. Organisasi ini beberapa kali tampil mendampingi korban dugaan kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan dan pesantren.
Pada pertengahan 2026, Yakuza Maneges ikut mengawal laporan dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan sebuah pondok pesantren di wilayah Malang. Organisasi tersebut menyatakan komitmennya untuk mendampingi korban dan mendorong proses hukum berjalan secara transparan.
Mereka juga disebut turut membantu pengungkapan kasus serupa di wilayah Pekalongan dengan memberikan pendampingan kepada korban dan keluarga korban. Aktivitas ini membuat Yakuza Maneges mulai dipandang bukan sekadar komunitas dakwah, tetapi juga kelompok advokasi sosial yang aktif menyuarakan keadilan bagi masyarakat kecil.
Respons Masyarakat
Fenomena Yakuza Maneges memunculkan beragam tanggapan. Pendukungnya melihat organisasi ini sebagai model dakwah yang berani masuk ke lingkungan yang selama ini sulit dijangkau. Pendekatan kepada mantan pelaku kriminal, preman, atau kelompok marginal dianggap sejalan dengan semangat Islam yang membuka pintu taubat bagi siapa saja.
Di sisi lain, sebagian kalangan menilai organisasi ini perlu membangun identitas yang lebih jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman akibat penggunaan nama “Yakuza” yang secara global identik dengan dunia kriminal.
Yakuza Maneges merupakan fenomena baru dalam lanskap organisasi kemasyarakatan Indonesia. Dengan mengusung semangat transformasi moral, pembinaan kaum marginal, dakwah, dan advokasi sosial, organisasi ini berusaha menunjukkan bahwa orang dengan masa lalu kelam tetap memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Terlepas dari kontroversi nama dan tampilannya, kiprah Yakuza Maneges telah menarik perhatian publik karena keberaniannya merangkul kelompok yang sering terabaikan sekaligus terlibat dalam berbagai isu sosial yang menyangkut keadilan dan perlindungan korban. (Gus Damas Alhasy/SN)
