Sebelum ramainya polemik nasab habib, sebelum tesis Kiai Imad mengguncang ruang batin kaum Nahdliyyin, Gus Tuba pernah berdiri sendirian di hadapan kemarahan publik.
Ia dihujat….
Dicaci…..
Disebut tidak hormat kepada habib.
Satu video pendek cukup untuk mengubah manusia menjadi terdakwa.
Di negeri ini, kamera acapkali lebih dipercaya daripada pemahaman. Orang-orang melihat gestur, lalu menghakimi.
Ketika itu, awal 2022, netizen Indonesia memposisikan Gus Thuba sebagai simbol pembangkangan terhadap kemuliaan dzurriyah Nabi.
Ia dianggap melukai tradisi takzim yang telah lama hidup di tubuh masyarakat NU.
Potongan video itu beredar seperti fatwa : bahwa seorang gus muda telah gagal memahami adab dan akhlak.
Tetapi menariknya, Gus Thuba tidak banyak bicara.
Ia tidak membuat klarifikasi panjang.
Tidak mengemis simpati.
Tidak sibuk mencari pembenaran.
Ia tetap berjalan dalam kesunyian.
Dan seringkali, manusia yang berjalan dalam kesunyian justru sedang mendengar sesuatu Yg belum didengar orang banyak.
Kini, setelah tesis Kiai Imad muncul dan polemik nasab Baalawi meledak ke ruang publik, video lama itu mendadak memperoleh makna baru.
Orang-orang mulai melihat ulang kejadian tersebut, bukan sekadar sebagai soal sopan santun, tetapi sebagai tanda zaman.
Mungkin, tanpa sadar, Gus Thuba sedang mengirim sinyal.
Kita tahu, bahwa setiap zaman memiliki berhala-berhalanya sendiri.
Dan tugas sejarah adalah menghancurkan berhala itu ketika manusia mulai menyembah simbol melebihi kebenaran.
Dalam masyarakat feodal-spiritual, manusia tidak lagi dihormati karena ilmu atau akhlaknya, tetapi karena marga, simbol, dan garis darah.
Nasab berubah menjadi kapital sosial, jubah menjadi alat legitimasi dan penghormatan yg secara perlahan kehilangan ruhnya, karena ia berubah dari kesadaran menjadi kewajiban psikologis.
Masyarakat berhenti berpikir, mereka hanya tunduk.
Padahal Islam pertama kali datang justru untuk menghancurkan aristokrasi keturunan.
Nabi Muhammad ﷺ berdiri di tengah bangsa yang memuliakan darah dan silsilah, lalu berkata bahwa manusia paling mulia hanyalah yang paling bertakwa.
Tetapi sejarah sering bergerak melingkar.
Berhala lama tumbang, lalu lahir berhala baru.
Dan mungkin inilah yang sedang diguncang oleh zaman hari ini.
Tesis Kiai Imad bukan sekadar penelitian nasab. Ia adalah palu kecil yang mengetuk tembok psikologi umat. Ia memaksa masyarakat bertanya ulang : apakah penghormatan lahir dari kebenaran, atau hanya dari warisan simbol yang diterima turun-temurun tanpa keberanian untuk menguji ?.
Karena itu polemik ini menjadi emosional. Yang terguncang bukan sekadar data, tetapi struktur batin sosial yang telah mapan selama ratusan tahun.
Orang-orang marah bukan hanya karena tesis itu. Mereka marah karena dunia simbolik mereka mulai retak. Sesembahan mulai hancur.
Dan dalam setiap keretakan besar sejarah, selalu ada sosok yang lebih dahulu dibenci sebelum akhirnya dipahami.
Barangkali itulah posisi Gus Thuba.
Dulu ia dianggap tidak sopan, kini sebagian orang mulai melihat : jangan-jangan ia sedang membaca arah angin sejarah lebih awal dibanding yang lain.
Sebab terkadang, sinyal kehancuran sebuah kekuasaan tidak muncul melalui perang besar, melainkan lewat perubahan gestur kecil : sebuah tangan yang tidak lagi gemetar di hadapan simbol yang selama ini dianggap tak tersentuh.
Nietzsche menyebut momen itu sebagai kematian berhala.
Bukan kematian manusia.
Tetapi runtuhnya ketakutan kolektif.
Dan ketika ketakutan itu runtuh, masyarakat mulai berani memisahkan antara penghormatan yang tulus dan kultus yang diwariskan.
Mungkin karena itu Gus Thuba memilih diam.
Karena manusia yang merasa membawa kebenaran tidak selalu membutuhkan pembelaan, Ia hanya membutuhkan waktu.
Dan waktu, seringkali, adalah algojo paling kejam bagi setiap mitos dan berhala.
Juni 2026
