OKU TIMUR — Suasana penuh khusyuk dan haru menyelimuti Pondok Tahfidz Gumawang – Ma’had Daarul Mumtaz, Jl. Puncak 5 Gumawang, Belitang, OKU Timur, Sabtu (23/5/2026), saat puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim Gumawang menggelar Khotmil Qur’an dalam rangka haul mengenang almarhum H. Habiburrahman dan almarhumah Hj. Salmah.
Meski berlangsung sederhana, kegiatan yang diprakarsai oleh Ibu Hj. Lena tersebut berlangsung penuh makna dan berjalan sukses. Sejak pukul 14.00 WIB, para jamaah mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan hingga khataman selesai pada pukul 16.00 WIB.
Kebersamaan dan semangat para ibu-ibu majelis taklim ini tampak begitu kuat demi menghadiahkan doa terbaik bagi kedua almarhum. Para jamaah yang hadir masing-masing membaca satu juz Al-Qur’an dengan khusyu’ dan khidmat.
Acara dibuka oleh Ibu Erni, dari Majelis Taklim Khoirunnisa Gumawang, kemudian dilanjutkan dengan tawassul yang dipimpin oleh Ibu Nyai Nurul Jannatun Na’imah selaku pengasuh Tahfidz Qur’an Pondok Tahfidz Gumawang, Ma’had Daarul Mumtaz.
Di sela acara, Gus Damas Alhasy selaku shohibul bait sekaligus Ketua Yayasan Ma’had Daarul Mumtaz menyampaikan sedikit tausiyah tentang makna haul dan dasar-dasar syariatnya. Ia menjelaskan bahwa tradisi haul bukanlah amalan yang menyimpang atau bid’ah, melainkan bagian dari ibadah doa dan penghormatan kepada orang-orang yang telah wafat.
Menurut Gus Damas, Rasulullah SAW sendiri mencontohkan tradisi mengenang dan mendoakan orang-orang saleh yang telah wafat. Salah satunya dengan rutin menziarahi makam para syuhada Uhud.
“Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada Uhud setiap tahun untuk mendoakan mereka. Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa mendoakan orang yang telah wafat adalah amalan yang sangat dianjurkan,” terang Gus Damas.
Ia juga menjelaskan bahwa para sahabat Nabi seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib melanjutkan tradisi tersebut.
Selain itu, Gus Damas mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 10:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.”
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan pentingnya mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita.
Gus Damas juga menyampaikan bahwa hikmah haul bukan hanya untuk mengirimkan doa, tetapi juga meneladani perjuangan dan kebaikan orang-orang saleh agar dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Haul mengingatkan kita bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Dari haul kita belajar meneladani akhlak, perjuangan, dan amal baik orang-orang terdahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa terdapat banyak hadis sahih, salah satunya riwayat Imam Muslim, yang menerangkan bahwa amal manusia terputus ketika meninggal dunia kecuali tiga perkara, di antaranya doa anak saleh.
Suasana semakin mengharukan ketika Ibu Hj. Konida, putri dari almarhum H. Habiburrahman dan almarhumah Hj. Salmah, tampak tak mampu menahan air mata haru. Dengan suara lirih, ia mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Semoga ayah dan ibu di sana tersenyum bahagia melihat dan mendapatkan kiriman doa dari anak cucunya melalui kegiatan Khotmil Qur’an ibu-ibu Majelis Taklim Gumawang,” tuturnya.
Kegiatan Khotmil Qur’an ini menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat tidak hanya mempererat ukhuwah, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai cinta Al-Qur’an, bakti kepada orang tua, serta menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang penuh rahmat dan kasih sayang.
Di tengah arus modernisasi saat ini, semangat ibu-ibu Majelis Taklim Gumawang menunjukkan bahwa budaya doa, zikir, dan penghormatan kepada para pendahulu tetap hidup dan menjadi cahaya spiritual bagi masyarakat. (GD/SN)
