Aspirasi SantriKail (Kajian Ilmu)KronikaPendidikan

Muktamar ke-35 NU: Seru, Ngguyokne, dan Unik

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026, yang digelar di Tambakberas Jombang Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2016 ini, tampaknya akan menjadi salah satu muktamar paling menarik dalam sejarah perjalanan organisasi ini.

Bukan hanya karena menjadi forum tertinggi untuk menentukan arah perjalanan NU, tetapi juga karena muktamar kali ini berlangsung pada momentum yang sangat historis: NU sedang menapaki babak baru setelah menyelesaikan satu abad perjalanan khidmatnya dan memasuki abad kedua.

Karena itu, wajar jika banyak orang kepo, ingin tahu, ingin mengikuti, bahkan ingin hadir langsung. Muktamar ini bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan. Ia menjadi bagian dari sejarah panjang NU yang akan dicatat sebagai momentum peralihan dari abad pertama menuju abad kedua.

Seru: Semua Orang Ingin Tahu

Ada alasan kuat mengapa Muktamar ke-35 begitu menarik perhatian. Pertama, karena momentum sejarahnya. NU memasuki abad kedua dengan tantangan dan harapan yang jauh lebih besar. Siapa yang akan membawa NU memasuki fase baru tersebut tentu menjadikan semua orang penasaran..

Kedua, karena banyaknya nama yang muncul sebagai kandidat Ketua Umum. Kurang lebih 8 atau 9 nama disebut-sebut maju atau memiliki keinginan untuk memimpin NU.

Fenomena ini menarik untuk dicermati. Begitu banyak orang ingin menjadi orang nomor satu di NU menunjukkan bahwa organisasi ini memiliki daya tarik yang luar biasa. NU ternyata menjadi organisasi yang sangat menggoda, seperti partai politik.

Apa yang membuat jabatan Ketua Umum PBNU begitu menarik sehingga banyak orang berebut untuk mendapatkannya?

Tentu masing-masing calon mempunyai niat, visi, kepentingan, dan kalkulasinya sendiri. Ada yang mungkin ingin mengabdi, ada yang merasa memiliki gagasan besar untuk NU, ada pula yang melihat kepemimpinan NU sebagai ruang strategis untuk mewujudkan kepentingan tertentu.

Di sinilah letak keseruannya. Muktamar bukan hanya pertarungan gagasan, tetapi juga menjadi arena bertemunya berbagai kepentingan.

Muktamar yang Ngguyokne

Muktamar NU juga memiliki sisi yang, kalau mau jujur, ngguyokne.

Di banyak organisasi, forum muktamar biasanya sangat formal dan terbatas. Yang datang adalah mereka yang memiliki mandat dan hak suara. Sementara mereka yang tidak memiliki hak memilih biasanya tidak punya alasan untuk hadir.

Tetapi NU berbeda.

Orang yang tidak memiliki hak suara pun datang. Ada yang sekadar ingin kongkow, bertemu kawan lama, melihat suasana, menonton dinamika politik muktamar, atau sekadar ikut merasakan hiruk-pikuknya.

Muktamar akhirnya bukan hanya menjadi forum para pemilik suara. Ia berubah menjadi semacam perhelatan besar warga NU, layaknya Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Di sinilah salah satu keunikan NU terlihat. Muktamar menjadi tontonan sekaligus hajatan bersama. Orang datang bukan karena punya suara, tetapi karena merasa memiliki NU.

Dan mungkin justru di situlah kekuatan kultural NU: orang yang tidak punya hak memilih pun merasa punya hubungan emosional dengan muktamar.

Ngguyokne Lagi: Ditolak, Tetapi Tetap Maju

Ada fenomena lain yang tak kalah menarik.

Sejumlah tokoh incumbent atau tokoh yang sebelumnya memiliki posisi penting mendapat sorotan karena dianggap tidak menunjukkan kinerja sebagaimana yang diharapkan sebagian warga NU.

Penolakan terhadap kemungkinan mereka kembali memimpin bahkan muncul dalam berbagai bentuk, termasuk jargon “La Miftaha Wala Yahya.”

Namun yang menarik, meskipun penolakan terdengar cukup luas, tokoh-tokoh tersebut tetap saja maju atau berkeinginan maju. Tak tahu malu. Di NU rasa malu sudah tidak berlaku.

Dalam politik organisasi, tentu setiap orang mempunyai hak untuk mencalonkan diri selama memenuhi aturan yang berlaku. Tetapi secara etika politik, penolakan yang luas semestinya menjadi bahan evaluasi.

Sebab seorang pemimpin bukan hanya membutuhkan keberanian untuk maju, tetapi juga kepekaan untuk membaca suasana.

Kalau sudah banyak yang mengatakan, “jangan maju lagi,” tetapi tetap maju, tentu publik akan bertanya-tanya.

Dan karena itulah fenomena ini terasa ngguyokne.

Unik: Berebut Restu Istana

Yang paling unik mungkin justru fenomena lain: rebutan restu istana.

Dalam dinamika menjelang muktamar, muncul kesan bahwa para kandidat berlomba-lomba menunjukkan kedekatan dan restu dari Presiden atau istana.

Bahkan muncul klaim bahwa masing-masing calon mendapatkan dukungan atau restu dari kekuasaan.

Tentu ini fenomena yang menarik untuk direnungkan.

NU lahir dari tradisi ulama. Dalam sejarahnya, ulama memiliki posisi moral dan kultural yang sangat kuat. Dalam tradisi pesantren, umaro lah yang biasanya menghormati ulama dan meminta pandangan serta doa para kiai.

Yang terjadi justru fenomena sebaliknya: calon pemimpin organisasi ulama, dalam hal ini NU, justru sibuk mencari restu umaro.

Tentu hubungan antara ulama dan pemerintah adalah hal yang wajar. NU juga merupakan bagian penting dari kehidupan kebangsaan. Tetapi jika kepemimpinan organisasi keagamaan mulai dipersepsikan harus mendapatkan restu kekuasaan politik, pertanyaan kritis yang patut diajukan:

Apakah ini tanda semakin dekatnya NU dengan kekuasaan, atau justru tanda semakin kuatnya tarik menarik kekuasaan terhadap NU?

Pertanyaan tersebut tidak sederhana.

Sebab NU bukan sekedar organisasi dengan struktur kepengurusan. NU adalah rumah besar bagi jutaan warga, lembaga pendidikan, pesantren, masjid, madrasah, dan tradisi keulamaan yang telah hidup selama lebih dari satu abad.

Karena itu, yang memimpin NU semestinya mendapatkan legitimasi dari mekanisme organisasi dan kepercayaan para ulama serta peserta muktamirin, bukan dari luar seperti, istana.

Muktamar dan Pertarungan Makna

Muktamar ke-35 bukan sekedar soal siapa yang akan menjadi Ketua Umum.

Lebih dari itu, muktamar ini akan menjadi cermin tentang NU seperti apa yang ingin dibawa memasuki abad kedua.

Apakah NU akan menjadi organisasi yang semakin kuat secara kelembagaan?

Apakah NU akan semakin independen dari kepentingan politik praktis?

Apakah kepemimpinan NU akan kembali menegaskan otoritas moral ulama?

Ataukah NU justru akan semakin menjadi magnet bagi mereka yang ingin mendapatkan akses terhadap kekuasaan?

Berapapun jumlah calon bisa saja bertarung memperebutkan satu kursi Ketua Umum. Tetapi yang sesungguhnya diperebutkan adalah arah NU untuk satu abad berikutnya.

Itulah mengapa Muktamar ke-35 terasa seru, ngguyokne, sekaligus unik.

Seru karena semua orang ingin tahu siapa yang akan menang.

Ngguyokne karena orang yang tidak punya suara pun ikut datang meramaikan.

Dan unik karena para calon pemimpin organisasi ulama justru terlihat berlomba mencari restu penguasa.

Tetapi di balik semua itu ada satu prinsip yang tidak boleh hilang:

Untuk siapa sebenarnya NU ini?

Untuk calon ketua? Untuk kelompok pendukung? Untuk kepentingan politik tertentu? Atau untuk kemaslahatan jam’iyah, umat, bangsa, dan tradisi keulamaan yang telah menjaga NU selama seratus tahun pertama?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang semestinya menjadi roh Muktamar ke-35.

Karena memasuki abad kedua, NU tidak hanya membutuhkan seorang pemenang muktamar.

NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu memenangkan masa depan!. (SN)

Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.

Related posts