Oleh : M. Pajar Hidayah, S. Sos
Kader Penggerak NU PWNU SUMSEL Angkatan II
Nahdlatul Ulama bukanlah organisasi yang lahir dari sebuah kebetulan. Ia lahir dari kegelisahan, perjuangan, pemikiran, dan doa panjang para ulama untuk menjaga agama, merawat tradisi, serta membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Memahami sejarah NU bukan sekadar mengingat tahun berdirinya atau menghafal nama para pendiri NU. Lebih dari itu, sejarah adalah cermin untuk melihat kembali mengapa NU dahulu didirikan dan ke mana sebenarnya organisasi ini hendak diarahkan.
NU lahir pada 31 Januari 1926 melalui ikhtiar para ulama, di antaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, dan para ulama lainnya. Mereka tidak sedang membangun organisasi untuk kepentingan sesaat. Mereka sedang meletakkan sebuah fondasi agar ajaran Islam dapat tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi umat di tengah perubahan zaman.
Di sinilah pentingnya memahami cita-cita, visi dan misi NU.
NU bukan sekadar identitas di kartu anggota. Bukan pula hanya nama yang disebut dalam acara keagamaan, majelis, pengajian, atau peringatan hari lahir. NU adalah amanah sejarah. Di dalamnya terdapat nilai keilmuan, kepesantrenan, kebangsaan, kemanusiaan, dan tradisi Islam yang diwariskan oleh para ulama.
Namun, ada pertanyaan yang patut kita renungkan bersama:
Apakah semangat kita hari ini masih sejalan dengan cita-cita para ulama yang mendirikan NU?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru pertanyaan ini penting agar kita tidak kehilangan arah ketika usia organisasi terus bertambah.
Sebab zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, generasi boleh berganti, tetapi nilai perjuangan tidak boleh hilang.
NU harus mampu melampaui waktu tanpa kehilangan akar. Modern tanpa tercerabut dari tradisi. Terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan prinsip. Menerima kemajuan tanpa meninggalkan adab dan keilmuan.
Hari ini masyarakat NU tidak hanya membutuhkan banyak orang yang mengaku sebagai warga NU. Kita membutuhkan warga NU yang memahami mengapa NU ada.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya bangga dengan simbol, tetapi juga hidup dengan nilai. Tidak hanya mengenakan identitas, tetapi juga menjalankan tanggung jawab. Tidak hanya berbicara tentang ulama, tetapi meneruskan perjuangan ulama melalui ilmu, akhlak, pendidikan, pelayanan sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Cita-cita NU tidak akan hidup hanya karena sering disebut dalam pidato. Ia akan hidup apabila diwujudkan dalam tindakan.
Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi, perubahan sosial, dan tantangan generasi muda, NU memiliki pekerjaan besar. Pesantren harus semakin kuat. Pendidikan harus semakin berkualitas. Kaderisasi harus semakin serius. Ekonomi umat harus diperhatikan. Dakwah harus mampu menjawab persoalan zaman tanpa kehilangan ruh Ahlussunnah wal Jamaah.
Kita tidak boleh menjadikan NU sekadar warisan nama.
NU harus menjadi warisan nilai.
Jika para pendiri NU dahulu berani berpikir jauh melampaui zamannya, maka generasi hari ini juga harus berani berpikir untuk masa depan. Jangan sampai kita hanya menjadi generasi yang menikmati hasil perjuangan para ulama, tetapi tidak mampu melanjutkan perjuangannya.
Mengembalikan cita-cita NU bukan berarti membawa NU kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya, mengembalikan cita-cita NU berarti membawa nilai-nilai perjuangan para ulama untuk menjawab persoalan masa kini dan masa depan.
Kita boleh berbeda pilihan, berbeda latar belakang, berbeda cara pandang. Namun jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa NU dibangun dengan semangat persatuan, keilmuan, kebijaksanaan, dan kemaslahatan umat.
Barangkali hari ini NU tidak sedang kehilangan generasi.
Yang perlu kita tanyakan adalah: apakah generasi NU sedang kehilangan arah perjuangan?
Maka sudah saatnya kita kembali membuka sejarah, membaca kembali pemikiran para ulama, memahami visi dan misi organisasi, memperkuat kaderisasi, serta bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk meneruskan cita-cita para pendiri NU?
Karena pada akhirnya, NU bukan hanya tentang siapa yang pernah mendirikannya.
NU adalah tentang siapa yang bersedia meneruskan perjuangannya.
Para pendiri NU telah menanamkan benih. Generasi setelahnya bertugas merawatnya. Dan generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan pohon besar bernama Nahdlatul Ulama tetap tumbuh, memberi teduh, dan melahirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
NU lahir tidak hanya karena keadaan. NU lahir karena cita-cita.
Dan cita-cita itu harus terus hidup—melampaui waktu, melampaui generasi, dan melampaui zaman. (SN)
