Aspirasi SantriKail (Kajian Ilmu)PolitikTanya Ustadz

Mengapa PBNU Diam Terhadap Pembelokan Sejarah NU & JATMAN

KH. Ahmad Chalwani Mengungkap Fakta Kelakuan Habib Luthfy, PBNU Sudah Tahu, Namum Diam

Oleh : Mohammad Yasin al Branangiy al Liqo’iy

Isu perubahan narasi sejarah JATMAN dan bahkan NU yang disampaikan oleh KH. Ahmad Chalwani, Ro’is ‘Am Idaroh Aliyah JATMAN, merupakan hal yang penting untuk dicermati secara serius. Beliau menegaskan bahwa sejak JATMAN dipimpin oleh Habib Luthfi bin Yahya, muncul versi sejarah yang berbeda dari apa yang selama ini dipahami, khususnya terkait siapa yang menjadi pendiri JATMAN.

Penting dicatat bahwa kritik KH. Chalwani bukanlah serangan pribadi. Beliau menegaskan tidak memiliki kebencian terhadap Habib Luthfi, melainkan sekadar mengingatkan agar sejarah tidak diubah atau dimanipulasi. Kritik ini juga bukan suara tunggal; beberapa struktur shu‘bah JATMAN dan forum resmi kongres disebut telah menyampaikan hal yang sama. Artinya, persoalan ini memiliki dimensi kelembagaan, bukan sekadar perbedaan pandangan individu.

Lebih jauh, KH. Chalwani menyatakan bahwa PBNU sebenarnya sudah mengetahui adanya perbedaan narasi sejarah tersebut, namun memilih diam. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: apakah sikap diam tersebut bentuk kehati-hatian menjaga stabilitas organisasi, atau justru menciptakan ruang legitimasi bagi narasi baru yang dibawa Habib Luthfi?

Situasi menjadi semakin kompleks ketika tuduhan perubahan narasi tidak hanya diarahkan pada sejarah JATMAN, tetapi juga sejarah NU itu sendiri, sebagaimana disebut dalam buku Cahaya dari Nusantara. Jika benar terjadi, maka ini bukan sekadar perbedaan tafsir sejarah, melainkan pergeseran identitas kelembagaan yang dapat berdampak panjang bagi generasi penerus.

Dari sini, ada beberapa catatan penting:

  1. Sejarah organisasi harus dijaga kemurniannya. Perbedaan tafsir boleh ada, tetapi fakta dasar—seperti pendiri, tahun berdiri, dan keputusan awal—tidak boleh digeser.
  2. Kritik internal adalah tanda cinta organisasi. Mengingatkan agar sejarah tidak diubah bukanlah bentuk permusuhan, tetapi usaha menjaga amanah pendahulu.
  3. PBNU perlu mengambil peran aktif. Diam terlalu lama hanya akan memperkuat kesan pembiaran atau bahkan keterlibatan dalam legitimasi versi baru sejarah.
  4. Dialog terbuka perlu dilakukan. Agar tidak terjadi fitnah berkepanjangan, perlu ada forum resmi yang mengklarifikasi perbedaan narasi sejarah JATMAN maupun NU.

Dengan demikian, isu ini seharusnya tidak dilihat sebagai konflik pribadi antara tokoh, melainkan sebagai tanggung jawab bersama dalam menjaga integritas sejarah organisasi. NU dan JATMAN adalah warisan para ulama dan kiai yang harus dirawat dengan jujur, agar generasi mendatang tidak mewarisi sejarah yang kabur. (Asparagus Adem Ayem/*)

Related posts