Editor's PicksKail (Kajian Ilmu)

Kronologi Sejarah Disyariatkannya Puasa Ramadhan dalam Islam

Puasa (ṣhiyam) merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan agung dalam syariat. Ibadah ini bukan hanya ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), pembentukan takwa, serta pendidikan ruhani yang mendalam.

Puasa Ramadhan mulai diwajibkan kepada umat Islam pada tahun ke-2 Hijriyah, setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pensyariatannya turun melalui wahyu dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–187.

Dalil Kewajiban Puasa

Allah Subḥanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Pada ayat berikutnya Allah menjelaskan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia… Maka barang siapa di antara kalian menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat-ayat ini menjadi dasar utama diwajibkannya puasa Ramadhan bagi umat Islam.

Puasa Sebelum Ramadhan Diwajibkan

Sebelum Ramadhan diwajibkan, Rasulullah ﷺ telah melaksanakan puasa ‘Asyura (10 Muharram).

Dalam hadits disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُهُ، فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya: Ketika Ramadhan diwajibkan, puasa ‘Asyura tidak lagi wajib, tetapi menjadi sunnah.

Tahapan Pensyariatan Puasa

Para ulama menjelaskan bahwa kewajiban puasa turun secara bertahap:

Tahap Pilihan (Takhyir)

Pada awalnya, orang yang mampu boleh memilih antara berpuasa atau membayar fidyah.

Dalilnya:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Namun ketentuan ini kemudian dinasakh (diganti) dengan kewajiban penuh bagi yang mampu.

Tahap Kewajiban Penuh

Setelah itu turun perintah tegas:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Sejak saat itu puasa Ramadhan menjadi kewajiban mutlak bagi setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu.

Penyempurnaan Aturan Puasa

Pada awalnya, setelah tidur di malam hari, seseorang tidak boleh lagi makan hingga maghrib keesokan harinya. Namun kemudian Allah memberikan keringanan melalui ayat:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ… وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur (berhubungan suami istri) dengan istri-istri kalian… dan makan serta minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menyempurnakan hukum puasa sebagaimana yang kita jalankan hingga hari ini.

Ramadhan dan Perjuangan: Perang Badar

Menariknya, Ramadhan pertama dalam sejarah Islam bertepatan dengan peristiwa besar yaitu Perang Badar.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ

“Sungguh Allah telah menolong kalian dalam (Perang) Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah.” (QS. Al-Anfal: 123)

Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukan penghalang perjuangan, melainkan penguat iman dan mental.

Hikmah Disyariatkannya Puasa

Tujuan utama puasa ditegaskan dalam ayat:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa adalah:

  • Madrasah takwa
  • Latihan kesabaran
  • Pendidikan kejujuran
  • Pengendalian hawa nafsu
  • Penguat solidaritas sosial

Sejarah disyariatkannya puasa menunjukkan bahwa Islam diturunkan secara bertahap dan penuh hikmah. Puasa Ramadhan bukan hanya kewajiban, tetapi juga proses pembentukan karakter umat.

Jika generasi awal Islam menjadikan Ramadhan sebagai bulan kebangkitan iman dan kemenangan, maka semestinya kita pun menjadikannya sebagai momentum perubahan diri dan peradaban.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memahami sejarah syariat-Nya dan mengamalkannya dengan penuh kesadaran.

Wallāhu a‘lam bish-shawab.

Related posts