Editor's PicksKail (Kajian Ilmu)PendidikanPolitik

Yang Patut Dicontoh dari KH. Miftahul Achyar, Kegigihannya Memperjuangkan Ambisi

Ada satu hal yang sulit dibantah dari perjalanan KH Miftahul Achyar dalam dinamika Nahdlatul Ulama beberapa tahun terakhir: ia adalah sosok yang gigih mempertahankan apa yang diyakininya.

Terlepas dari hujatan, cacian, kritik, bahkan berbagai framing negatif yang pernah diarahkan kepadanya ketika menjadi Rais Aam PBNU pada periode sebelumnya, bersama KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU, Miftahul Achyar memilih untuk tidak larut dalam perang opini.

Ketika kemudian ia muncul kembali sebagai salah satu figur yang menginginkan posisi Rais Aam pada Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026, sebagian kalangan bahkan melihatnya sebagai sosok yang begitu ambisius. Dan pada akhirnya, keinginan tersebut benar-benar terwujud. Ia kembali terpilih menjadi Rais Aam PBNU untuk periode 2026-2031.

Di titik inilah perjalanan Miftahul Achyar menarik untuk dipelajari.

Pada sosoknya, ada pelajaran tentang bagaimana seseorang memperjuangkan sebuah keinginan di tengah derasnya penolakan.

Dalam dunia organisasi, terutama organisasi sebesar NU, kritik adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari. Apalagi ketika seseorang berada di posisi puncak.

Miftahul Achyar mengalami itu.

Ada kritik yang disampaikan secara terbuka, ada pula yang berkembang melalui percakapan di tengah jamaah. Ada yang mengkritik kebijakan, ada yang mempersoalkan sikap, bahkan ada yang menyerang pribadi.

Namun menariknya, ia relatif jarang membalas serangan itu dengan serangan terbuka.

Ia seperti memilih menutup telinga terhadap kebisingan dan mengarahkan fokusnya pada tujuan yang ingin dicapai.

Boleh jadi cara tersebut tidak selalu menyenangkan bagi orang lain. Bahkan bisa saja sebagian orang menganggapnya sebagai sikap keras kepala. Tetapi dari sudut pandang perjuangan, ada satu kualitas yang sulit disangkal: ketahanan terhadap tekanan.

Tidak semua orang mampu bertahan ketika dicaci. Tidak semua orang sanggup tetap berjalan ketika dukungan publik naik turun. Dan tidak semua orang bisa tetap berkonsentrasi ketika namanya terus menjadi bahan polemik yang kontroversial.

Miftahul Achyar menunjukkan kemampuan itu.

Ketika Ambisi Tidak Selalu Berarti Buruk

Kata ambisi sering kali memiliki konotasi negatif.

Padahal, ambisi pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Yang menentukan adalah untuk apa ambisi itu digunakan, bagaimana cara mencapainya, dan apa yang dilakukan setelah tujuan tersebut tercapai.

Dalam konteks Miftahul Achyar, sulit untuk menutup mata bahwa keinginannya untuk kembali menduduki posisi Rais Aam begitu kuat.

Ia tidak sekedar menunggu momentum. Ia membangun komunikasi, merawat jaringan, melakukan konsolidasi dan menjaga hubungan dengan berbagai unsur yang memiliki pengaruh dalam proses pemilihan. Ia tampak memahami bahwa dalam organisasi sebesar NU, sebuah jabatan tidak lahir hanya dari popularitas, tetapi juga dari kerja-kerja konsolidasi yang panjang.

Di sinilah ia memberikan pelajaran penting tentang politik organisasi: keinginan saja tidak cukup. Keinginan harus dibarengi dengan ketekunan, strategi dan kemampuan membaca keadaan.

Dan Miftahul Achyar tampaknya memahami hal itu.

Mengapa Begitu Ambisius?

Mengapa Miftahul Achyar begitu kuat memperjuangkan keinginannya untuk kembali menjadi Rais Aam?

Pertanyaan tersebut pasti ada di benak banyak warga NU. Dan tidak semua kyai dan ulama NU mengetahui alasan personal maupun strategis di balik kerasnya keinginan tersebut.

Di tengah dinamika itu, muncul berbagai spekulasi. Ada yang mengaitkannya dengan persoalan tambang, ada pula yang menghubungkannya dengan kepentingan melindungi kelompok tertentu.

Tetapi semua itu hanya sebatas isu dan spekulasi, bukan fakta yang telah terbukti.

Tanpa bukti yang kuat, tuduhan semacam itu tidak bisa dijadikan kesimpulan. Sebab dalam kehidupan organisasi, sebuah isu yang terus diulang dapat berubah seolah-olah menjadi fakta, padahal belum tentu demikian.

Karena itu, barangkali pertanyaan tentang motif Miftahul Achyar tidak perlu dijawab dengan prasangka.

Biarlah sejarah yang kelak memberikan penilaiannya.

Yang dapat dilihat sekarang adalah tindakannya: ia memiliki tujuan, ia memperjuangkannya, dan ia berhasil mencapainya.

Pelajaran yang Jarang Dibicarakan

Ada sisi lain yang mungkin lebih penting daripada perdebatan tentang apakah seseorang terlalu ambisius atau tidak.

Miftahul Achyar menunjukkan bahwa dalam perjuangan organisasi, ketahanan mental adalah modal yang sangat besar.

Banyak orang berhenti berjuang bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena terlalu cepat menyerah ketika mendapatkan tekanan.

Begitu dicaci, mundur. Begitu dibully, kehilangan kepercayaan diri. Begitu framing negatif muncul, sibuk membela diri. Begitu dukungan berkurang, memilih meninggalkan arena.

Miftahul Achyar mengambil jalan yang berbeda. Ia tampaknya memilih membiarkan orang berbicara apa saja, sementara ia tetap bekerja.

Dalam bahasa sederhana: orang boleh berkata apa saja, tetapi tujuan tidak boleh hilang dari fokus perjuangan.

Tentu, prinsip ini tidak bisa diterjemahkan sebagai pembenaran bahwa setiap ambisi harus dipaksakan. Dalam organisasi, ambisi tetap harus dibatasi oleh etika, aturan, kepentingan jamaah dan kemaslahatan yang lebih luas.

Namun apabila seseorang memiliki keyakinan terhadap sebuah tujuan dan menempuh jalan yang sah untuk mencapainya, kegigihan merupakan kualitas yang patut dihargai.

Miftahul Achyar telah mendapatkan apa yang ia perjuangkannya. Karena itu, setelah kemenangan di Muktamar ke-35 NU, tantangannya justru menjadi jauh lebih berat.

Ketika masih menjadi kandidat, seseorang boleh berbicara tentang perjuangan memenangkan mandat. Tetapi ketika mandat sudah berada di tangan, ukuran keberhasilan berubah. Tidak lagi cukup membuktikan bahwa dirinya mampu memenangkan pertarungan. Ia harus membuktikan bahwa dirinya mampu menjalankan amanah.

Publik NU akan menunggu apakah kegigihan yang selama ini digunakan untuk mendapatkan posisi Rais Aam akan berubah menjadi kegigihan memperbaiki organisasi?

Apakah energi konsolidasi yang sebelumnya diarahkan untuk memenangkan mandat akan digunakan untuk merawat persatuan jam’iyah dan jamaah?

Apakah kekuatan jaringan yang berhasil dibangun akan menjadi modal untuk memperkuat jam’iyah, bukan sekadar mempertahankan kelompok?

Penting untuk diingat. Kemenangan dalam sebuah kontestasi hanya berlangsung sesaat. Tetapi amanah kepemimpinan berlangsung bertahun-tahun dan meninggalkan jejak sejarah.

Sejarah akan Menilai

Miftahul Achyar boleh jadi akan tetap menjadi figur yang kontroversial. Ada yang menyukainya, ada yang mengkritiknya, dan ada pula yang sejak awal tidak menginginkannya kembali menjadi Rais Aam PBNU.

Itu semua bagian dari dinamika organisasi.

Namun satu hal patut dicatat, ia telah menunjukkan kegigihan yang tidak banyak dimiliki orang.

Ia tidak mudah tumbang oleh cacian. Tidak cepat menyerah karena bullyan. Tidak menghabiskan seluruh energinya untuk membalas serangan. Ia memilih bertahan, membangun konsolidasi, menyusun strategi dan terus bergerak hingga keinginannya tercapai.

Dalam hidup dan organisasi, tidak semua orang akan menyukai pilihan kita. Tidak semua orang akan mendukung perjuangan kita. Bahkan sering orang-orang terdekat kita justru meragukan langkah yang kita ambil.

Tetapi selama tujuan itu diperjuangkan melalui jalan yang benar, dengan ketekunan, kesabaran dan strategi, seseorang tidak harus berhenti hanya karena suara-suara di sekelilingnya menyuruhnya berhenti.

Miftahul Achyar telah menunjukkan satu hal: kegigihan dapat mengubah keinginan menjadi kenyataan.

Itulah yang bisa dan layak dicontoh dari kegigihan KH. Miftakhul Achyar.

Oleh: Gus Damas Alhasy, SS.

 

Related posts