TAMBAKBERAS, JOMBANG — Berawal dari kebiasaan sederhana berkumpul dan menikmati secangkir kopi, Asparagus tumbuh menjadi sebuah ruang silaturahmi yang mempertemukan para gawagis—putra para kiai dan pengasuh pondok pesantren—dari berbagai latar belakang.
Asparagus terbentuk pada 2008. Pada awalnya, komunitas ini tidak lahir dengan agenda besar. Para gawagis hanya berkumpul, berbincang, dan ngopi bersama. Namun, seiring waktu, pertemuan tersebut mulai diisi dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Dari sinilah muncul semangat untuk menjadikan kebersamaan bukan sekadar pertemuan informal, tetapi sebagai gerakan yang membawa manfaat lebih luas.
Misi utama Asparagus adalah menghadirkan aura pesantren yang dikelola oleh para gawagis untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah gerakan yang memberikan dampak positif, baik bagi pesantren maupun masyarakat.
Menariknya, Asparagus dibangun di atas semangat kebersamaan yang tidak dibatasi oleh perbedaan model pesantren maupun pilihan politik. Para gawagis dipertemukan oleh satu kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari generasi penerus perjuangan para kiai dan pengasuh pesantren.
Perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan. Setiap gawagis membawa pengalaman, tradisi, pemikiran, dan persoalan yang berbeda dari pesantren masing-masing. Semua itu dapat menjadi bahan untuk saling belajar dan memperkaya wawasan.
Semangat tersebut kembali terlihat dalam kegiatan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Super, yang menjadi salah satu wahana penting untuk mempertemukan para gawagis dari berbagai daerah.
Silatnas kali ini memiliki suasana yang istimewa karena digelar berbarengan dengan rangkaian Muktamar ke-35 NU. Kegiatan tersebut bertempat di kawasan Tambakberas, Jombang, salah satu kawasan pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pendidikan dan perjuangan Nahdlatul Ulama.
Silatnas ini juga mendapat sambutan hangat dari tuan rumah, Gus Wahab, yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan dan penerimaan para gawagis dari berbagai penjuru Nusantara.
Lebih dari 500 gawagis hadir dalam Silatnas tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh penjuru Nusantara, membawa semangat yang sama untuk memperkuat silaturahmi, memperluas jejaring persaudaraan, serta saling berbagi pengalaman mengenai kehidupan dan pengelolaan pesantren.
Kehadiran ratusan gawagis tersebut menunjukkan bahwa semangat persaudaraan putra-putra kiai memiliki energi yang besar. Mereka tidak hanya berkumpul untuk bernostalgia atau bertemu sesama, tetapi juga membawa harapan agar jejaring gawagis dapat menjadi kekuatan yang memberikan manfaat lebih luas.
Mewakili gawagis Sumatera Selatan, hadir KH. Abdullah Asad Basyaiban, Lc., yang juga menjabat sebagai Ketua PW LDNU Sumatera Selatan, serta Gus Damas Alhasy, S.S., yang merupakan Sekretaris PW LDNU Sumatera Selatan.
Menurut KH. Abdullah Asad Basyaiban, silaturahmi antargawagis melalui kegiatan seperti Silatnas Super perlu terus dilestarikan. Baginya, pertemuan tersebut bukan hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga menjadi wahana untuk saling mengenal lebih dekat antargawagis.
“Silaturahmi gawagis melalui acara seperti Silatnas Super ini perlu terus dilestarikan sebagai wahana untuk mengenal antargawagis,” demikian semangat yang disampaikannya.
Pandangan serupa disampaikan Gus Damas Alhasy. Ia berharap kegiatan silaturahmi antargawagis dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Menurutnya, esensi silaturahmi tidak berhenti pada pertemuan secara fisik, tetapi juga harus melahirkan pertukaran pengalaman dan gagasan.
Silaturahmi, dalam pandangan tersebut, menjadi ruang untuk bertukar pikiran, berbagi pengalaman dalam mengelola pesantren, sekaligus membaca berbagai tantangan yang dihadapi generasi penerus pesantren di tengah perubahan zaman.
“Silaturahmi seperti ini diharapkan terus dilakukan, bukan sekadar bertemu, tetapi juga bertukar pengalaman dan pikiran,” menjadi pesan penting yang mengemuka.
Silatnas di kawasan Tambakberas tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana tradisi pesantren mampu mempertemukan generasi penerusnya dalam suasana persaudaraan. Di tengah momentum besar Muktamar ke-35 NU, para gawagis hadir dari berbagai penjuru Indonesia, membawa identitas dan pengalaman masing-masing, namun bertemu dalam satu ikatan kekeluargaan.
Asparagus pada akhirnya menunjukkan bahwa sebuah gerakan besar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ia bisa berawal dari hal yang sangat sederhana: duduk bersama, berbincang, dan menikmati secangkir kopi.
Dari obrolan sederhana itu tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahir silaturahmi. Dan dari silaturahmi, terbuka peluang untuk membangun gerakan yang lebih luas.
Para gawagis sebagai generasi penerus para kiai memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai pesantren. Mereka tidak hanya mewarisi nama besar dan tradisi keilmuan para pendahulunya, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Di tengah beragamnya model pesantren dan perbedaan pilihan politik, Asparagus menghadirkan pesan sederhana namun kuat: persaudaraan dan silaturahmi dapat menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi, bertukar gagasan, dan melahirkan kemanfaatan.
Dari Sumatera Selatan hingga berbagai penjuru Nusantara, semangat itu menjadi pengingat bahwa masa depan pesantren tidak hanya dibangun di ruang-ruang pengajian, tetapi juga melalui jejaring persaudaraan para penerusnya.
Asparagus pun terus membawa spirit tersebut—dari secangkir kopi, menuju silaturahmi; dari silaturahmi, menuju gagasan; dan dari gagasan, menuju gerakan yang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pesantren dan masyarakat. (Gus Damas Alhasy/SN)
