Aspirasi SantriEditor's PicksKail (Kajian Ilmu)Tanya Ustadz

Ketika Peringatan Haul Dibajak Ba’alawi dan Menjadi Ajang Panen Cuan

Acara haul pada dasarnya adalah peringatan tahunan atas wafatnya seseorang—biasanya seorang ulama, guru, atau tokoh agama yang berjasa besar bagi masyarakat. Dalam tradisi pesantren, terutama di kalangan Nahdliyin, haul bukan sekadar ritual seremonial, melainkan wujud penghormatan kepada orang saleh yang telah mewariskan ilmu, akhlak, dan amal kebaikan bagi umat.

Di balik lantunan doa, tahlil, dan tausiyah, haul sejatinya adalah momentum muhasabah—refleksi diri untuk meneruskan perjuangan sang tokoh.

Namun dalam dua dekade terakhir, makna haul di Indonesia tampak mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Fenomena ini terutama terlihat pada acara-acara haul yang diselenggarakan oleh kelompok habaib atau keturunan Yaman, khususnya dari klan Ba‘alawi.

Haul bukan lagi sebatas peringatan spiritual, tetapi telah berubah menjadi peristiwa sosial-keagamaan berskala besar—dengan mobilisasi massa, panggung megah, dan perputaran dana yang tidak kecil.

Dari Doa ke Panen Massa

Dalam banyak kasus, acara haul yang diselenggarakan oleh kelompok habaib bukan lagi sekadar mengenang seorang tokoh, tetapi telah menjelma menjadi “event tahunan” yang menggerakkan ribuan, bahkan ratusan ribu jamaah.

Tidak jarang, haul diselenggarakan atas nama kota tertentu—misalnya “Haul Solo”, “Haul Gresik”, atau “Haul Malang”—padahal tokoh yang dihauli tidak memiliki keterkaitan historis atau geografis dengan wilayah tersebut.

Di sinilah muncul kejanggalan. Jika konsep haul dimaknai sebagai peringatan wafat seorang tokoh, seharusnya lokasi dan penyelenggaraannya memiliki relevansi historis: tokoh itu pernah berdakwah, dimakamkan, atau berjuang di wilayah tersebut.

Ketika haul “diimpor” ke kota lain yang tidak memiliki hubungan langsung, maka fungsi haul pun bergeser dari tabarruk (mengharap berkah) menjadi branding event—suatu bentuk mobilisasi sosial yang tak jarang bermuara pada kepentingan material.

Aspek Ekonomi di Balik Sakralitas

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap kegiatan besar keagamaan tentu membutuhkan dana besar. Namun pada sebagian acara haul, fenomena “kotak amal berlimpah” sering kali menjadi cerita di balik layar. Dari kotak infaq, sponsor, hingga penjualan atribut haul, acara ini menghasilkan perputaran uang yang signifikan.

Ironisnya, sebagian masyarakat tidak menyadari bahwa acara yang dikemas sebagai zikir dan cinta ulama tersebut bisa menjadi ladang ekonomi yang subur bagi segelintir pihak. Sakralitas haul perlahan digantikan oleh semangat ekonomi keagamaan yang tidak selalu sehat.

Padahal, jika semangat haul kembali kepada maknanya semula—mendoakan dan meneladani perjuangan orang saleh—acara ini akan menjadi momentum spiritual yang menguatkan nilai-nilai keikhlasan dan kebersamaan umat.

Haul dan Identitas Kultural Pesantren

Tradisi haul adalah warisan panjang pesantren dan masyarakat Ahlussunnah wal Jamaah. Di tangan para ulama lokal, haul dijalankan dengan sederhana, khidmat, dan berorientasi pada nilai keilmuan serta sosial. Biasanya, momentum haul juga dijadikan ajang silaturahmi antarpesantren dan forum penguatan ukhuwah Islamiyah.

Namun ketika haul diambil alih menjadi event besar dengan merek dagang, maka ruh kesederhanaan dan lokalitasnya mulai hilang. Yang tersisa hanyalah simbolisme: spanduk besar, panggung megah, dan lautan manusia yang lebih sibuk merekam dengan ponsel daripada merenungi maknanya.

Mengembalikan Haul ke Ruhnya

Tidak salah mengadakan haul dengan meriah, selama maknanya tetap terjaga: menghormati, bukan mengkomersialisasi; mendoakan, bukan mengekspolitasi. Karena itu, penting untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip etis dalam penyelenggaraan haul:

  1. Relevansi sejarah dan tokoh. Haul harus diadakan untuk tokoh yang benar-benar berjasa di daerah tersebut, bukan sekadar “import tokoh” untuk kepentingan simbolik.
  2. Transparansi dan niat. Dana yang terkumpul hendaknya digunakan untuk kepentingan sosial, pendidikan, dan dakwah yang nyata.
  3. Kesederhanaan dan kekhidmatan. Semakin sederhana, semakin tinggi nilai spiritualnya.
  4. Pendidikan umat. Haul semestinya menjadi forum pembelajaran tentang perjuangan, bukan hanya ajang keramaian massal.

Haul bukanlah festival, melainkan doa dan teladan. Ia seharusnya menjadi cermin cinta umat kepada orang saleh yang telah mendidik dan menuntun mereka kepada Allah. Jika makna ini dijaga, maka haul akan tetap menjadi cahaya bagi peradaban Islam di Nusantara—bukan sekadar panggung panen raya. (SN)

Related posts