Santri Generasi Z atau Gen Z hidup di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, mereka harus menjadi penerus tradisi panjang keilmuan pesantren yang berakar pada kesungguhan, ketekunan, dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Namun di sisi lain, mereka merupakan produk zaman digital — sebuah era di mana semua serba cepat, praktis, dan instan.
Dua dunia ini sering kali bertabrakan, menimbulkan dilema besar bagi santri masa kini: apakah mereka siap berproses dengan sabar untuk menjadi hebat, ataukah lebih memilih jalan pintas untuk mendapatkan segalanya dengan cepat?
Generasi Z tumbuh bersama gadget di tangan, dunia maya di depan mata, dan algoritma yang memanjakan sekaligus menumpulkan daya juang. Apa pun yang mereka ingin ketahui bisa didapatkan dalam hitungan detik melalui Google, YouTube, atau AI.
Akibatnya, sebagian dari mereka merasa tidak perlu lagi bersusah payah belajar.
“Ngapain ngaji kitab tebal-tebal, semua sudah ada di internet,” begitu kira-kira logika praktis yang sering muncul.
Padahal, ilmu sejati tidak hanya tentang informasi, tetapi tentang pembentukan akhlak, kedalaman makna, dan kemampuan berpikir jernih — sesuatu yang tak bisa diunduh dari mesin pencari atau AI.
Di sinilah peran pesantren menjadi sangat penting. Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab atau menghafal ayat, melainkan madrasah kehidupan tempat santri ditempa untuk kuat mental, disiplin waktu, dan teguh prinsip.
Di balik jadwal padat, disiplin ketat, dan kehidupan sederhana, tersimpan proses panjang pembentukan karakter yang menjadi fondasi hidup mereka kelak.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat santri Gen Z tetap mau bertahan di pesantren untuk menempuh jalur proses ini — di tengah dunia luar yang menawarkan hiburan, kebebasan, dan kesenangan instan.
Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah banyak remaja yang memilih hidup bebas di luar pondok. Mereka menghabiskan waktu dengan nongkrong, keluyuran, main game, atau sekadar bersenang-senang tanpa arah.
Sementara di pondok, hidup mereka diatur dan diarahkan untuk tumbuh dalam lingkungan yang serba ada tertib: bangun pagi untuk shalat berjamaah, mengaji, menghafal, berdiskusi, bekerja sama, atau belajar menghargai orang lain.
Semua aturan dan rutinitas itu sesungguhnya adalah laboratorium pembentukan manusia berilmu dan berakhlak. Tapi bagi sebagian Gen Z, proses panjang seperti itu terasa menjemukan.
Padahal, dalam dunia nyata, sukses sejati tidak bisa dibangun di atas keinstanan. Dunia kerja, dunia sosial, bahkan dunia spiritual sekalipun menuntut proses, ketekunan, dan kedewasaan berpikir. Semua hal hanya bisa tumbuh jika seseorang terbiasa hidup dalam ritme yang teratur dan bernilai.
Di sinilah pondok menjadi benteng terakhir pembentuk generasi yang tangguh menghadapi derasnya arus modernitas.
Orang tua juga harus berperan, bahkan lebih penting. Dukungan mereka bukan sekadar dalam bentuk biaya pendidikan, tetapi juga ketegasan sikap. Banyak santri yang sebenarnya ingin tetap mondok, tetapi akhirnya keluar karena godaan teman-teman sebaya yang hidup di luar pondok.
Untuk menghadapi situasi seperti itu, dibutuhkan sikap tegas orang tua. Ketegasan orang tua dalam mendampingi proses belajar anak sama pentingnya dengan kesabaran anak dalam menempuh proses pendidikan.
Kini, pertarungan yang dihadapi santri Gen Z bukan lagi antara “mau sekolah atau tidak”, tetapi antara “mau berproses atau ingin serba instan”. Pilihan ini akan menentukan masa depan mereka — apakah akan menjadi generasi tangguh yang siap memimpin dengan ilmu, adab, dan keikhlasan, atau hanya menjadi pengguna teknologi yang canggih tetapi rapuh secara mental dan spiritual.
Pesantren hari ini bukan hanya sebuah lembaga pendidikan agama, tetapi benteng peradaban yang menjaga nilai-nilai dasar manusia.
Di tengah dunia yang serba cepat, pesantren tetap menjadi pilihan pendidikan terbaik karena pesantren mengajarkan pentingnya sebuah proses: bahwa ilmu tidak didapat dalam semalam, bahwa karakter tidak tumbuh dari kenyamanan, dan bahwa kebahagiaan sejati itu lahir dari kesungguhan berjuang.
Santri Gen Z harus menyadari bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat mereka mendapatkan hasil, tetapi seberapa kuat mereka bertahan dalam proses.
Dalam dunia yang serba instan ini, proses adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar mau menjadi manusia seutuhnya. (SN)
Penulis: Gus Damas Alhasy, SS
