Editor's PicksKail (Kajian Ilmu)MaklumatMasyayikh

JATMA vs JATMAN dan Upaya Sistematis Klan Ba‘alwi Rebut NU

Fenomena keberagamaan umat Islam di Indonesia selalu diwarnai dinamika tarik-menarik antara otoritas lokal—yang diwakili ulama pribumi, kiai pesantren, dan organisasi tradisional seperti Nahdlatul Ulama—dengan kelompok-kelompok pendatang yang membawa agenda berbeda.

Dalam konteks ini, munculnya JATMA (Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah), berdiri pada April 2025, yang mereplikasi JATMAN (Jam‘iyyah Ahlith Thariqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyyah) tidak bisa dilepaskan dari misi besar klan Ba‘alwi di Indonesia yang dikomandani Habib Luthfi bin Yahya.

Di balik retorika spiritualitas, misi mereka sejatinya adalah merebut jamaah NU, menguasai panggung tarekat, dan pada ujungnya menguasai umat Islam Indonesia. Strategi ini tidak berlangsung acak, melainkan sistematis, bertahap, dan penuh infiltrasi.

1. Sistematis: Dari Panggung Sholawat hingga Haul Kota

Kaum Ba‘alwi dengan cerdik memanfaatkan momentum panggung sholawat yang digandrungi umat. Melalui panggung ini, mereka menampilkan diri sebagai figur sentral, padahal tradisi sholawat itu sendiri berakar kuat dari budaya pesantren dan tradisi kiai Nusantara.

Dari panggung sholawat inilah massa umat diarahkan, ditanamkan doktrin penghormatan mutlak pada dzurriyah Ba‘alwi, hingga perlahan menyingkirkan peran ulama-ulama pribumi.

Selain itu, mereka memperkenalkan praktik Haul Kota. Sebuah agenda besar tahunan yang mengatasnamakan sebuah kota, meski tokoh yang dihauli tidak memiliki kontribusi langsung terhadap kota tersebut.

Dengan strategi ini, kota-kota besar di Indonesia seakan menjadi “wilayah kekuasaan” spiritual Ba‘alwi. Perlahan, umat dipaksa menerima bahwa wajah Islam di kota-kota besar identik dengan Habib-Habib Ba‘alwi.

2. Pemalsuan Sejarah dan Manipulasi Simbol

Lebih jauh lagi, strategi mereka, tak taku-takut atau tanggung-tanggung lagi, menyentuh ranah sejarah dan simbol keagamaan.

Makam-makam ulama, kiai dan tokoh pribumi tiba-tiba diberi nisan baru dengan nama-nama Ba‘alwi,dan menempelkan silsilah palsu di pusara keramat ulama lokal. Tujuannya, melalui cara ini, jamaah atau umat  diarahkan untuk percaya bahwa warisan spiritual Indonesia adalah milik mereka.

Demikian pula dalam narasi sejarah, tidak jarang mereka menyisipkan klaim bahwa berdirinya NKRI, perjuangan ulama NU, bahkan sejarah kerajaan Islam Nusantara, tak lepas dari kontribusi dzurriyah Ba‘alwi.

Padahal, fakta historis menunjukkan, yang paling berperan adalah kiai dan ulama pribumi yang berjuang dengan darah dan tenaga tanpa mengandalkan klaim keturunan.

3. Klaim Nasab: Antara Doktrin dan Realitas

Kunci dari semua strategi ini adalah doktrin nasab. Kaum Ba‘alwi mengklaim sebagai dzurriyah Nabi Muhammad SAW, yang karenanya wajib dimuliakan. Mereka menanamkan kepada para muhibbin bahwa menolak kemuliaan mereka sama saja dengan menolak Nabi, bahkan dianggap kafir.

Doktrin ini jelas berbahaya karena mereduksi kemuliaan agama hanya pada darah keturunan, bukan pada amal dan ilmu.

Padahal, berdasarkan kajian akademik Tesis KH Imduddin Utsman dan penelitian genealogi menunjukkan, klaim nasab tersebut tidak memiliki bukti manuskrip yang sezaman (abad 3–8 H). Justru nasab itu baru “disambungkan” pada abad ke-9 H, sebuah indikasi kuat adanya rekayasa.

Bahkan hasil tes DNA modern menyingkap fakta yang mengejutkan, bahwa garis keturunan Ba‘alwi bukan Arab Quraisy, melainkan tersambung dengan klan Yahudi Askenazi. Maka secara ilmiah, ini adalah bukti bahwa klaim mereka sebagai cucu Nabi putus, rungkad dan bermasalah.

4. Agenda Besar: Menguasai NU dan Indonesia

Mengapa semua ini mereka lakukan?

NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jumlah yang kurang lebih 50% dari jumlah muslim di negeri ini; dan mereka sangat setia pada kiai-kiai lokal.

Dengan menyusup melalui tarekat dan ormas NU, menguasai panggung keagamaan, serta mendominasi narasi sejarah dan simbol spiritual, klan Ba‘alwi sedang bekerja membangun legitimasi sosial.

Jika umat terus terperdaya, tidak menyadari dan tunduk pada klaim nasab mereka, pada akhirnya NU akan kehilangan ruhnya sebagai ormas Ahlussunnah wal Jama‘ah an-Nahdliyah, dan berubah menjadi alat kepentingan kelompok kecil yang mengatasnamakan darah keturunan.

Ujung dari semua ini adalah penguasaan atas umat Islam Indonesia, sebuah proyek jangka panjang untuk mendapatkan legitimasi klaim, kemuliaan status sosial dan pengaruh tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, tanpa ilmu sebagaimana ditempuh kiai-kiai dan ulam-ulama pribumi.

5. Pentingnya Kesadaran Umat

Masyarakat perlu tercerahkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh nasab, melainkan oleh ilmu, amal, dan perjuangan. Islam menegaskan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka, umat harus waspada. Jangan mudah terbuai oleh simbol, pakaian, atau klaim keturunan. Tugas besar NU adalah menjaga warisan kiai pribumi, pesantren, tarekat mu‘tabarah, dan sejarah bangsa agar tidak dicaplok oleh agenda kelompok yang hanya mengandalkan klaim nasab.

Fenomena JATMA yang mereplikasi JATMAN hanyalah puncak gunung es dari agenda panjang klan Ba‘alwi untuk menguasai NU, umat Islam Indonesia dan NKRI. Dengan strategi sistematis—dari panggung sholawat, haul kota, manipulasi makam, hingga doktrin nasab—mereka berusaha memaksakan legitimasi yang tidak memiliki dasar sejarah dan ilmiah.

Kini, umat dituntut untuk cerdas, kritis, dan tidak mudah ditipu oleh retorika kesalehan semu yang bermodal balutan jubah.

Islam Nusantara adalah milik kiai, ulama, dan santri pribumi yang berjuang dengan darah dan air mata. Jangan biarkan warisan suci itu dirampas oleh kelompok yang hanya menjual klaim keturunan, yang ternyata nasabnya rungkad. (Gus Damas/SN)

Related posts