Editor's PicksInfo PesantrenKaderisasiKail (Kajian Ilmu)Kronika

Uswatun Hasanah, Cara Menampilkan Islam di Tengah Gen Z

Di era digital yang serba cepat dan global saat ini, dunia Islam di Indonesia sedang menghadapi tantangan peradaban baru yang tak bisa dianggap remeh: gelombang hedonisme yang melanda generasi muda, khususnya generasi Z.

Gen Z adalah generasi yang lahir di tengah kemajuan teknologi, tumbuh dengan arus informasi tanpa batas — namun sering kali tanpa filter nilai. Mereka lebih mengenal influencer daripada ulama, lebih terpikat oleh trending sounds daripada tilawah Al-Qur’an.

Fenomena ini bukan sekadar gejala sosial, melainkan gejala spiritual. Generasi yang kehilangan arah nilai akan mudah terseret oleh budaya pamer, konsumtif, dan permisif.

Inilah peringatan bagi kita semua — bahwa Islam di Indonesia bisa kehilangan ruhnya jika para pemimpin, tokoh, ulama, dan orang tua tidak segera mengambil peran serius dalam mengembalikan arah pendidikan dan dakwah umat.

Islam Tidak Akan Lenyap, Tapi Bisa Ditinggalkan

Islam adalah agama yang dijaga oleh Allah. Tetapi umatnya bisa jauh dari ruh Islam jika tidak dipelihara dengan kesadaran dan keteladanan.

Hari ini, banyak pemuda Muslim yang bangga memakai busana syar’i, tetapi hatinya kosong dari makna. Banyak yang lantang menulis quote islami di media sosial, namun perilakunya terjebak dalam pencarian validasi dunia maya.

Ini bukan salah mereka sepenuhnya. Ini adalah cermin kegagalan kolektif — kegagalan para pendidik, pemimpin, dan orang tua dalam menerjemahkan Islam menjadi gaya hidup yang relevan, logis, dan menggembirakan.

Kita sibuk menyuruh mereka “menjadi baik”, tetapi lupa menunjukkan bagaimana caranya menjadi baik di zaman yang berbeda ini, kita tidak memberikan uswatun hasanah kepada mereka.

Ulama dan Dai: Dari Mimbar ke Layar Digital

Dulu, mimbar dan majelis adalah pusat pencerahan umat. Sekarang, layar ponsel adalah mimbar baru.
Sayangnya, banyak tokoh agama masih enggan masuk ke ranah itu dengan alasan “bukan tempat berdakwah”.

Padahal justru di situlah anak-anak muda berkumpul, tertawa, dan mencari makna hidupnya. Untuk itu, sudah saatnya para ulama dan kyai melakukan transformasi menuju dakwah digital:

  • Membumikan ajaran Islam lewat video pendek yang menyentuh, bukan menghakimi.
  • Menyebarkan hikmah lewat podcast, konten edukatif, dan media sosial.
  • Mengemas pesan Qur’ani dengan narasi yang hangat, logis, dan menggembirakan.

Ulama sejati bukan hanya mereka yang berbicara di podium, tetapi yang berani menyapa hati umat di mana pun umat berada.

Jadikan Islam Arah Peradaban, Bukan Sekadar Simbol

Krisis moral dan spiritual generasi muda tidak lepas dari keteladanan yang lemah di tingkat atas.
Ketika pemimpin berbicara tentang iman tetapi hidup dalam kemewahan, pesan moral kehilangan daya. Ketika tokoh publik hanya menjadikan Islam sebagai identitas politik, generasi muda melihat agama sebagai alat, bukan petunjuk.

Maka, pemimpin sejati hari ini bukan yang paling banyak slogan religiusnya, tetapi yang berani mencontohkan kesederhanaan, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Islam tidak butuh pemimpin yang pandai beretorika, tetapi pemimpin yang menyalakan kembali nurani umat lewat keteladanan nyata.

Keluarga Adalah Madrasah Pertama

Jika masjid adalah pusat ibadah, maka rumah adalah pusat akhlak. Banyak anak yang kehilangan arah karena orang tuanya lebih sibuk dengan gadget daripada dengan percakapan. Mereka mendengar nasihat agama di sekolah, tetapi tidak melihatnya di rumah.

Islam tidak akan tumbuh di hati anak jika tidak ada kehangatan iman di meja makan. Orang tua harus kembali menjadi murabbi, bukan hanya penyedia kebutuhan material. Jadilah sahabat bagi anak-anak, bukan pengawas yang menakutkan. Jadikan rumah tempat cinta kepada Allah dirasakan, bukan hanya diajarkan.

Pesantren, Pusat Peradaban Spiritual Baru

Pesantren dan lembaga keislaman perlu membaca zaman. Santri hari ini adalah calon pemimpin dunia digital, bukan hanya penjaga kitab kuning.

Maka, pesantren harus menjadi laboratorium masa depan yang melahirkan ulama–intelektual, ahli Qur’an yang juga kreator, dan da’i yang juga inovator.

Bayangkan jika setiap pesantren memiliki kanal dakwah digital, tim kreatif santri, dan gerakan sosial yang aktif di masyarakat. Maka wajah Islam Indonesia akan kembali bersinar dengan indah — penuh hikmah, bukan amarah; penuh ilmu, bukan ilusi.

Menghadirkan Islam yang Menyejukkan

Generasi muda tidak menolak Islam; mereka menolak wajah Islam yang keras dan kaku. Oleh karena itu, dalam menampilkan Islam, kita harus kembali pada spirit Rasulullah ﷺ — penuh kasih, santun, dan humanis. Beliau tidak menaklukkan hati dengan ancaman, tetapi dengan akhlak.

Islam harus kembali hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) — membawa keindahan, bukan ketegangan. Jika kita mampu menunjukkan bahwa menjadi Muslim berarti menjadi manusia terbaik, maka generasi Z akan datang sendiri mendekat kepada agamanya.

Krisis nilai yang melanda generasi muda (Gen Z) bukan akhir dari segalanya, melainkan tanda bahwa umat Islam harus berbenah. Kita tidak boleh hanya mengeluh dari jauh, tetapi harus bergerak bersama:

  • Ulama berdakwah dengan hikmah dan media baru,
  • Pemimpin memberi teladan dan arah,
  • Orang tua menanamkan kasih dan akhlak,
  • Lembaga pendidikan menumbuhkan iman dan ilmu,
  • Dan generasi muda diberi ruang untuk tumbuh menjadi duta Islam yang bijak dan kreatif.

Jika semua pihak bersinergi, maka Islam di Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi akan tumbuh menjadi mercusuar peradaban modern yang berakar pada nilai Ilahi.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
(سورة الرعد: ١١)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

(Gus Damas Alhasy/SN).

Related posts