Dawuh GuruKaderisasiMaklumatPolitik

Sejarah Berdirinya PWI-LS, Ormas Perjuangan Walisongo Indonesia

Rentetan tekanan dan persekusi terhadap para ulama melahirkan satu gerakan perlawanan. Pada 29 Agustus 2023, sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama mendirikan organisasi bernama Perjuangan Walisongo Indonesia – Laskar Sabilillah (PWI-LS) di Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.

Sejarah Lahirnya PWI LS bukanlah peristiwa biasa. Di balik deklarasi itu, ada deretan tokoh besar yang lebih dulu bergerak.

KH Abbas dari Buntet Cirebon dan KH Imaduddin Utsman Al Bantani mendatangi satu per satu kiai sepuh dan ulama kharismatik.

Silaturrahim ke Kiai Sepuh: Minta Restu Perjuangan

Jauh sebelum organisasi itu resmi berdiri, kedua tokoh tersebut melakukan safari ke berbagai pesantren dan ulama. Mereka menemui para kiai sepuh, di antaranya:

  • Abuya Muhtadi Dimyathi, mufti Mazhab Syafi’i asal Pandeglang,
  • KH Said Aqil Siradj, mantan Ketua Umum PBNU,
  • KH Ali Masyhuri dari Sidoarjo,
  • Gus Muwaffiq dari Yogyakarta,
  • Gus Nuril Arifin dari Pesantren Soko Tunggal, dan
  • KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang.

Langkah itu bertujuan menghimpun kekuatan spiritual dan moral dari para ulama yang dikenal luas di kalangan nahdliyin dan masyarakat santri.

PWI-LS: Menyatukan Ulama, Ksatria, dan Laskar

Setelah restu didapat, para pendiri sepakat mendirikan PWI-LS. Gerakan ini merupakan reaksi atas maraknya tindakan persekusi terhadap ulama yang mereka sebut dilakukan oleh kelompok ekstrem yang dijuluki “Front Pemuja Iblis”.

PWI-LS tidak hanya bergerak dalam wilayah dakwah. Mereka juga membentuk struktur pertahanan sipil berbasis komunitas yang diberi nama Laskar Sabilillah.

Nama ini diambil dari semangat jihad fi sabilillah—berjuang di jalan Tuhan, tanpa mengangkat senjata kecuali untuk membela kebenaran.

Dukungan Duo Ksatria PBNU: Gus Muwaffiq dan Gus Nuril

Pendirian PWI-LS mendapat pengawalan langsung dari dua tokoh penting, Gus Muwaffiq dan Gus Nuril Arifin.

Keduanya dikenal sebagai pengawal almarhum Gus Dur dan memegang peran penting sebagai Panglima PBM (Pasukan Berani Mati).

Gus Muwaffiq menggerakkan pasukan dari Pagar Nusa badan otonom NU di bidang bela diri dan keamanan pesantren.

Sementara Gus Nuril mengerahkan kekuatan dari Pasukan Garuda Nusantara, kelompok yang telah lama bergerak di bidang sosial-keagamaan dan pertahanan komunitas.

Didukung Kesultanan: Mataram Bersatu dengan Ulama

Tak lama setelah berdiri, PWI-LS mendapat dukungan dari Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Cirebon. Dukungan itu tidak hanya simbolis, melainkan juga berbentuk kekuatan pertahanan berbasis budaya.

Kesultanan mengirimkan dua pasukan utama, yaitu Laskar Alap-Alap Mataram dan Laskar Mataram Raya.

Kehadiran dua kekuatan tradisional ini menjadi sinyal kuat bahwa perjuangan PWI-LS bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan gerakan yang disusun secara terstruktur dengan akar kuat pada sejarah dan kearifan lokal.

Salah satu sosok sentral dalam PWI-LS adalah Abuya Muhtadi Dimyathi. Ulama asal Pandeglang ini dikenal luas sebagai mufti Mazhab Syafi’iyah. Pengaruhnya sangat besar, terutama di kalangan pesantren Banten dan Jawa Barat.

Abuya tercatat sebagai salah satu pendiri PWI-LS. Keterlibatannya memberi legitimasi keagamaan yang kuat terhadap gerakan ini.

PWI-LS hadir sebagai respons terhadap ancaman terhadap para ulama. Meski belum banyak diekspos media nasional, keberadaan mereka telah mencuri perhatian berbagai kalangan. Mereka mengusung semangat perjuangan para Wali Songo, membentengi ulama, dan menegakkan nilai-nilai keislaman yang toleran.

Dengan dukungan ulama, ksatria, hingga kesultanan, PWI-LS bukan hanya gerakan lokal. Ia adalah bentuk perlawanan moral terhadap radikalisme dan intimidasi yang merusak keberagaman Indonesia. (Sumber)

Related posts