Menjelang satu abad usia Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 2026, warga NU di berbagai daerah tengah sibuk menyiapkan perhelatan akbar sebagai tanda syukur. Seratus tahun merupakan tonggak penting bagi organisasi keagamaan yang telah menempuh perjalanan panjang dengan dinamika yang tidak ringan, gelombang pasang dan surut yang menempa sekaligus menguatkan karakter jam’iyyah ini.
NU bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan biasa; ia adalah rumah besar para ulama yang dibangun dari tirakat, istikharah, dan doa para muassis, terutama Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari beserta para ulama khos lain atas restu Mbah Kholil Bangkalan.
NU berdiri bukan sebagai hadiah kolonial, melainkan sebagai benteng akidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah rongrongan ideologi yang tidak sejalan.
Namun tepat menjelang perayaan 1 abad ini, keluarga besar NU justru menyaksikan gonjang-ganjing besar di tingkat elit. Dua kubu di PBNU, yang masing-masing mengklaim memiliki dasar legitimasi kuat, bergejolak dalam konflik pecat memecat.
Situasi ini membuat jamaah NU di akar rumput hanya bisa berbisik-bisik satu sama lain, bertanya dengan hati sedih: ada apa sebenarnya? Bagaimana mungkin ulama dan kiai, yang selama ini menjadi teladan ketenangan, justru tampil bertentangan di ruang publik?
Keresahan itu kemudian menemukan artikulasinya melalui suara NU kultural, yang muncul sebagai penyejuk dan penegur moral.
KH. Abdul Karim Machfudz, SH, salah satu penggerak NU kultural, mengingatkan bahwa warga NU, terutama para elit, seharusnya tidak melupakan tiga kredo jam’iyyah: tabayyun, tawasuth, dan tasamuh.
Tiga pilar inilah yang selama satu abad menjaga NU tetap teduh, bijak, dan tidak mudah terombang-ambing oleh ambisi kekuasaan.
“Tidak akan terjadi saling memecat jika para elit eling terhadap kredo tersebut,” tegas beliau, didampingi Gus Damas Alhasy saat memberikan mauidzoh konsolidasi kader NU di salah satu kecamatan, di OKU Timur.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik, tetapi sebuah seruan agar para pemimpin kembali pulang kepada nilai dasar jam’iyyah sebelum semuanya terlambat.
Meski di tingkat pusat, NU bergemuruh, ternyata tidak memadamkan ghirah kader di daerah untuk berkonsolidasi. Justru sebaliknya, kader-kader NU menunjukkan keteguhan yang mencerminkan watak asli NU sebagai organisasi yang kokoh karena jamaahnya, bukan semata-mata oleh para pemimpinnya.
Menjelang satu abad NU ini, para kader NU Sumatera Selatan bukan sibuk memperdebatkan konflik elit, tetapi justru menyiapkan “Silatda Kader NU se-Sumatera Selatan”, sebuah perhelatan besar sebagai tanda eksistensi dan kesiapan kader menghadapi tantangan zaman.
Silatda yang digagas Kyai Asrori dan KH. Drs. Syahri ini hendak menegaskan bahwa NU harus terus berharokah, karena di balik harokah itu ada berkah. Harokah, gerak yang berkesinambungan, adalah ruh yang menjadikan NU tidak stagnan.
“Kader NU harus solid dan loyal kepada Hadrotus Syaikh Mbah Hasyim Asy’ari, bukan kepada elit-elit yang saat ini sedang ada di struktural PBNU,” kata Kyai Asrori saat memotivasi para kader tingkat kecamatan Buay Madang Raya pada 26 November 2025.
Pesannya jelas: kesetiaan seorang kader bukan pada figur temporal, tetapi pada nilai dan warisan para muassis yang menjadi fondasi NU.
Senada, Ketua Kader NU Sumatera Selatan, KH. Drs. Syahri, menambahkan bahwa kader NU tidak boleh goyah oleh isu internal apa pun.
“Apapun tantangannya, sebagai kader kita harus berdiri tegak; tugas kita menjaga akidah Aswaja dan amalan-amalannya, serta tidak lengah dari infiltrasi Islam transnasional,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan kewaspadaan para kader dalam membaca peta ancaman ideologis, sekaligus menegaskan bahwa NU di daerah tetap berada di rel perjuangan yang benar.
Silatda Kader NU se-Sumatera Selatan, kata Kyai Syahri, nantinya akan mendatangkan para masyayikh dari pusat maupun daerah sebagai bentuk tabarruk sekaligus konsolidasi keilmuan, spiritualitas, dan gerakan.
Perhelatan ini bukan hanya panggung syukuran atas satu abad perjalanan NU, tetapi juga wujud nyata bahwa kader di bawah tetap solid meskipun elit di atas sedang berguncang. Karena kekuatan NU sesungguhnya memang terletak pada jamaahnya yang mencintai ulama, bukan pada jabatan struktural yang bersifat sementara. (SN)
